Google+ Followers

Saturday, 23 November 2013

peran kepala madrasah dalam meningkatkan kinerja guru



PERAN KEPALA MADRASAH
DALAM MENINGKATKAN KINERJA GURU
DI MADRASAH IBTIDAIYAH NEGERI MODEL PRIGI
DAN MADRASAH IBTIDAIYAH MARGOMULYO
KECAMATAN WATULIMO KABUPATEN TRENGGALEK

 


 

A. Latar Belakang Masalah

Era globalisasi merupakan era kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah menimbulkan persaingan dalam berbagai bidang, yang menuntut masyarakat Indonesia untuk memantabkan diri dalam peningkatan kualitas dan sumber daya manusia yang unggul, mampu berdaya saing, menguasai ilmu pengetahuan, teknologi serta mempunyai etos kerja yang tinggi.
Perwujudan manusia yang berkualitas tersebut menjadi tanggung jawab pendidikan terutama dalam mempersiapkan peserta didik menjadi subyek yang makin berperan, menampilkan keunggulan yang tangguh, kreatif, mandiri, dan professional dalam bidangnya masing-masing.
Di Indonesia sekolah/madrasah harus dengan kesungguhannya melaksanakan tugas dan fungsinya untuk mewujudkan tujuan nasional sebagaimana yang tercantum dalam Undang-undang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional beserta penjelasannya Bab II Pasal 3 bahwa:
Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.[1]
Keberhasilan untuk mewujudkan tujuan-tujuan tersebut kepala madrasah mempunyai peran yang sangat penting dalam mengkoordinasikan, menggerakkan, dan menselaraskan sumber daya pendidikan yang tersedia.  Kepala madrasah merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong madrasah untuk dapat mewujudkan visi, misi, tujuan dan sasaran melalui program madrasah yang dilaksanakan secara terencana dan bertahap.
Dalam persaingan global ini, diakui atau tidak lembaga pendidikan atau sistem persekolahan dituntut untuk mengemuka dengan kinerja kelembagaan yang efektif dan produktif. Kepala madrasah sebagai penanggung jawab pendidikan dan pembelajaran di madrasah hendaknya dapat meyakinkan kepada masyarakat bahwa segala sesuatunya telah berjalan dengan baik, termasuk perencanaan dan implementasi kurikulum, penyediaan dan pemanfaatan sumber daya guru, rekrutmen sumber daya murid, kerjasama madrasah dan orang tua, serta sosok outcome madrasah yang prospektif.
Kepala madrasah merupakan unsur vital bagi efektifitas lembaga pendidikan. Kepala madrasah yang baik akan bersikap dinamis untuk menyiapkan berbagai macam program pendidikan. Keberhasilan madrasah adalah keberhasilan kepala madrasah. Kepala madrasah yang berhasil adalah apabila memahami keberadaan sekolah sebagai organisasi yang kompleks, serta mampu melaksanakan peranan dan tanggung jawab untuk memimpin madrasah.[2]
Peran kepala madrasah dalam meningkatkan kesempatan untuk mengadakan pertemuan secara efektif dengan para guru dalam situasi kondusif, perilaku kepala madrasah harus dapat mendorong kinerja para guru dengan menunjukkan rasa bersahabat, dekat dan penuh pertimbangan terhadap para guru, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok. Perilaku pemimpin yang positif dapat mendorong kelompok dalam mengarahkan dan memotifasi individu untuk bekerja sama dengan kelompok dalam rangka mewujudkan tujuan lembaga pendidikan.[3]
Kepala madrasah sebagai pemimpin lembaga pendidikan memiliki andil besar dalam menciptakan suasana kondusif yang ada dalam lingkungan kerjanya. Suasana kondusif tersebut merupakan faktor yang terpenting dalam menciptakan guru yang berprestasi. Guru sebagai pendidik memiliki peran yang sangat penting terhadap kemajuan bangsa Indonesia, guru juga sebagai salah satu faktor penentu keberhasilan pendidikan. Tenaga pendidikan terutama guru merupakan jiwa dari madrasah.[4] Oleh karena itu, peningkatan profesionalisme tenaga kependidikan mulai dari analisis kebutuhan, perencanaan, pengembangan, evaluasi kinerja, hubungan kerja sampai pada imbal jasa, merupakan garapan penting bagi seorang kepala madrasah.
