Google+ Followers

Sabtu, 13 Januari 2018

IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 DI MTsN WATULIMO TRENGGALEK






Implementasi Kurikulum 2013
di MTsN Watulimo Trenggalek

  • Siapapun gurunya …
  • Apapun mata pelajarannya …
  • Bagaimanapun metodenya …
Harus menghasilkan peserta didik yang religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan berintegritas

Pengembangan kurikulum memang merupakan suatu keniscayaan, sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tuntutan sosial ekonomi, dan perkembangan global serta dilakukan secara periodik. Dalam rangka peningkatan kompetensi siswa madrasah sesuai dengan dinamika pendidikan nasional dan global, maka perlu adanya pengembangan kurikulum.
Kurikulum 2006 atau yang dikenal dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang telah berlaku selama kurang lebih 6 tahun dikembangkan menjadi Kurikulum 2013 dengan didasari pemikiran tentang tantangan masa depan, persepsi masyarakat, perkembangan pengetahuan dan paedagogi, kompetensi masa depan, dan fenomena negatif yang mengemuka.
Pada tahun ajaran 2013/2014, tepatnya sekitar pertengahan tahun 2013, Kurikulum 2013 diimpelementasikan secara terbatas pada sekolah perintis, yakni pada kelas I dan IV untuk tingkat SD/MI, kelas VII untuk SMP/MTs, dan kelas X untuk jenjang SMA/MA/SMK. Sedangkan pada tahun 2014, Kurikulum 2013 sudah diterapkan di Kelas I, II, IV, dan V sedangkan untuk SMP Kelas VII dan VIII dan SMA Kelas X dan XI. Jumlah sekolah yang menjadi sekolah perintis adalah sebanyak 6.326 sekolah tersebar di seluruh provinsi di Indonesia.

