PENDIDIKAN - REMAJA - KELUARGA

28/02/2025

Hidup Sehat, Hidup Bijak, Hidup Sesuai Syariat

 

HIDUP SEHAT, HIDUP BIJAK,

HIDUP SESUAI SYARIAT

Oleh: Nanang M. Safa

 


 

Hidup ini adalah nikmat luar biasa dari Sang Maha Pencipta, Allah SWT. Agar nikmat tersebut benar-benar bisa dinikmati dan mendatangkan keberkahan maka jalan satu-satunya adalah dengan mensyukurinya. Mensyukuri hidup ini yang paling inti adalah dengan menjaga kesehatan. Kesehatan adalah kunci utama dalam berkegiatan. Ketika manusia memiliki kondisi kesehatan yang baik maka hal lain akan dapat dilakukan dengan baik pula. Sebaliknya, jika kondisi kesehatan terganggu maka kegiatan yang lain juga akan ikut terganggu.

Menjaga kesehatan dalam Islam masuk dalam perintah, sebagaimana yang ditegaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim, “Inna lijasadika ‘alaika haqqan - Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atas dirimu-”. (https://lampung.kemenag.go.id/home/artikel/sehat-dengan-pola-makan-seimbang-menurut-islam).

Mensyukuri kesehatan tentu tidak hanya diwujudkan dalam bentuk ucapan lisan, namun juga harus dibarengi dengan usaha nyata yang sungguh-sungguh untuk menjaganya, salah satunya dengan menjaga asupan nutrisi yang masuk dalam tubuh kita.

Islam adalah agama yang kaffah. Islam mengatur segala aspek kehidupan termasuk di dalamnya tentang pola hidup sehat. Banyak ayat Al Qur’an dan hadits Rasulullah Muhammad SAW yang menjelaskan tentang cara menjaga kesehatan. Salah satunya sebagaimana  dimaklumatkan dalam surat Al Baqarah ayat 168, “Wahai manusia, makanlah olehmu sebagian (makanan) di bumi yang halal lagi baik…”. Halal lebih berorientasi pada aspek ukhrawi sedangkan baik lebih mengarah pada aspek duniawi. Aspek kehalalan dan kebaikan suatu makanan atau minuman tentu bersifat menyeluruh, mulai dari cara memperolehnya, jenis perolehannya, cara mengolahnya, hasil olahannya, hingga kepada cara menikmatinya.

Selaras dengan ayat tersebut, dalam ayat lain (Q.S. Al A’raf ayat 31), Allah juga menegaskan, “Makanlah dan minumlah, tetapi jangan berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan". Makna berlebihan dari ayat ini adalah melebihi porsi yang dibutuhkan tubuh kita. Sesuau yang pada dasarnya baik jika dikonsumsi berlebihan tentu juga bisa mendatangkan kemadharatan (bahaya).

Dalam hal ini Rasulullah Muhammad SAW melalui sebuah haditsnya yang diriwayatkan oleh Tirmidzi memberikan tips, "Tidak ada wadah yang lebih buruk yang diisi oleh anak Adam daripada perutnya. Cukuplah bagi anak Adam beberapa suap untuk menegakkan tulang punggungnya. Jika ia harus melakukannya (makan lebih banyak), maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk nafasnya."

 

Makanan yang Halal dan Baik

Makanan yang sehat adalah makanan yang halal dan baik. Halal dan baik merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Halal dan baik tidak hanya dilihat dari sisi fisiknya saja melainkan harus dilihat dari keseluruhan aspeknya mulai dari cara perolehannya sampai kepada hasil akhirnya. Dengan kata lain, makanan dan minuman dikatakan halal dan baik (inilah yang disebut makanan minuman sehat) jika cara memperolehnya, cara mengolahnya, hasil olahannya, serta cara menikmatinya sesuai dengan ketentuan syariat maupun standar kesehatan (medis).

Agar makanan/minuman dikatakan halal dan baik maka cara mendapatkannya juga harus dengan cara-cara yang diperbolehkan oleh syariat bukan cara-cara yang dilarang,  semisal dari mencuri, merampas, atau korupsi. Lalu apa hubungannya dengan kesehatan? Tentu sangat erat. Kesehatan tidak hanya melulu pada kondisi fisik semata melainkan sehat yang sebenarnya adalah sehat lahir dan batin, raga dan jiwa. Makanan/minuman yang diperoleh dengan cara-cara yang tidak baik tentu tidak akan bisa memberikan ketenangan. Banyak bukti penelitian ilmiah yang menyebutkan bahwa penyakit fisik seringkali diawali dari kondisi psikologis yang tidak sehat, semisal gelisah, stress, dan semacamnya. Maka pertanyaan baliknya adalah “Bagaimana bisa makan dan minum dengan nikmat jika cara mendapatkannya dari cara yang salah?”

Selanjutnya, agar bisa disebut makanan sehat maka cara mengolahnya juga harus mengikuti aturan yang benar. Makanan/minuman yang sehat harus dinihilkan dari najis serta zat-zat toksik (beracun), seperti pemanis, penyedap rasa, pewarna, dan pengawet. Zat-zat semacam ini tentu dapat mengontaminasi kandungan baik yang ada pada bahan makanan/minuman dan akibatnya tentu akan membuat tubuh kita menjadi terkontaminasi pula.

Makanan/minuman yang sehat juga harus terjaga dari kotoran atau najis. Maka cara penyimpannya juga harus mengikuti ketentuan yang benar, semisal ditaruh di wadah yang tertutup rapat agar tetap terjaga dari kotoran binatang (tikus, lalat, kecoak, cicak, dll).

Tidak cukup sampai di sini, agar makanan/minuman yang sudah didapatkan dengan cara yang baik, diolah dengan baik, dan disimpan atau dihidangkan dengan baik, maka selanjutnya adalah dinikmati dengan baik pula. Menikmati makanan/minuman tidak cukup hanya sekedar dikunyah lalu ditelan, selesai. Islam mengajarkan ketika makan/minum harus berdoa terlebih dahulu, sembari duduk, lalu menikmatinya dengan pelan (tidak tergesa-gesa), serta tidak berlebih-lebihan (sampai kekenyangan). Maka dengan berikhtiar mengikuti pola hidup sehat (sesuai ajaran Islam dan sesuai standar kesehatan), kita tentu boleh berharap hidup kita juga akan menjadi sehat, terhindarkan dari beragam kemadharatan penyakit.

Maka sudah sangat pas ketika di MTsN 4 Trenggalek (Matsanepat) ada program Sarapan Makanan Minuman Sehat (Sapamanis) pada setiap sebulan sekali. Kegiatan ini diikuti seluruh warga madrasah dengan menu-menu tertentu yang memenuhi standar kesehatan. Program ini merupakan sebuah ikhtiar untuk bisa menjalankan slogan, “Hidup Sehat, Hidup Bijak, Hidup Sesuai Syariat”.

 

Sapamanis…!

Ini makanan sehatku!

Mana makanan sehatmu?