Guru sangat berperan dalam menentukan kualitas lulusan madrasah, artinya untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas diperlukan guru dengan kualitas dan prestasi maksimal. Sedangkan guru dengan kualitas dan prestasi maksimal dapat diperoleh bila ditunjang oleh kepala madrasah  yang baik.
Kinerja guru yang berkualitas ditentukan oleh banyak faktor, diantaranya adalah bagaimana atasan dalam memimpin bawahan. Peran pemimpin  sangat penting dalam organisasi, tanpa adanya pemimpin suatu organisasi hanya merupakan pergaulan orang-orang dan mesin.
Peran adalah kemampuan dan kesiapan yang dimiliki seseorang untuk dapat mempengaruhi, mendorong, mangajak, mamantau dan kalau perlu memaksa orang lain agar menerima pengaruh itu. Selanjutnya berbuat sesuatu yang dapat membantu pencapaian suatau maksud dan tujuan tertentu.[5]
Seorang kepala madrasah mempunyai peran mengatur dan menggerakkan sejumlah orang yang memiliki berbagai sikap, tingkah laku, dan latar belakang  berbeda-beda. Untuk mendapatkan staf yang handal dan dapat membantu tugas kepala madrasah secara optimal,  diperlukan kepala madrasah yang mampu mengarahkan  bawahannya kepada tercapainya tujuan organisasi secara maksimal.
Pemimpin yang efektif selalu menyadari bahwa anggota organisasinya merupakan sumber daya manusia yang sangat berharga karena dikaruniai  otak dan akal fikiran, sehingga pemimpin selalu berupaya menggali, memanfaatkan dan meningkatkan kreatifitas anggotanya untuk mencapai prestasi yang tinggi.[6]
Kinerja guru yang tinggi merupakan perwujudan dari kualitas guru. Hal ini cukup penting dalam rangka mencapai tujuan madrasah. Dengan kinerja yang tinggi berarti para guru benar-benar dapat berfungsi sebagai pendidik yang tepat guna dan berhasil guna sesuai dengan sasaran-sasaran organisasi yang hendak dicapainya.
Apabila tujuan peningkatan  kinerja para guru dapat terpenuhi, maka tujuan pembangunan yang sesuai dengan pancasila, UUD 1945 beserta tujuan Pendidikan Nasional akan segera tercapai, begitu juga dengan menghasilkan lulusan yang berkualitas dan siap menghadapi tuntutan perkembangan zaman.
Madrasah Ibtidaiyah Negeri Model Prigi dan Madrasah Ibtidaiyah Margomulyo Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek merupakan lembaga pendidikan yang ikut berjuang mencerdaskan kehidupan bangsa demi suksesnya tujuan pembangunan nasional Indonesia. Madrasah Ibtida’iyah Negeri Model Prigi dan Madrasah Ibtida’iyah Margomulyo tersebut merupakan lembaga pendidikan  yang berada di bawah naungan Kementerian Agama.
Madrasah Ibtidaiyah Negeri Model Prigi Trenggalek  dijadikan center oleh lembaga-lembaga Madrasah ibtidaiyah di Kabupaten Trenggalek, bahkan sering mendapatkan kejuaraan pada bidang mata pelajaran, olah raga dan seni di tingkat Kecamatan Watulimo ataupun tingkat Kabupaten Trenggalek.[7]  Hal ini menjadi salah satu bukti bahwa para guru telah berhasil dalam usaha mencapai tujuan madrasah. Keberhasilan para guru dalam mencapai tujuan madrasah tersebut merupakan salah satu prestasi kinerja yang ditunjukkan oleh guru yang berasal dari kemampuan dan motivasi yang dimilikinya.
Sedangkan pertimbangan pemilihan lokasi penelitian di Madrasah Ibtida’iyah Margomulyo Kecamatan Watulimo adalah MI Margomulyo merupakan madrasah swasta di bawah naungan yayasan ma’arif yang memiliki jumlah siswa cukup banyak untuk kelompok MI swasta di wilayah Kecamatan Watulimo, memiliki sarana dan prasarana cukup lengkap,  serta memiliki prospek cerah dalam pengembangannya ke depan.[8]
Semua ini tidak lepas dari peran kepala madrasah sebagai pemimpin suatu lembaga pendidikan yang selalu menggerakkan, mengarahkan, dan memberikan motivasi kepada para guru untuk bersungguh-sungguh dalam menjalankan tugasnya demi tercapainya tujuan yang telah ditetapkan bersama.
Berawal dari fakta dan paparan latar belakang masalah di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Peran Kepala Madrasah dalam Meningkatkan  Kinerja Guru (Studi Multi Situs di Madrasah Ibtida’iyah Negeri Model Prigi dan Madrasah Ibtida’iyah Margomulyo Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek)”.