Pada tahun 2017, implementasi kurikulum 2013 (K-13) memasuki tahun ke-4. Di jenjang SD/MI, pada tahun 2016, K-13 telah dilaksanakan di 37.034 sekolah. Pada Tahun 2017/2018, Kemendikbud menargetkan sekolah yang mengimplementasikan K-13 sebanyak 35% sekolah sasaran baru atau sebanyak 52.572 sekolah, sehingga diharapkan sebanyak 60% dari seluruh SD/MI telah menerapkan K-13.
Di MTsN Watulimo, Kurikulum 2013 ini juga sudah mulai diujicobakan pada semester ganjil tahun pelajaran 2014/2015 untuk kelas VII. Perintisan K-13 di MTsN Watulimo ini mengikuti instruksi dari Kementerian Agama sesuai dengan Keputusan Menteri Agama RI nomor 165 tahun 2014 tentang Pedoman Kurikulum Madrasah 2013 (Kurma 13) mata pelajaran PAI dan Bahasa Arab, yang merekomendasikan bahwa madrasah negeri harus sudah menerapkan K-13 pada tahun pelajaran 2014/2015. Namun penerapan K-13 di MTsN Watulimo pada saat itu hanya berjalan selama satu semester saja. Banyak kendala yang dihadapi oleh guru, siswa dan madrasah. Ketersediaan perangkat, seperti Buku pelajaran, Aplikasi penilaian, SDM yang belum memadai dan sarana lainnya yang masih belum siap.
Pada semester genap tahun pelajaran 2014/2015, MTsN Watulimo kembali menerapkan KTSP, namun khusus mata pelajaran PAI dan Bahasa Arab menggunakan semi K-13. Disebut semi K-13 pada PAI dan Bahasa Arab ini, karena Standar Kompetensinya mengikuti Kurikulum Madrasah 2013, sedangkan penilaiannya masih memakai sistem KTSP.
Penerapan kurikulum memang tidak bisa dilakukan serta merta, harus berjalan secara bertahap dan konsisten. Seiring dengan perjalanan waktu, para guru juga sudah mengikuti diklat/workshop K-13, baik yang diselenggarakan di madrasah maupun di tempat lain. Tidak kurang dari 5 kali di MTsN Watulimo telah diselenggarakan diklat/workshop K-13 untuk membekali para pendidik dan tenaga kependidikan dalam implementasi Kurikulum Madrasah 2013. Buku pelajaran juga telah disiapkan sesuai dengan kemampuan madrasah. Akhirnya pada tahun pelajaran 2015/2016 diterapkan kembali K-13 bagi kelas VII. Selanjutnya pada tahun berikutnya, 2016/2017 kelas VII dan Kelas VIII sudah berlaku K-13 untuk semua pelajaran. Dan pada tahun pelajaran 2017/2018 ini MTsN Watulimo telah memberlakukan Kurikulum 2013 secara total dari kelas VII sampai kelas IX.
Menurut Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kemdikbud, Hamid Muhammad, menjelaskan bahwa Kurikulum 2013 atau yang sering disingkat Kurtilas ini sudah mengalami beberapa kali perbaikan atau revisi. Mulai Kurikulum 2013 revisi 2016 dan saat ini Kurikulum 2013 revisi tahun 2017.
Adapun perbaikan atau revisi Kurikulum 2013 tahun 2017 adalah menyangkut 3 hal yang sangat penting. Tiga hal tersebut adalah:
Mengintegrasikan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) di dalam pembelajaran. Karakter yang diperkuat terutama 5 karakter, yaitu: religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas. PPK ini sebagaimana telah diatur dalam Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017.
Menguatkan budaya literasi. Budaya literasi juga ditumbuhkan melalui integrasi dalam pembelajaran, utamanya dalam penerapan pendekatan saintifik yang meliputi mengamati, menanya, mencoba, menalar, dan mengomunikasikan yang dikenal dengan 5M.
Pembelajaran abad 21 atau yang diistilahkan dengan 4-C (Creative, Critical thinking, Communicative, dan Collaborative). Pembelajaran dengan menyertakan 4-C inilah yang kemudian oleh para ahli dikategorikan dalam istilah Higher Order of Thinking Skill (HOTS), yaitu kemampuan berpikir kritis, logis, reflektif, metakognitif, dan berpikir kreatif yang merupakan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Beberapa pakar menjelaskan pentingnya penguasaan 4-C sebagai sarana meraih kesuksesan, khususnya di abad 21, abad di mana dunia berkembang dengan sangat cepat dan dinamis. 4-C adalah jenis softskill yang pada implementasi keseharian, jauh lebih bermanfaat ketimbang sekedar pengusaan hardskill.
Sehubungan dengan Kurtilas revisi tahun 2017 di atas, yang mengutamakan penguatan pendidikan karakter (PPK), budaya literasi dan pembelajaran abad 21, di MTsN Watulimo sebetulnya jauh sebelum tahun 2017 sudah membudayakan 3 hal di atas, utamanya pendidikan karakter dan budaya literasi.


