CONTINUOUS IMPROVEMENT
STRATEGY
DALAM MENGEMBANGKAN MUTU
PENDIDIKAN
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Sebuah
organisasi, yang memiliki kualitas tinggi, selalu berusaha untuk mencoba
memuaskan para pelanggan mereka. Komitmen manajemen puncak tidaklah cukup untuk
menghadirkan layanan/produk yang berkualitas. Masing-masing organisasi harus
menerapkan manajemen kualitas yang terintegrasi dan melibatkan setiap personil
dalam organisasi tersebut. Pada awalnya, standar ISO 9001 dibentuk sebagai
parameter bagi pabrik industri. Kemudian, kebutuhan akan penerapan manajemen
kualitas dalam pelayanan industri, yang mengacu pada standar ISO 9001, menjadi
berkembang, termasuk dalam institusi pendidikan.[1]
Mengapa
pendidikan harus bermutu? Pendidikan saat ini, dalam hal ini persekolahan,
dihadapkan pada berbagai tantangan baik nasional maupun internasional.
Tantangan Nasional muncul dari dunia ekonomi, sosial, budaya, politik, dan
keamanan.[2]
Tuntutan
akan lulusan lembaga pendidikan yang bermutu semakin mendesak karena semakin
ketatnya persaingan dalam lapangan kerja. Salah satu implikasi globalisasi
dalam pendidikan yaitu adanya deregulasi yang membuka peluang lembaga
pendidikan (termasuk perguruan tinggi asing) membuka sekolahnya di Indonesia.
Oleh karena itu persaingan di pasar kerja akan semakin berat. Mengantisipasi
perubahan-perubahan yang begitu cepat serta tantangan yang semakin besar dan
kompleks, tiada jalan lain bagi pemerintah dalam fungsinya sebagai
penyelenggara pembangunan di bidang pendidikan dan lembaga-lembaga pendidikan
untuk mengupayakan segala cara untuk meningkatkan daya saing lulusan serta
produk-produk akademik lainnya, yang antara lain dicapai melalui peningkatan
mutu pendidikan. Usaha peningkatan mutu layanan pendidikan tersebut salah satu
di antaranya adalah dengan menerapkan manajemen mutu terpadu (Total Quality Management). Penerapan
manajemen mutu dalam pendidikan ini lebih populer dengan sebutan Total Quality Education (TQE). Dasar
dari manajemen ini dikembangkan dari konsep Total Quality Management (TQM),
yang pada mulanya diterapkan pada dunia bisnis kemudian diterapkan pada dunia
pendidikan. Secara filosofis, konsep ini menekankan pada pencarian secara
konsisten terhadap perbaikan yang berkelanjutan (continuous
improvement) untuk mencapai kebutuhan dan kepuasan
pelanggan.[3]
B.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan
latar belakang masalah yang dipaparkan di atas, maka untuk memudahkan
pembahasan, dibuat
rumusan masalah sebagai berikut:
1. Apakah
definisi continuous
improvement?
2. Bagaimana
konsep
dasar continuous improvement?
3. Bagaimana
penerapan continuous
improvement di lembaga pendidikan?
C.
Tujuan
Pembahasan
Tujuan
pembahasan dalam makalah ini agar pembaca tahu tentang:
1. Definisi
continuous improvement.
2. Konsep
dasar continuous
improvement.
3. Penerapan
continuous improvement di lembaga pendidikan.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Definisi Continuous Improvement
Improvement
berasal dari kata improve yang artinya meningkat,
dimana pada dasarnya meningkat adalah berubah menjadi lebih baik. Menurut www.BrainyQoutes.com
ada beberapa definisi dari improvement, yaitu :
ü Tindakan
untuk meningkatkan, kemajuan atau pertumbuhan.
ü Tindakan
untuk membuat keuntunganatau apapun yang menguntungkan.
ü Beralih
ke sesuatu yang lebih baik atau praktis.
ü Penambahan atau perbaikan, seperti bangunan, pembukaan, saluran
air, pagar, dll, di tempat.
ü Sebuah
tambahan yang berguna, atau modifikasi,
mesin, pembuatan, atau komposisi.
ü Kemajuan
menuju yang lebih baik.[4]
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa continuous
improvement adalah peningkatan dan perbaikan yang
berkesinambungan (tiada henti) dimana mengarah
pada kemajuan yang lebih baik atau unggul.