 

B. Fokus Penelitian

Berkaitan dengan peran kepala madrasah dalam meningkatkan kinerga guru di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Model Prigi dan Madrasah Ibtidaiyah Margomulyo Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek maka yang menjadi fokus utama penelitian dalam studi ini sebagai berikut:
1.      Bagaimana peran kepala madrasah sebagai leader dalam meningkatkan kinerja guru di MIN Model Prigi dan MI Margomulyo Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek?
2.      Bagaimana peran kepala madrasah sebagai motivator dalam meningkatkan kinerja guru di MIN Model Prigi dan MI Margomulyo Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek?
3.      Bagaimana peran kepala madrasah sebagai supervisor dalam meningkatkan kinerja guru di MIN Model prigi dan Madrasah Ibtida’iyah Margomulyo Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek?
4.      Bagaimana peran kepala madrasah sebagai manajer dalam meningkatkan kinerja guru di MIN Model Prigi dan MI Margomulyo Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek?
5.      Bagaimana peran kepala madrasah sebagai administrator dalam meningkatkan kinerja guru di MIN Model Prigi dan Madrasah Ibtida’iyah Margomulyo Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan fokus penelitian di atas, tujuan penelitian dapat dijabarkan sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui peran kepala madrasah sebagai leader dalam meningkatkan kinerja guru di MIN Model Prigi dan MI Margomulyo Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek.
2.      Untuk mengetahui peran kepala madrasah sebagai motivator dalam meningkatkan kinerja guru di MIN Model Prigi dan MI Margomulyo Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek.
3.      Untuk mengetahui peran kepala madrasah sebagai supervisor dalam meningkatkan kinerja guru di MIN Model prigi dan Madrasah Ibtida’iyah Margomulyo Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek.
4.      Untuk mengetahui peran kepala madrasah sebagai manajer dalam meningkatkan kinerja guru di MIN Model Prigi dan MI Margomulyo Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek.
5.      Untuk mengetahui peran kepala madrasah sebagai administrator dalam meningkatkan kinerja guru di MIN Model Prigi dan Madrasah Ibtida’iyah Margomulyo Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek.

D.   Kegunaan Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi berbagai pihak terutama yang berperan dalam dunia pendidikan. Adapun kegunaan yang diharapkan adalah sebagai berikut:
a.       Kegunaan secara teoritis
Memberikan kontribusi keilmuan bagi ilmu pendidikan terutama mengenai konsep peran kepala madrasah dalam meningkatkan kinerja guru pendidikan Islam tingkat dasar.
b.      Kegunaan secara praktis
1.      Bagi pihak MIN Model Prigi dan MI Margomulyo Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan tentang peran kepala madrasah dalam meningkatkan kinerja guru.
2.      Bagi peneliti sendiri, hasil penelitian ini dapat meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan peneliti dalam praktik manajemen sumber daya manusia di Madrasah Ibtida’iyah.

E.   Penegasan Istilah

Untuk memperjelas dan menghindari kesalahpahaman, maka perlu didefinisikan beberapa istilah yang sering digunakan dalam judul tesis ini dengan harapan tesis ini mudah dipahami. Istilah-istilah yang dipakai dalam judul tesis sebagai berikut:
1.      Konseptual
a.    Peran kepala madrasah, kepala dapat diartikan sebagai ketua atau pimpinan suatu organisasi atau lembaga sedangkan madrasah adalah sekolah umum yang berciri khas Islam.[9] Secara sederhana kepala madrasah dapat didefinisikan sebagai seorang tenaga fungsional guru yang mendapat tugas untuk memimpin suatu madrasah dimana diselenggarakan proses belajar mengajar. Dengan demikian peran kepala madrasah adalah tindakan pemimpin suatu sekolah dimana diselenggarakan proses belajar mengajar atau tempat terjadinya interaksi antara guru yang memberi pelajaran dan murid yang menerima pelajaran.
b.    Kinerja adalah sesuatu yang dicapai, prestasi yang diperlihatkan, kemampuan kerja.[10] Kinerja sebagaimana dikutip Jerry H. Makawimbang dari Prabowo merupakan terjemahan dari bahasa Inggris, work performance yang dapat diartikan juga sebagai prestasi kerja yakni suatu hasil yang dicapai seseorang setelah ia melakukan suatu kegiatan.[11]
Kinerja atau prestasi kerja merupakan rangkaian tiga elemen yang saling berkaitan yakni: ketrampilan, upaya, dan sifat keadaan kondisi eksternal. Tingkat ketrampilan merupakan bahan mentah yang dibawa oleh seseorang ke tempat kerja, seperti pengetahuan, kemampuan, kecakapan teknis. Tingkat upaya, dapat digambarkan sebagai motivasi yang diperhatikan karyawan untuk menyelesaikan pekerjaan. Sedangkan kondisi ekstenal adalah kondisi di luar diri seseorang yang mendukung produktivitas kerja.
2.      Operasional
Penelitian ini berjudul “Peran Kepala Madrasah dalam Meningkatkan Kinerja Guru (Studi Multi Situs di Madrasah Ibtida’iyah Negeri Model Prigi dan Madrasah Ibtidaiyah Margomulyo Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek)”.  Ruang lingkup  penelitian ini membahas tentang peran kepala madrasah sebagai leader, motivator, supervisor, manajer, dan edukator dalam meningkatkan kinerja guru dalam hubungannya dengan  pengembangan ilmu pengetahuan sebagai pelaksana pendidikan. Kinerja merupakan hasil dari proses atau perilaku dalam melaksanakan atau menyelesaikan sesuatu dari apa yang ingin dicapai berdasarkan standar yang dapat diukur atau dinilai.