Serangkaian kegiatan pembiasaan dan ekstrakurikuler yang dilaksanakan di MTsN Watulimo mulai dari siswa datang sampai siswa pulang adalah wujud kongkret dari pendidikan karakter yang diterapkan di madrasah. Siswa ke madrasah dilarang membawa sepeda motor, selalu berpakaian sopan dan rapi, turun dari sepeda ketika masuk gerbang madrasah, berjabat tangan dengan guru adalah contoh nyata pendidikan karakter siswa sehari-hari. Peringatan hari besar Islam dan nasional yang selalu diselenggarakan oleh madrasah juga menggambarkan pendidikan karakter yang bersifat religius dan nasionalis. Dan masih banyak lagi kegiatan penguatan pendidikan karakter lainnya bagi siswa di MTsN Watulimo.
Budaya literasi di MTsN Watulimo juga sudah lama sekali didengungkan kepada seluruh civitas akademika madrasah mulai dari guru, pegawai sampai dengan siswa. Setiap siswa wajib memiliki Kartu Perpustakaan, adanya Buku Kunjungan di Perpustakaan, kegiatan Bulan Bahasa, lomba mengarang dan sebagainya. Dan yang cukup membanggakan adalah terbitnya Koran Pelajar ”Sketsa” setiap 3 bulan sekali. Koper ‘Sketsa’ merupakan wahana komunikasi yang efektif untuk menyalurkan bakat jurnalistik bagi warga MTsN Watulimo. Pada bulan September 2017 ini sudah edisi yang ke 23. Hal ini tentunya juga merupakan bentuk kegiatan penguatan budaya literasi madrasah yang dimasukkan dalam revisi K-13 tahun 2017.
Pada Kurikulum 2013 pembelajarannya menggunakan pendekatan saintifik (5-M : mengamati, menanya, mencoba, menalar, mengomunikasikan), sedangkan penilaiannya menggunakan penilaian autentik (asli, menyeluruh). K-13 memiliki empat aspek penilaian, yaitu aspek spiritual (KI-1), aspek sosial (KI-2), aspek pengetahuan (KI-3), dan aspek ketrampilan KI-4). Sikap dan perilaku (moral) adalah aspek penilaian yang teramat penting (nilai aspek 60%). Apabila salah seorang siswa melakukan sikap buruk, maka dianggap seluruh nilainya kurang.
Penilaian hasil belajar oleh guru di MTsN Watulimo menggunakan berbagai instrumen penilaian yang berupa tes, pengamatan, penugasan perseorangan atau kelompok, dan bentuk lain yang sesuai dengan karakteristik kompetensi dan tingkat perkembangan peserta didik. Penilaian dilakukan dalam bentuk penilaian harian, penilaian akhir semester dan penilaian akhir tahun.
Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang harus dicapai oleh peserta didik MTsN Watulimo adalah 75 untuk semua mata pelajaran. Laporan hasil penilaian pendidikan pada akhir semester, dan akhir tahun ditetapkan dalam rapat dewan guru berdasar hasil penilaian oleh pendidik dan hasil penilaian oleh madrasah. Kenaikan kelas dan/atau kelulusan peserta didik ditetapkan melalui rapat dewan guru.

Laporan hasil penilaian akhir yang diterapkan dalam K-13 di MTsN Watulimo telah memakai sistem aplikasi Raport yang berpedoman pada Permendikbud nomor 53 tahun 2015 tentang Penilaian Hasil Belajar oleh Pendidik dan Satuan Pendidikan pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah. Penulisan Raport dengan menggunakan sistem aplikasi ini sangat membantu wali kelas dalam mendokumentasikan hasil perolehan nilai siswa, sehingga dapat diselesaikan dengan lebih efektif dan efisien.
Itulah sekelumit paparan tentang implementasi Kurikulum 2013 di MTsN Watulimo yang saat ini sudah masuk tahun ke-3. Harapannya, semoga Pemerintah bisa konsisten terhadap penerapan Kurtilas ini, sehingga dunia pendidikan benar-benar bisa merasakan hasilnya sesuai dengan yang dicita-citakan oleh seluruh bangsa Indonesia. Keberhasilan pendidikan tidak hanya bertumpu pada sekolah saja, karena menurut Ki Hajar Dewantara, ada Tripusat pendidikan yang selalu berkaitan dan mendukung suksesnya pendidikan, yaitu pendidikan keluarga, pendidikan sekolah dan pendidikan lingkungan. Keberhasilan implementasi Kurikulum 2013 di MTsN Watulimo juga tergantung pada jalinan kerjasama seluruh stakeholder madrasah yang meliputi pemerintah, pendidik/tenaga kependidikan, siswa, orang tua/komite dan masyarakat.@

MENUJU MADRASAH LITERASI atau TIDAK SAMA SEKALI



MENUJU MADRASAH LITERASI

atau
TIDAK SAMA SEKALI!