Sebenarnya
istilah
continuous
improvement
mengacu
pada
konsep
Kaizen di Jepang. Kaizen adalah
suatu istilah dalam bahasa Jepang yang dapat diartikan sebagai perbaikan terus-menerus
atau perbaikan berkelanjutan. Perbaikan secara terus-menerus dan berkesinambungan,
dimulai dengan pengembangan tim dan harus didukung oleh tim kerja.[5]
Dalam
hal ini perbaikan bersifat sedikit demi sedikit (step by step
improvement).
Menurut
Kinlaw (1992), kegiatan
continuous
improvement
tersebut
meliputi
kepuasan
pelanggan, proses kerja, dan
performansi supplier yang
dapat didesain dan diterapkan dengan berhasil bila dikerjakan dalam tim kerja.[6]
Kaizen
harus
dilaksanakan
oleh
perusahaan
atau
organisasi yang menggunakan
filosofi
Total
Quality Management.
Kaizen merupakan
suatu kesatuan pandangan yang komprehensif dan terintegrasi.
Menurut Gazper (1994), pandangan yang komprehensif dan
terintegrasi dalam Kaizen tersebut meliputi:
berorientasi pada pelanggan, pengendalian mutu secara menyeluruh (total quality management, robotic atau menggunakan robot sebagai alat
bantu, gugus kendali mutu, sistem saran, otomatisasi, disiplin di tempat kerja,
pemeliharaan produktivitas secara menyeluruh dan terpadu, penyempurnaan dan perbaikan
mutu, tepat waktu, tanpa cacat, kegiatan kelompok-kelompok kecil, hubungan kerja
sama antar manajer dan karyawan, serta pengembangan produk.[7]
Kaizen
mempunyai
semangat mengadakan perbaikan secara terus-menerus dan berkesinambungan dengan berpedoman
pada semangat, “Hari ini harus lebih baik
dari kemarin, dan hari esuk harus lebih baik dari hari ini. Tidak boleh ada hari
yang lewat tanpa perbaikan.”
Di
Amerika kemudian muncul istilah reengineering, yang berarti
mengadakan
perombakan proses bisnis
secara total sampai
ke
akar-akarnya.[8]
Istilah
ini dimunculkan oleh orang Amerika untuk menyaingi konsep Kaizen di Jepang dan untuk melompat dari ketinggalan Amerika dari Jepang,
agar Amerika tidak terkesan selalu berada di belakang Jepang. Setelah diadakan perombakan
total maka pemeliharaan danpeningkatan secaraterus-menerus dan berkesinambungan
dapat dilaksanakan.
B.
Konsep Dasar Continuous Improvement
Perbaikan terus-menerus atau perbaikan berkesinambungan merupakan salah satu unsure penting fundamental dari TQM. Konsep perbaikan terus-menerus diterapkan baik terhadap proses, produk maupun orang yang melaksanakan perbaikan itu sendiri.
Konsep
perbaikan terus menerus dibentuk berdasarkan pada urutan dan langkah-langkah
kegiatan yang berkaitan dengan hasil output seperti produk berupa barang dan
jasa. Perhatian secara terus menerus bagi setiap langkah dalam proses kerja
sangat penting untuk mengurangi keragaman dari output dan memperbaiki keadaan.
Tujuan pertama perbaikan secara terus menerus ialah proses yang handal, dalam
arti bahwa dapat diproduksi yang diinginkan setiap saat tanpa variasi yang
diminimumkan. Apabila keragaman telah dibuat minimum dan hasilnya belum dapat
diterima maka tujuan kedua dari perbaikan proses ialah merancang kembali proses
tersebut untuk memproduksi output yang lebih dapat memenuhi kebutuhan
pelanggan, agar pelanggan puas.[9]
TQM
diwujudkan dalam rangkaian proyek-proyek berskala kecil. Filosofi TQM memang berskala
besar, inspirasional dan meyeluruh, namun implementasi praktisnya justru berskala
kecil, sangat praktis, dan berkembang. Intervensi drastis tidak sesuai dengan semangat
perubahan yang ada dalam TQM. Skema yang muluk-muluk tidak akan menimbulkan kemajuan,
sebab hal sedemikian sering terjebak pada kurangnya sumber daya, dan buntunya sumberdaya
bisa mengakibatkan sinisme dan ketidakpuasan.