F. Tinjauan Pustaka

Untuk mendukung penyusunan laporan penelitian tentang peran kepala madrasah dalam meningkatkan kinerja guru, penulis mengambil beberapa istilah yang ada dalam judul dari beberapa rujukan antara lain:
1.      Peran kepala madrasah
a.    Kepala madrasah sebagai leader (pemimpin)
Kepemimpinan adalah kekuatan dinamis yang penting dalam memotivasi dan mengordinasikan organisasi dalam rangka mencapai tujuan melalui suatu proses untuk mempengaruhi orang lain, baik dalam organisasi maupun di luar organisasi untuk mencapai tujuan yang diinginkan dalam suatu situasi dan kondisi tertentu.[12] Pemimpin pada hakekatnya adalah seseorang yang mempengaruhi perilaku orang lain di dalam kerjanya dengan menggunakan kekuasaan. Kekuasaan adalah kemampuan untuk mengarahkan dan mempengaruhi bawahan sehubungan dengan tugas-tugas yang harus dilaksanakannya.[13] Kepala sekolah/madrasah sebagai pemimpin di sekolah/madrasah tentu mempengaruhi orang lain seperti guru dan tenaga kependidikan lain untuk mencapai tujuan yang ditetapkan pihak sekolah. Tujuan akan tercapai jika kepala sekolah mau dan mampu membangun komitmen dan bekerja keras untuk menjadikan sekolah/madrasah yang dipimpinnya menjadi sekolah/madrasah yang berkualitas dan menjadi terbaik di daerahnya.
Dalam teori kepemimpinan setidaknya ada dua gaya kepemimpinan yaitu kepemimpinan yang berorientasi pada tugas dan kepemimpinan yang berorientasi pada manusia. Dalam rangka meningkatkan kompetensi guru, seorang kepala sekolah dapat menerapkan kedua gaya kepemimpinan tersebut secara tepat dan fleksibel, disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan yang ada.[14]
Kepala madrasah dikatakan sebagai pemimpin yang efektif bilamana mampu menjalankan perannya untuk mendorong, mempengaruhi, mengarahkan kegiatan dan tingkah laku kelompoknya. Kepala madrasah sangat berperan dalam mengembangkan tenaga kependidikan. Hal ini  sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Siagian bahwa arah yang hendak ditempuh oleh organisasi menuju tujuan harus sedemikian rupa sehingga mengoptimalkan pemanfaatan dari segala sarana dan prasarana yang tersedia.[15]
Sedangkan menurut Daryanto, model kepemimpinan yang paling cocok diterapkan di sekolah adalah kepemimpinan pembelajarann karena misi utama sekolah mendidik semua siswa dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk memperoleh pengetahuan, ketrampilan, dan nilai-nilai yang diperlukan untuk menjadi orang dewasa yang sukses dalam menghadapi masa depan yang belum diketahui dan yang sarat dengan tantangan-tantangan yang sangat turbulen. Misi inilah yang kemudian menuntut sekolah sebagai organisasi harus memfokuskan pada pembelajaran (learning focused schools), yang meliputi kurikulum, proses belajar mengajar, dan penilaian hasil belajar (asesmen).[16]
Definisi kepemimpinan pembelajaran yang efektif menurut Petterson sebagaimana dikutip Daryanto adalah sebagai berikut:
1.      Kepala sekolah mensosialisasikan dan menanamkan isi dan makna visi sekolahnya dengan baik. Dia juga mampu membangun kebiasaan-kebiasaan berbagi pendapat atau urun rembug dalam merumuskan visi dan misi sekolahnya, dan dia juga selalu menjaga agar visi dan misi sekolah yang telah disepakati oleh warga sekolah hidup subur dalam implementasinya.
2.      Kepala sekolah melibatkan para pemangku kepentingan dalam pengelolaan sekolah (manajemen partisipatif). Kepala sekolah melibatkan para pemangku kepentingan dalam pengambilan keputusan dan dalam kegiatan operasional sekolah sesuai dengan kemampuan dan batas-batas yuridiksi yang berlaku.
3.      Kepala sekolah memberikan dukungan terhadap pembelajaran , misalnya dia mendukung bahwa pengajaran yang memfokuskan pada kepentingan belajar siswa harus menjadi prioritas.
4.      Kepala sekolah melakukan pemantauan terhadap proses belajar mengajar sehingga memahami lebih mendalam dan menyadari apa yang sedang berlangsung di sekolah.
5.      Kepala sekolah berperan sebagai fasilitator sehingga dengan berbagai cara dia dapat mengetahui kesulitan pembelajaran dan dapat membantu guru dalam mengatasi kesulitan belajar tersebut.[17]
Dalam pelaksanaannya, keberhasilan kepemimpinan kepala sekolah sangat dipengaruhi hal-hal sebagai berikut:
1.      Kepribadian yang kuat. Kepala sekolah harus mengembangkan kepribadiannya agar percaya diri, berani, bersemangat, murah hati, dan memiliki kepekaan sosial.
2.      Memahami tujuan pendidikan dengan baik. Pemahaman yang baikj merupakan bekal utama kepala sekolah agar dapat menjelaskan kepada guru, staf, dan pihak lain serta menemukan strategi yang tepat untuk mencapainya.
3.      Pengetahuan yang luas. Kepala sekoah harus memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas tentang bidang tugasnya maupun bidang yang lain yang terkait.
4.      Ketrampilan profesioanl yang terkait dengan tugasnya sebagai kepala sekolah, yakni ketrampilan teknis seperti penyusunan jadwal pelajaran dan memimpin rapat; ketrampilan hubungan kemanusiaan misalnya bekerja sama dengan orang lain, memotivasi guru/staf; serta ketrampilan konseptual, seperti memperkirakan masalah yang muncul serta mencari pemecahannya.[18]