Gong literasi telah ditabuh. Pemerintah sepertinya tidak ingin tertinggal lebih jauh lagi dengan negara tetangga. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kementerian Agama kini sedang menggalakkan literasi bagi peserta didik dan tenaga pendidik. Literasi terutama berkaitan langsung dengan membaca dan menghasilkan karya tulis. Keterampilan membaca berperan penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Membaca adalah gerbang pengetahuan. Tentu semua sudah maklum bahwa siapapun yang malas membaca maka akan sempit pengetahuan. Orang yang sempit pengetahuan tentu juga akan miskin inovasi. Apa jadinya bangsa ini jika masyarakatnya miskin pengetahuan.
Untuk mengembangkan sekolah sebagai organisasi pembelajaran, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengembangkan Gerakan Literasi Sekolah (GLS). GLS adalah upaya menyeluruh yang melibatkan semua warga sekolah (guru, peserta didik, orang tua/wali murid) dan masyarakat, sebagai bagian dari ekosistem pendidikan. GLS memperkuat gerakan penumbuhan budi pekerti sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015. Salah satu kegiatan di dalam gerakan tersebut adalah “kegiatan 15 menit membaca buku non pelajaran sebelum waktu belajar dimulai”. Kegiatan ini dilaksanakan untuk menumbuhkan minat baca peserta didik serta meningkatkan keterampilan membaca agar pengetahuan dapat dikuasai secara lebih baik. Materi baca berisi nilai-nilai budi pekerti berupa kearifan lokal, nasional, dan global yang disampaikan sesuai tahap perkembangan peserta didik.
GLS dikembangkan berdasarkan sembilan agenda prioritas (Nawacita) yang terkait dengan tugas dan fungsi Kemendikbud, khususnya Nawacita nomor 5, 6, 8, dan 9. Butir Nawacita yang dimaksudkan adalah (5) meningkatkan kualitas hidup manusia dan masyarakat Indonesia; (6) meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional sehingga bangsa Indonesia bisa maju dan bangkit bersama bangsa-bangsa Asia lainnya; (8) melakukan revolusi karakter bangsa; dan (9) memperteguh kebinekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia. Empat butir Nawacita tersebut terkait erat dengan komponen literasi sebagai modal pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas, produktif dan berdaya saing, berkarakter, serta nasionalis.
Pengertian Literasi Sekolah dalam konteks GLS adalah kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas, antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan/atau berbicara. GLS merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik. Tujuan umum dari GLS adalah untuk menumbuhkembangkan budi pekerti peserta didik melalui pembudayaan ekosistem literasi sekolah yang diwujudkan dalam Gerakan Literasi Sekolah agar mereka menjadi pembelajar sepanjang hayat. Sedangkan secara khusus GLS bertujuan untuk; Menumbuhkembangkan budaya literasi di sekolah; Meningkatkan kapasitas warga dan lingkungan sekolah agar literat; Menjadikan sekolah sebagai taman belajar yang menyenangkan dan ramah anak agar warga sekolah mampu mengelola pengetahuan; Menjaga keberlanjutan pembelajaran dengan menghadirkan beragam buku bacaan dan mewadahi berbagai strategi membaca.