Esensi
Kaizen adalah proyek kecil yang
berupaya untuk membangun kesuksesan dan kepercayaan diri, dan mengembangkan dasar
peningkatan selanjutnya. Sebuah institusi harus melakukan aktifitas dengan teliti,
proses demi proses, isu demi isu. Dalam jangka waktu tertentu metode ini lebih berhasil
daripada langsung melakukan perubahan dalam skala besar. Hal lain yang perlu ditekankan
untuk melakukan perbaikan mutu adalah bahwa implementasi tersebut tidak harus menjadi
proses yang mahal. Menghabiskan uang tidak dengan sendirinya bisamenghasilkan mutu,
meskipun dalam tahap-tahap tertentud apat membantu.[10]
Selanjutnya untuk mewujudkan paradigma continuous
improvement, harus ditanamkan personal value yang cocok dengan paradigma
tersebut, yakni: kejujuran, kerendahan hati, kerja keras, kesabaran,
keterbukaan dan keberanian.[11]
(1)
Kejujuran
Kejujuran
adalah kemampuan orang untuk mengatakan kenyataan sebagaimana adanya. Untuk
memungkinkan orang untuk melakukan improvement, orang harus mampu melihat
penyimpangan yang terjadi sebagaimana kondisi yang diperlihatkan oleh fakta
yang dikumpulkan. Biasanya sepanjang fakta tentang proses dan sistem yang
dikumpulkan tidak berkaitan dengan kepentingan seseorang, orang tersebut dapat
memiliki kemampuan untuk melihat fakta tersebut sebagaimana adanya. Namun jika
misalnya fakta tentang penyimpangan tersebut berkaitan dengan kepentingan orang
tersebut (misalnya akan mempengaruhi kinerjanya, dan fakta tenatng kinerja ini
akan mempengaruhi penghargaan keuangan yang akan diterimanya), kejujuran orang
akan diuji. Jika anggota organisasi tidak memiliki personal value yang
menjunjung tinggi kejujuran, improvement berkelanjutan tidak akan dapat
terwujud.
(2)
Kerendahan hati
Diperlukan
kerendahan hati dalam belajar, karena dalam belajar orang harus mengakui bahwa
ia tidak tahu dan ia perlu belajar lebih banyak. Dalam belajar orang dapat
menjadikan siapa saja gurunya, baik dari personel yang baru masuk kerja sampai
yang sudah pensiun, dari personel bawahan sampai kawan sekerja, dari personel
kantor sampai personel pabrik. Diperlukan kerendahan hati untuk menjadikan
siapa saja guru kita dalam melakukan improvement berkelanjutan. Bahkan
pesaingpun perlu dihormati, karena kalau perusahaan dapat mencapai suatu
improvement, pesaingpun dapat mencapainya. Diperlukan kerendahan hati untuk
mengakui keunggulan pesaing.
(3)
Kerja keras
Continuous
improvement memerlukan penghargaan tinggi terhadap kerja keras yang tidak kenal
lelah. Improvement berkelanjutan memerlukan semangat untuk bereksperimen, dan
eksperimen selalu mengandung kemungkinan gagal. Penghargaan tertinggi terhadap
kerja keras dapat mencegah terjadinya keputusasaan karena kegagalan.
(4)
Kesabaran
Kesabaran
adalah kemampuan seseorang untuk menerima kelainan yang terjadi dalam diri
orang tersebut untuk jangka waktu panjang. Di dalam paradigma improvement
berkelanjutan, orang di dorong untuk melakukan eksperimen dalam improvement
terhadap proses dan sistem. Setiap eksperimen mengandung kemungkinan gagal.
Personel harus memiliki kemampuan untuk menerima kegagalan, karena kemampuan
ini yang mengantarkan mereka menuju keberhasilan eksperimen menghasilkan
improvement. Kesabaran adalah kemampuan seseorang di dalam menerima kegagalan
dalam jangka panjang.
(5)
Keterbukaan
Keterbukaan
terhadap hal baru merupakan nilai yang perlu dijunjung tinggi oleh seluruh personel perusahaan,
untuk menjadikan mereka senantiasa mampu membaca setiap perubahan yang terjadi
dalam lingkungan bisnis yang meraka hadapi. Nilai keterbukaan terhadap hal yang
baru memingkinkan organisasi perusahaan melakukan penggeseran paradigma, jika
kondisi lingkungan memerlukan penggeseran tersebut. Pergeseran paradigma
merupakan awal improvement yang akan diimplementasikan oleh perusahaan.
Keterbukaan terhadap sesuatu yang baru dilandasi oleh kejujuran dalam melihat
kenyataan, keberanian, kerendahan hati, luasnya wawasan, dan pengetahuan
(knowledge) yang dikuasai oleh personel perusahaan.