Jika seorang kepala sekolah/madrasah memenuhi semua persyaratan di atas, maka tujuan pendidikan akan dapat dicapai sesuai yang direncanakan. Oleh karena itu seorang kepala sekolah/madrasah sebagai pemimpin/leader harus dapat memahami, mendalami, dan menerapkan beberapa konsep ilmu manajemen.
b.      Kepala madrasah sebagai motivator
Kepala madrasah merupakan pendorong untuk melakukan suatu perbuatan tertentu dalam meraih keinginan.[19] Motivasi merupakan keinginan yang ada pada seseorang yang merangsang untuk melakukan tindakan.[20]
Tugas kepala sekolah sebagai motivator meliputi tiga hal yaitu kemampuan mengatur lingkungan kerja, seperti mengatur ruang kepala sekolah, ruang TU, ruang kelas, lab, BK, OSIS, perpustakaan, UKS, dan sebagainya; kemampuan mengatur suasana kerja, seperti menciptakan hubungan kerja sesama guru/staf/karyawan yang harmonis, serta mampu menciptakan rasa aman di sekolah;  dan kemampuan menetapkan prinsip penghargaan dan hukuman (reward and punishment) termasuk di dalamnya mampu mengembangkan motivasi eksternal dan internal bagi warga sekolah.[21]
Prinsip-prinsip yang dapat diterapkan kepala madrasah untuk mendorong tenaga kependidikan agar mau dan mampu meningkatkan profesionalismenya, antara lain:
1.      Para tenaga kependidikan akan bekerja lebih giat apabila kegiatan yang diadakan menarik dan menyenangkan.
2.      Tujuan kegiatan perlu disusun dengan jelas dan diinformasikan kepada para tenaga kependidikan dan para tenaga kependidikan dilibatkan dalam penyusunan tujuan tersebut.
3.      Para tenaga kependidikan harus selalu diberitahu tentang hasil dari setiap pekerjaannya.
4.      Pemberian hadiah lebih baik daripada hukuman, namun sewaktu-waktu hukuman juga diperlukan
5.      Usahakan untuk memenuhi kebutuhan tenaga kependidikan dengan jalan memperhatikan kondisi fisiknya, memberikan rasa aman, menunjukkan bahwa kepala madrasah memperhatikan mereka, mengatur pengalaman sedemikian rupa sehingga setiap pegawai pernah memperoleh kepuasan dan penghargaan.[22]
Dengan demikian seorang kepala madrasah dalam fungsinya sebagai motivator harus dapat mengupayakan supaya guru dan semua tenaga kependidikan yang ada di lingkup madrasah bersangkutan selalu meningkatkan kemampuan dan tanggung jawabnya dengan memperhatikan kesejahteraan, dan rasa kebersamaan untuk mencapai produktifitas kerja yang sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.
c.       Kepala madrasah sebagai supervisor
Dari beberapa pendapat yang mengemuka tentang pengertian supervisi, Luk-luk Nur Munfidah menyimpulkan supervisi pendidikan adalah semua usaha yang sifatnya membantu guru atau melayani guru agar dapat memperbaiki, mengembangkan, dan bahkan meningkatkan pengajarannya, serta dapat pula menyediakan kondisi belajar murid yang efektif dan efisien demi pertumbuhan jabatannya untuk mencapai tujuan pendidikan dan meningkatkan mutu pendidikan.[23]
Konsep kepala sekolah sebagai supervisor menunjukkan adanya perbaikan pengajaran pada sekolah yang dipimpinnya. Perbaikan tampak setelah dilakukan sentuhan supervisor berupa bantuan mengatasi kesulitan guru dalam mengajar. Untuk itulah kepala sekolah perlu memahami program dan strategi pengajaran, sehingga ia mampu memberi bantuan kepada guru yang mengalami kesulitan. Bantuan yang diberikan oleh kepala sekolah kepada guru dapat berupa bantuan dukungan fasilitas, bahan-bahan ajar yang diperlukan, penguatan terhadap penguasaan materi dan strategi pengajaran, pelatihan, magang dan bantuan lainnya yang akan meningkatkan efektivitas program pengajaran dan implementasi program dalam aktivitas belajar di kelas.[24]
Beberapa prinsip yang perlu diperhatikan oleh supervisor agar supervisi yang dilakukan berhasil, sebagaimana dikutip Muhtar dari Piet Sahertian adalah sebagai berikut:
1.      Dilakukan berdasarkan inisiatif guru, perilaku supervisor harus sedemikian teknis sehingga para guru terdorong untuk minta bantuan supervisor.
2.      Ciptakan hubungan yang bersifat manusiawi yang bersifat interaktif dan rasa kesejawatan.
3.      Ciptakan suasana yang bebas dimana setiap orang bebas dan berani mengemukakan apa yang dialaminya. Supervisor berusaha dapat menjawab dan menemukan solusi atas apa yang diharapkan guru.
4.      Obyek kajian adalah kebutuhan guru yang riil, tentunya yang mereka alami.
5.      Perhatian dipusatkan pada unsur-unsur spesifik yang harus diangkat dan diperbaiki.[25]
Hasil dari supervisi harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kinerja guru dan pengembangan madrasah. Supervisi bisa dilakukan melalui diskusi kelompok, kunjungan kelas, pembicaraan individual dan simulasi pembelajaran. Adapaun keberhasilan kepala madrasah sebagai supervisor bisa dilihat dari meningkatnya kesadaran guru untuk meningkatkan kinerja dan meningkatnya ketrampilan guru dalam melaksanakan tugasnya.[26]
Maka supervisi memiliki tujuan utama untuk meningkatkan kemampuan profesional guru yang pada akhirnya meningkatkan proses belajar mengajar dan hasil akhir supervisi akan direfleksi pada peningkatan hasil belajar murid.
d.      Kepala madrasah sebagai manajer