Kegiatan literasi di tahap pembiasaan meliputi dua jenis kegiatan membaca untuk kesenangan, yakni membaca dalam hati dan membacakan nyaring oleh guru. Secara umum, kedua kegiatan membaca ini bertujuan untuk meningkatkan rasa cinta baca di luar jam pelajaran; meningkatkan kemampuan memahami bacaan; meningkatkan rasa percaya diri sebagai pembaca yang baik; dan menumbuhkembangkan penggunaan berbagai sumber bacaan. Kedua kegiatan membaca ini didukung oleh penumbuhan iklim literasi sekolah yang baik. Dalam tahap pembiasaan, iklim literasi sekolah diarahkan pada pengadaan dan pengembangan lingkungan fisik, seperti: buku-buku non pelajaran (novel, kumpulan cerpen, buku ilmiah populer, majalah, komik, dsb.); sudut baca kelas untuk tempat koleksi bahan bacaan; dan poster-poster tentang motivasi pentingnya membaca.
Aspek penting berikutnya dalam menumbuhkembangkan GLS adalah menulis. Menulis tidak sekedar mencoretkan pena di atas kertas kosong. Menulis tidak hanya memainkan jari untuk menari di atas keyboard laptop. Menulis tidak sekedar merangkai kata tanpa makna. Menulis adalah upaya untuk mengungkapkan totalitas kehidupan. Isi pikiran, perasaan, bahkan imajinasi manusia akan terbaca melalui tulisan.
Dengan menulis pikiran akan menjadi sehat, karena otak terus berputar memfungsikan seluruh sel otak sesuai peran masing-masing. Sel otak kita akan terus bercabang jika digunakan untuk berfikir secara sistematis, melalui proses belajar. Menulis adalah belajar.
Ingat! Perubahan besar selalu diawali dengan tulisan. Banyak sejarah yang telah menjadi saksi, perubahan sosial, politik, ekonomi, serta pendidikan banyak diawali dari gerakan menulis. Kata menjadi kalimat, kalimat menjadi konsep, konsep menjadi teori, teori menjadi disiplin ilmu. Sebuah perjalanan panjang dalam dunia ilmiah yang akan menjadi ruh dalam setiap perubahan. Penulis hebat pasti menjadi icon penting dalam sejarah perubahan. Konstribusi penulis hebat akan selalu dikenang dan menjadi karya yang tidak terlupakan di setiap zaman, bahkan dalam dekade dan rentang waktu yang sangat panjang.
Realita yang ada adalah penulis pemula seringkali merasa kesulitan untuk menemukan masalah yang akan ditulis. Para penulis pemula terbelenggu dalam proses penemuan ide yang bisa dijadikan judul, sub judul, uraian masalah, serta hal lain terkait dengan apa yang akan ditulis. Pertanyaan yang muncul adalah; Mau menulis apa?, dimulai dari mana?, bagaimana cara menyusun outline hingga bagaimana menulis kalimat?, bagaimana menganalisis persoalan?, serta bagaimana membuat sistematika tulisan yang baik?. Deretan pertanyaan ini selalu menghantui benak dan pikiran penulis pemula.
Menulis adalah bagian dari literasi yang perlu digalakkan di lembaga pendidikan. Selain itu, hasil dari penyusunan buku dapat dijadikan sebagai pengembangan diri bagi guru PNS untuk memenuhi Permen PAN-RB  Nomor 16 Tahun 2009 pada BAB VII pasal 16 yang menyatakan bahwa untuk kenaikan pangkat dan golongan bagi guru dari IIIa sampai ke IVE, guru disyaratkan memiliki karya tulis ilmiah, termasuk dalam bentuk buku.
Nah, khusus di madrasah kita MTsN Watulimo tercinta ini sebenarnya telah punya cukup modal untuk menggiatkan Gerakan Literasi Madrasah (GLM). Kita punya “Sketsa” majalah yang rutin terbit pada tiap tiga bulan sekali. Dan secara kualitas juga tidak terlalu ecek-ecek.  Apalagi mulai edisi September 2017 ini Sketsa telah resmi diakui oleh Pusat Dokumentasi dan Informasi Ilmiah (PDII) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang berkantor pusat di Jakarta, dengan diterbitkannya International Standard Serial Number (ISSN) dengan Nomor ISSN: 2581-2068. Maka sekaranglah saatnya kita teriakkan semboyan MENUJU MADRASAH LITERASI atau TIDAK SAMA SEKALI!. @(Sumber rujukan: Materi Diklat Literasi di MTsN 2 Kediri, tanggal 6 Agustus 2017).

Entri Populer