(6)
Keberanian.
Keberanian
adalah keteguhan hati seseoarnag dalam mempertahankan pendirian, keyakinan,
prinsip, visinya; keteguhan hati dalam mengambil posisi. Keberanian juga
berarti juga kemampuan untuk merubah pikiran; kemampuan untuk mengatakan, ‘Saya
tidak tahu, namun saya akan menari jawabannya’; kemampuan untuk mengetahui
bahwa dirinya tidak sempurna; kemampuan untuk tetap belajar, tidak puas dengan
sukses yang telah dicapai; kemampuan untuk melatakkan prinsip diatas prasangka
dan di atas expediency (cari mudahnya saja). Keberanian adalah kapasitas untuk
tetap maju dengan adanya ketakutan dan penderitaan yang menyertainya.
Keberanian adalah kapasitas untuk tetap maju dengan adanya ketakutan dan
penderitaan yang menyertainya. Keberanian bukan berarti bebas dari adanya
ketakutan, karena ketiadaan rasa takut merupakan suatu jenis kerusakan otak.
C.
Continuous Improvement di Lembaga Pendidikan
TQM adalah sebuah pendekatan praktis, namun strategis, dalam menjalankan roda organisasi yang memfokuskan diri pada kebutuhan pelanggan dan kliennya.Tujuannya adalah untuk mencari hasil yang lebih baik. TQM bukan merupakan sekumpulan slogan, namun merupakan
suatu pendekatan sistematis dan hati-hati untuk mencapai tingkatan kualitas
yang tepat dengan cara-cara yang konsisten dalam memenuhi kebutuhan dan keinginan
pelanggan. TQM dapat difahami sebagai filosofi perbaikan tanpa henti hingga tujuan
organisasi dapat dicapai dan dengan melibatkan segenap komponen dalam organisasi
tersebut.[12]
Pulungan (2001) dalam http://makalahmeza.blogspot.com
mengemukakan bahwa Manajemen Mutu Terpadu (MMT) adalah filosofi dan
sistem untuk pengembangan secara terus menerus (continuous improvement)
terhadap jasa atau produk untuk memenuhi kepuasan pelanggan (customer
satisfaction).[13]
Persaingan global dan selalu berubahnya permintaan pelanggan merupakan alas an perlunya dilakukan perbaikan secara terusmenerus (continuous
improvement) di lembaga pendidikan. Untuk mencapai perbaikan secaraterus-menerus,
kepala sekolah tidak cukup bila hanya menerima ide perbaikan, tetapi juga secara
aktif mendorong setiap orang untuk mengidentifikasi dan menggunakan kesempatan perbaikan
atau dengan kata lain never accept the
status quo
Pelaksanaan continuous improvement meliputi:
ü Penentuan masalah dan pemecahan yang memungkinkan
ü Pemilihan dan implementasi pemecahan yang paling efektif dan efisien
ü Evaluasi ulang, standarisasi, dan pengulangan proses.[14]
Selanjutnya langkah-langkah dalam melakukan continuous
improvement dapat digambarkan dalam siklus berikut:
Gambar 2.1 Siklus Continuous Improvement
1. Define:
• Mengidentifikasi
proses target
• Mengatur
sebuah timperbaikan
• Jelaskan masalah, keprihatinan atau kesempatan
• Kumpulkan data kinerja saat
• Membuat peta proses
2. Identify:
• Mengidentifikasi
proses pelanggan dan pemasok
• Tentukan
input proses dan output
• Mengidentifikasi
limbah dan nilai tambah kegiatan
• Tentukan
persyaratan proses
• Membuat daftar potensial perbaikan
3. Select:
• Menetapkan tujuan kinerja yang
diinginkan
• Prioritaskan
kemungkinan solusi
• Menetapkan
kriteria seleksi
• Pilih solusi terbaik
• Tentukan
proses yang diinginkan
4. Implement:
• Mengembangkan
rencana tindakan
• Mengembangkan
metrik kinerja proses
• Dokumen
solusi
• Uji perubahan
• Melaksanakan perencana aksi
5. Evaluate:
• Mengukur kemajuan
per rencana aksi
• Membandingkan
hasil dengan tujuan kinerja yang diinginkan
• Membangun
berlangsung umpan balik
• Menentukan tindakan perbaikan yang perlu diambil
• Ulangi siklus untuk menentukan
peluang-peluang baru.[15]
Kunci untuk
benar-benar menjadi sukses menggunakan
proses ini adalah langkah terakhir akan kembali
ke awal dan selalu mencari peluang baru.Tanpa ini, hanya akan terjadi perubahan satu kali, bukan perbaikan yang berkelanjutan. Dengan demikian sebuah organisasi/lembaga/perusahaan akan unggul sehingga bisa meraih sukses
dalam dalam iklim kompetisi yang semakin hari semakin menggila.