Manajemen pada hakekatnya merupakan suatu proses merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan, memimpin, dan mengendalikan usaha para anggota organisasi serta mendayagunakan seluruh sumber-sumber daya organisasi dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan.[27] Maka peran seorang kepala madrasah sebagai manajer tentu adalah mengelola tenaga kependidikan yang ada di madrasah yang dipimpinnya.
Dalam mengelola tenaga kependidikan, salah satu tugas yang harus dilakukan kepala madrasah adalah melaksanakan kegiatan pemeliharaan dan pengembangan profesi guru. Dalam hal ini, kepala madrasah seyogyanya dapat memfasilitasi dan memberikan kesempatan yang luas kepada para guru untuk dapat melaksanakan kegiatan pengembangan profesi melalui berbagai kegiatan pendidikan dan pelatihan.[28]
Dalam rangka melakukan peran dan fungsinya sebagai manajer, kepala sekolah/madrasah harus memiliki strategi yang tepat untuk memberdayakan tenaga kependidikan melalui kerja sama atau kooperatif, memberi kesempatan kepada para tenaga kependidikan untuk meningkatkan profesinya, dan mendorong keterlibatan seluruh tenaga kependidikan dalam berbagai kegiatan yang menjunjung program sekolah/madrasah.
Kepala madrasah sebagai manajer mempunyai 4 tugas penting, yaitu menyusun program madrasah, menyusun organisasi kepegawaian di madrasah, menggerakkan staf (guru dan karyawan), dan mengoptimalkan sumber daya madrasah.[29]
Secara lebih rinci tugas kepala sekolah/madrasah sebagai manajer dapat dijabarkan sebagai berikut:
1.      Mengadakan prediksi masa depan sekolah, misalnya tentang kualitas yang diinginkan masyarakat.
2.      Melakukan inovasi dengan mengambil inisiatif dan kegiatan-kegiatan yang kreatif untuk kemajuan sekolah.
3.      Menciptakan strategi atau kebijakan untuk menyukseskan pikiran-pikiran yang inovatif tersebut.
4.      Menyusun perencanaan, baik prencanaan strategis maupun perencanaan operasional.
5.      Menemukan sumber-sumber pendidikan dan menyediakan fasilitas pendidikan.
6.      Melakukan pengendalian atau kontrol terhadap pelaksanaan pendidikan dan hasilnya.[30]
e.       Kepala madrasah sebagai administrator
Kepala sekolah/madrasah sebagai administrator memiliki hubungan yang sangat erat dengan berbagai aktivitas pengelolaan administrasi yang bersifat pencatatan, penyusunan, dan pendokumenan seluruh program sekolah.[31]
Tugas kepala sekolah sebagai administrator berkisar pada enam hal penting, yaitu mengelola administrasi KBM dan BK, mengelola administrasi kesiswaan, mengelola administrasi ketenagaan, mengelola administrasi keuangan, mengelola administrasi keuangan, mengelola adminstrasi sarana prasarana, dan mengelola adminstrasi persuratan.[32]
Sebagai administrator sekolah, kepala sekolah mempunyai tugas dan tanggung jawab melaksanakan fungsi-fungsi administrasi yang diterapkan ke dalam kegiatan-kegiatan sekolah yang dipimpinnya, seperti membuat rencana atau program tahunan, menyusun organisasi sekolah, melaksanakan pengoordinasian dan pengarahan, dan melaksanakan pengelolaan kepegawaian.[33]
Karena kegiatan administratif adalah kegiatan kelompok yang akan menghadapi berbagai situasi berkaitan dengan kelembagaan, maka kemampuan kepala sekolah mengendalikan lembaga untuk bertahan bahkan meningkat pada standard yang ditentukan menjadi sangat penting bagi sekolah sebagai lembaga. Untuk menjamin kualitas kinerja terus meningkat, maka kepala sekolah dengan cara-cara yang objektif dan profesional mendorong dan memfasilitasi setiap guru untuk merencanakan dan melaksanakan pekerjaannya sendiri. Situasi-situasi sederhana di sekolah seperti lingkungan sekolah, iklim organisasi, interaksi antar personel, kegiatan rutin, budaya kerja dan sebagainya merupakan hal yang penting dirawat dan senantiasa menjadi perhatian kepala sekolah.[34]
Tugas secara rinci pengelola (administrator) pendidikan menurut Poerbakawatja dan Harahap seperti dikutip Syaiful Sagala antara lain adalah:
1)      Perencanaan, yaitu menguraikan dalam garis-garis besar hal-hal yang harus dikerjakan dan metode ke arah pelaksanaan tujuan.
2)      Pengorganisasian, yaitu penentuan suatu kerangka yang menunjukkan wewenang untuk mengatur bagian-bagian dan membatasinya, serta mengoordinasikannya untuk tujuan tertentu.
3)      Menyusun suatu staf, yaitu memasukkan dan melatih personel dan memelihara pekerjaan yang menguntungkan.
4)      Memimpin suatu tugas secara terus-menerus, yaitu membuat keputusan-keputusan dan mencantumkannya ke dalam peraturan-peraturan umum dan instruksi-instruksi yang berfungsi sebagai pemimpin dalam usaha.
5)      Mengoordinasi, yaitu menghubung-hubungkan berbagai bagian dari pekerjaan agar semua anggota kelompok mendapatkan keputusan yang sama.
6)      Membuat laporan untuk atasan, yang berarti bahwa pimpinan dan para bawahannya melalui catatan-catatan, penyelidikan-penyelidikan, pengawasan yang selalu mengikuti seluk-beluk dan pekerjaan.
7)      Menentukan anggaran belanja, suatu perencanaan mengenai keuangan, pertanggungjawaban dan kontrol.[35]
Rangkaian tugas kepala sekolah/madrasah ini menyiratkan adanya kebijakan-kebijakan penting yang diambil kepala sekolah/madrasah sebagai administrator di sekolah/madrasah yang dipimpinnya.


