Google+ Followers

Saturday, 26 September 2015

Pancasila Sakti (Kau Akan Tetap Menginspirasi)

“Pancasila Sakti”
(Kau Akan Tetap Menginspirasi)


Pada era Orde Baru, kata “Pancasila Sakti” terasa sangat akrab di telinga. Namun seiring perubahan dan pergeseran era kepemimpinan nasional, kata “Pancasila Sakti” juga mulai hilang dari ingatan. Bahkan ada kalangan yang terang-terangan “menggunggat” term Pancasila Sakti tersebut. Akhir-akhir ini bangsa Indonesia mulai sadar diri betapa penting arti Pancasila untuk mendukung eksistensi negara-bangsa, sehingga Pancasila mulai diusung lagi ke permukaan, menjadi wacana di berbagai forum seminar dan diskusi. Oleh karena itu dipandang perlu untuk mendudukkan pengertian “Pancasila Sakti” secara proporsional, supaya tidak menimbulkan kesalah pahaman.
Makna kata “sakti” sebenarnya lebih berkaitan dengan peristiwa sejarah nasional. Puncaknya adalah terjadinya peristiwa G-30S/PKI pada tahun 1965. Aksi PKI ini terkenal sangat brutal dan kejam. Selain ulama, ustadz dan tokoh agama, beberapa jendral juga menjadi korban kebiadaban mereka, yakni Letjen Ahmad Yani (Menteri/Panglima Angkatan Darat/Kepala Staf Komando Operasi Tertinggi), Mayjen Raden Suprapto (Deputi II Menteri/Panglima AD Bidang Administrasi), Mayjen Mas Tirtodarmo Haryono (Deputi III Menteri/Panglima AD bidang Perencanaan dan Pembinaan), Mayjen Siswondo Parman (Asisten I Menteri/Panglima AD Bidang Intelijen), Brigjen Donald Isaac Panjaitan (Asisten IV Menteri/Panglima AD Bidang Logistik), Brigjen Sutoyo Siswomiharjo (Inspektur Kehakiman/Oditur Jenderal Angkatan Darat), Putri Jendral Nasution yaitu Ade Irma Suryani Nasution dan ajudan beliau Lettu CZI Pierre Andreas Tendean, Bripka Karel Satsuit Tubun (pengawal kediaman resmi Wakil Perdana Menteri II dr.J. Leimena), Kolonel Katamso Darmokusumo (Komandan Korem 072 Pamungkas, Yogyakarta), dan Letkol Sugiyono Mangunwiyoto (Kepala Staf Korem 072 Pamungkas, Yogyakarta). Sementara Jenderal Abdul Haris Nasution yang menjadi target utama, selamat dari upaya pembunuhan tersebut. Para korban tersebut kemudian dibuang ke suatu lokasi di Pondok Gede, Jakarta yang dikenal sebagai Lubang Buaya.
Sebelum meletusnya peristiwa G30S/PKI tahun 1965, PKI juga telah melakukan aksi serupa pada tahun 1948 di Madiun di bawah komando Musso. Pada saat rakyat Indonesia harus berkonsentrasi mempertahankan kemerdekaan dari agresi militer Belanda dan Sekutu yang ingin menjajah kembali Indonesia, pada tanggal 18 September 1948, Musso memproklamasikan berdirinya pemerintahan Soviet di Indonesia. Tujuannya adalah untuk meruntuhkan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan menggantinya dengan negara komunis. Pada waktu bersamaan, gerakan PKI dapat merebut tempat-tempat penting di Madiun. Untuk menumpas pemberontakan PKI Madiun ini, pemerintah melancarkan operasi militer. Dalam hal ini peran Divisi Siliwangi cukup besar. Di samping itu, Panglima Besar Jenderal Soedirman memerintahkan Kolonel Gatot Subroto di Jawa Tengah dan Kolonel Sungkono di Jawa Timur untuk mengerahkan pasukannya menumpas pemberontakan PKI di Madiun. Bersama-sama rakyat akhirnya mereka bisa menumpas gerakan PKI Madiun di bawah pimpinan Musso.
Tujuan utama dari aksi-aksi PKI ini sebenarnya muaranya tetap satu yakni ingin mengganti Ideologi Pancasila menjadi ideologi komunis. Namun usaha PKI ini selalu gagal berkat Pancasila yang dapat MENGINSPIRASI bangsa Indonesia sehingga bisa bersatu-padu melawan gerakan makar PKI yang ingin menghapus Pancasila dan mengantinya dengan ideologi komunis. Jadi “Pancasila Sakti” bukanlah dimaknai Pancasila memiliki kekuatan gaib, super, kuat atau seperti padanan kata sakti lainnya, namun kata “sakti” dalam term ini lebih bermakna inspiratif yakni bahwa berkat Pancasila inilah bangsa Indonesia bisa bersatu-padu; menyatukan tekad dan kekuatan untuk melawan dan menghancurkan pihak-pihak yang ingin mengganti dasar negara Pancasila dengan komunisme atau yang lainnya. Ingat lo ya, jangan salah makna! Bukan Burung Garudanya yang sakti, tapi Panca Sila yakni LIMA DASAR yang terangkai dalam Pancasila itu sendiri.