BAB
III
KESIMPULAN
1.
Perbaikan berkelanjutan (Continuous
Improvement) adalah peningkatan
dan perbaikan yang berkesinambungan (tiada henti) dimana mengarah
pada kemajuan yang lebih baik atau unggul.
Kegiatan
continuous
improvement
meliputi
kepuasan
pelanggan, proses kerja, dan
performansi supplier yang
dapat didesain dan diterapkan dengan berhasil bila dikerjakan dalam tim kerja.
2.
Konsep continuous improvement diterapkan baik terhadap proses, produk maupun orang yang
melaksanakan perbaikan itu sendiri. Untuk mewujudkan paradigma continuous improvement, harus
ditanamkan personal value yang cocok yakni: kejujuran, kerendahan hati, kerja
keras, kesabaran, keterbukaan dan keberanian.
3.
Penerapan continuous improvement di lembaga pendidikan (sekolah) harus benar-benar diwujudkan.
Dalam hal ini kepala sekolah tidak cukup hanya menerima ide perbaikan, tetapi juga secara aktif harus mendorong setiap orang
untuk mengidentifikasi dan menggunakan kesempatan perbaikan atau dengan kata
lain never accept the status quo.
DAFTAR PUSTAKA
Ariani, Wahyu Dorothea. (2003). Manajemen Kualitas Pendekatan Sisi Kualitatif. Jakarta: Ghalia Indonesia.
Gaspersz, V. (1997). Manajemen Kualitas dalam Industri Jasa. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.
Goetsch, D.L., dan Davis, S. (1995). Implementing to Total Qualaity. New
Jersey: Prentice Hall International.
Inc.
Shiftindonesia.com/langkah-tepat-menjalankan-kaizen-event/
[1]http://doublehasanah.wordpress.com/2008/01/02/kaizen-ciri-khusus-manu faktur-jepang/, diakses tanggal 28 Nopember 2012.
[2]http://awik87.blogspot.com/2010/07/meningkatkan-mutu pendidikan.html diakses tanggal 28 Nopember 2012.
[3]http://makalahmeza.blogspot.com/2012/03/konsep-mutu-dan-prinsip-manajemen-mutu.html., diakses tanggal 28 Nopember 2012.
[5]Dorothea Wahyu Ariani, Manajemen Kualitas Pendekatan Sisi Kualitatif, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2003), hlm. 53-54.
[6]Goetsch, D.L., dan Davis, S., Implementing to
Total Qualaity, (New Jersey: Prentice Hall International. Inc., 1995).
[7]Gaspersz, V., Manajemen
Kualitas dalam Industri Jasa, (Jakarta: PT. Gramedia Pustaka
Utama, 1997).
[8]Dorothea Wahyu Ariani, Manajemen Kualitas Pendekatan Sisi Kualitatif, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2003), hlm. 54.
[9]http://makalahmeza.blogspot.com/2012/03/konsep-mutu-dan-prinsip-manajemen-mutu.html., diakses tanggal 28 Nopember
2012.
[10]Edward Sallis, Total
Quality Management in Education, Manajemen
Mutu Pendidikan, (Jogjakarta: IRCiSoD, 2011), hlm. 78.
[11]Diktat
Manajemen
Mutu
Versi 1/10, hlm. 22.
[12]Edward Sallis, Total
Quality Management in Education, Manajemen Mutu Pendidikan, (Jogjakarta: IRCiSoD, 2011), hlm. 76-77.
[13]http://makalahmeza.blogspot.com/2012/03/konsep-mutu-dan-prinsip-manajemen-mutu.html., diakses tanggal 28 Nopember
2012.
[14]Fandi Tjiptono & Anastasia
Diana, Total Quality Management, (Yogyakarta:
Penerbit
Andi, 2001), hlm. 262.
[15]Shiftindonesia.com/langkah-tepat-menjalankan-kaizen-event/,
diakses
tanggal 28 Nopember 2012.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan komentar ya...