HINDARI 5
KESALAHAN INI
SAAT
MENULIS FIKSI DARI KISAH PRIBADI
Mengangkat kisah hidup Anda sendiri menjadi
sebuah kisah fiksi (cerpen atau novel) adalah ide yang bagus karena konfliknya
terasa nyata. Namun, bisa jadi Anda terjebak ingin menyajikan cerita "apa
adanya" hingga membuat pembaca bingung atau bahkan bosan.
Agar karya fiksi Anda tetap menarik, hindari
lima kesalahan fatal berikut:
1.
Menuliskan
Kronologi Kejadian Terlalu Detail
Hidup Anda
mungkin panjang, tetapi tidak semua kenangan harus ditumpahkan ke dalam cerita.
Jangan menuliskan rutinitas harian secara berurutan jika tidak memengaruhi
plot. Plot adalah rangkaian peristiwa atau kejadian dalam sebuah cerita yang
saling berhubungan secara sebab-akibat (plot sering juga disebut sebagai alur
cerita).
- Solusi: Pilih adegan yang memiliki
hubungan sebab-akibat yang kuat terhadap cerita. Buang kejadian yang jika
dihapus tidak akan membuat alur cerita menjadi berlubang atau tidak
nyambung.
2.
Memasukkan
Terlalu Banyak Tokoh
Di dunia
nyata, Anda berinteraksi dengan ratusan atau bahkan ribuan orang. Namun,
menghadirkan terlalu banyak tokoh dengan beragam karakter dalam fiksi hanya
akan membuat pembaca pusing.
- Solusi: Munculkan tokoh yang
memiliki andil dan tujuan jelas saja. Jika ada banyak tokoh figuran di
kehidupan nyata, siasati dengan melebur peran mereka ke dalam satu
karakter fiksi.
3.
Minim
Dramatisasi (Terlalu Datar)
Menulis
kisah nyata bukan berarti Anda hanya melaporkan kejadian dengan apa adanya.
Cerita tetap membutuhkan dramatisasi agar emosi seperti kesedihan atau tragedi
bisa menyentuh pembaca.
- Solusi: Gunakan pilihan kata
(diksi) yang kuat atau tambahkan konflik pendukung agar suasananya lebih
menggugah. Pastikan dramatisasi ini tetap masuk akal dan tidak terasa
dipaksakan (lebay).
4.
Menjejalkan
Semua Konflik Hidup
Hidup Anda
bisa saja dipenuhi berbagai masalah yang terasa dahsyat, tetapi menumpuk
semuanya dalam satu cerita fiksi akan mengaburkan fokus cerita.
- Solusi: Tetapkan satu konflik
terbesar yang paling berpengaruh besar dan
mengubah hidup Anda sebagai konflik utama. Masukkan
konflik-konflik kecil hanya jika mereka mendukung/berhubungan dengan
konflik utama tersebut. Karena ini fiksi dan bukan biografi, Anda bebas
mereka-reka akhir ceritanya tanpa harus menunggu masalah tersebut selesai
di dunia nyata.
5.
Penggambaran
Karakter yang Kabur dan Terlalu Sempurna
Anda
sebagai penulis sering lupa menggambarkan detail tokoh karena merasa sudah
sangat mengenal mereka di dunia nyata. Kesalahan lainnya adalah membuat tokoh
utama (yang merupakan cerminan diri sendiri) tampil terlalu sempurna dan tanpa
cela.
- Solusi: Gambarkan ciri fisik,
sifat, hingga kebiasaan unik (gimik) tokoh secara jelas untuk pembaca.
Berikan tokoh utama sifat buruk yang seimbang agar karakternya terasa
manusiawi dan dekat dengan pembaca. Jangan lupa untuk berhati-hati agar
tidak salah menuliskan nama asli jika Anda berniat menyamarkannya.
Kesimpulan:
Menulis fiksi (novel atau cerpen) dari kisah pribadi bukan berarti memindahkan
seluruh mentah-mentah cerita hidup Anda. Ambil saja saripati atau ide dasarnya,
lalu olah dengan kreativitas agar menjadi karya fiksi yang memikat.