Semenjak bergulirnya Orde Reformasi, penyebutan term “Pancasila Sakti” sepertinya memang semakin asing terdengar di telinga generasi muda. Dan barangkali mulai muncul pula anggapan bahwa term Pancasila Sakti tabu untuk diucapkan. Hal ini tentu sangat berbeda jauh nuansanya dengan era Orde Baru. Pada masa Orde Baru dulu, setiap siswa baru maupun mahasiswa baru harus siap mengikuti Penataran P-4 (Pedoman Penghayatan & Pengamalan Pancasila). Dalam penataran tersebut dikupas tuntas tentang sejarah, arti lambang burung Garuda dan lima gambar yang ada pada perisai yang disandang di dada sang Garuda, hingga butir-butir Pancasila yang ada di lima sila dalam Pancasila tersebut.
Bahkan Bimas Islam dan Urusan Haji Departemen Agama RI, juga pernah menerbitkan buku Pedoman P-4, dan ajaran Islam. Di dalam buku itu selain dijelaskan tentang Pancasila secara nasional juga disertai penjelasan P-4 dalam pandangan Islam, yang tentu saja diserta ayat-ayat Al Qur’an yang mendasarinya. Buku kecil yang dalam kata pengantarnya ditulis oleh Menteri Agama ketika itu H. Alamsyah Ratu Perwiranegara dan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Prof. Dr. HAMKA ini tentu sangat membantu pemahaman para generasi muda muslim khususnya dalam memahami butir-butir yang terkandung dalam Pancasila yang tentunya memang sangat selaras dengan ajaran Islam. Memang, tiap orde pemerintahan tentu ada kekurangsempurnaan dan ketidakcocokan dengan orde berikutnya, namun bukan berarti hal itu lantas membuat orde pemerintah bersangkutan tidak memberikan perubahan berarti bagi bangsa besar ini. Bukankah sudah seharusnya kita mengambil hal yang baik untuk terus kita budayakan sambil membenahi kekurangan yang ada untuk menuju masa depan yang lebih baik?! Salah satu hal baik yang patut kita pertahankan tersebut tentu saja adalah nilai-nilai luhur Pancasila.
Memang, ada yang bilang bahwa sejarah adalah milik pemerintah yang berkuasa. Tiap rezim bisa menciptakan sejarahnya sendiri. Namun setidaknya sejarah kelam tentang kekejaman dan kebiadaban PKI dapat menyadarkan para generasi bangsa untuk selalu waspada dan tidak mudah disusupi oleh paham laten komunis yang secara terang-terangan tidak mengakui adanya Tuhan.
Selanjutnya, marilah sedikit kita diskusikan tentang pertanyaan; mampukah Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa dijadikan dasar untuk mengantisipasi gerakan globalisasi dunia?
Perlu kita cermati bahwa esensi globalisasi adalah keterbukaan dan kebebasan; yang merupakan pencerminan hak asasi individu. Dalam bidang ekonomi globalisasi akan menampakkan wajahnya dalam bentuk perdagangan bebas atau liberalisasi perdagangan. Dalam bidang politik, globalisasi akan nampak dalam gerakan demokrasi dan hak asasi manusia. Dalam bidang informasi, globalisasi terwujud dalam internet, cybernatic society dan web society, suatu jaringan antar manusia yang bebas tidak dihambat oleh batas-batas antar negara dalam mengadakan tukar menukar informasi. Manusia dan negara-bangsa memiliki kebebasan untuk mengakses informasi dari mana saja sesuai dengan keinginan dan kemampuan teknologi yang dikuasainya. Dalam kehidupan sosial berkembang suatu masyarakat yang disebut masyarakat madani sebagai terjemahan civil siciety. Masyarakat madani adalah suatu masyarakat yang menjamin kebebasan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dalam bidang keamanan dikembangkan konsep keamanan dunia. Diciptakan musuh yang harus dilawan yang dianggap mengganggu ketenteraman dunia. Konsep terorisme dikembangkan dan dijadikan musuh dunia. Suatu negara yang dituduh sebagai sarang teror dipandang sah untuk diserang beramai-ramai. Suatu organisasi yang dipandang menimbulkan ketidak tenteraman divonis sebagai organisasi teror.
Pancasila memiliki konsep tentang kebebasan, tentang hak asasi, tentang demokrasi, serta tentang cara menghadapi dan memecahkan permasalahan yang dihadapi. Dengan demikian Pancasila tidak anti terhadap globalisasi. Tetapi Pancasila tentu saja memiliki kebijaksanaan tersendiri terhadap berlangsungnya globalisasi tanpa kehilangan jati diri. Pancasila akan menjadi kekuatan bangsa yang tangguh dalam mengantisipasi masa depan.
Maka agenda besar kita adalah bagaimana agar PANCASILA (baca: butir-butir Pancasila) selalu dapat menginspirasi para generasi bangsa untuk melanjutkan perjuangan dan mengisi kemerdekaan ini dalam segala bidang kehidupan, agar bangsa besar ini tidak lagi kembali terjajah oleh orang-orang serakah yang terus mencari celah untuk bisa kembali menggagahi Indonesia tercinta ini. Itulah kunci untuk membuktikan bahwa PANCASILA itu memang benar-benar SAKTI.@
Post a Comment

Entri Populer