2.      Kinerja guru
Dalam kamus Umum Bahasa Indonesia, kinerja diartikan sebagai (1) sesuatu yang dicapai, (2) prestasi yang diperlihatkan, (3) kemampuan kerja.[36]
Kinerja pengajar (guru) adalah perilaku atau respon yang memberi hasil yang mengacu kepada apa yang mereka kerjakan ketika dia menghadapi suatu tugas. Kinerja tenaga pengajar menyangkut semua kegiatan atau tingkah laku yang dialami tenaga pengajar, jawaban yang mereka buat, untuk memberi hasil atau tujuan.[37] 
Aktivitas guru dalam penilain kinerja pada dasarnya berkisar pada hal-hal berikut:
1)      Kegiatan sebelum mengaja.r
2)      Kegiatan selama mengajar.
3)      Kegiatan selama segmen pengajaran reguler.
4)      Kegiatan tentang keterlibatan tenaga pengajar (guru) dalam masyarakat pendidik atau lingkungannya secara lebih luas.[38]
Faktor yang mempengaruhi kinerja menurut Mangkunegara (2000)  sebagaimana dikutip Jerry H. Makawimbang antara lain faktor kemampuan secara psikologis kemampuan (ability) pegawai terdiri dari kemampuan potensi (IQ) dan kemampuan realita (pendidikan).[39] Sedangkan menurut Gibson (1987) ada tiga faktor yang berpengaruh terhadap kinerja yaitu (1) faktor individu; kemampuan, ketrampilan, latar belakang keluarga, pengalaman kerja, tingkat sosial, dan demografi seseorang, (2) faktor psikologis; persepsi, peran, sikap, kepribadian, motivasi dan kepuasan kerja, (3) faktor organisasi; struktur organisasi, desain pekerjaan, kepemimpinan, sistem penghargaan (reward system).[40]
Kinerja sangat terkait dengan produktifitas, karena kinerja merupakan indikator dalam menentukan bagaimana usaha untuk mencapai tingkat produktifitas yang lebi tinggi dalam suatu organisasi. Oleh sebab itu upaya untuk mengadakan penilaian terhadap kinerja atau prestasi kerja di suatu lembaga atau organisasi merupakan hal yang sangat penting. Apabia penilaian kinerja ini di dilakukan di sekolah/madrasah, tentu akan memberikan keuntungan bagi sekolah/madrasah bersangkutan, dan bagi guru khususnya akan dapat mengetahui sejauh mana dan bagaimana prestasi kerjanya dinilai oleh atasan atau team penilai. Kelebihan dan kekurangan yang ada dapat menjadi cambuk dan motivasi dalam mencapai kemajuan di masa datang.

G.   Penelitian Terdahulu

Studi tentang peran kepala madrasah dalam meningkatkan kinerja guru telah dikaji oleh peneliti dan praktisi. Adapun kajian terdahulu antara lain:
1.    Penelitian yang dilakukan oleh Ibadul Mutho’i berjudul Peran Kepala Madrasah dalam Pembinaan Guru untuk Meningkatkan Prestasi Kerja Guru di MIN Slemanan Udanawu Blitar.
Kajian dalam penelitian ini mencakup hal tentang bagaimana peran kepala madrasah ibtidaiyah negeri dalam pembinaan guru untuk meningkatkan prestasi kerja guru. Dengan berbagai macam upaya baik motivasi maupun strategi yang diakukan oleh kepala madrasah yang diharapkan dapat meningkatkan prestasi kerja guru, sehingga hal ini juga akan berpengaruh terhadap kualitas pembelajaran.
2.    Penelitian yang dilakukan oleh Mutmainah Retno Utami yang berjudul Pengaruh Peran Kepala Sekolah dan Iklim Sekolah terhadap Kinerja Guru SMP Negeri 8 Semarang.
Dalam penelitian ini disimpulkan bahwa ada pengaruh yang signifikan antara peran kepala sekolah terhadap kinerja guru SMP Negeri 8 Semarang, iklim sekolah juga berpengaruh terhadap kinerja guru di SMP Negeri 8 Semarang, peran kepala sekolah lebih berpengaruh terhadap kinerja guru SMP Negeri 8 Semarang dibandingkan dengan iklim sekolah, dimana peran kepala sekolah berpengaruh sebesar 68,3 persen
Ibadul dan Mutmainah lebih memfokuskan pada pengaruh peran kepala madrasah terhadap peningkatan prestasi kerja guru, sedangkan penelitian ini membahas peran kepala madrasah sebagai motivator, supervisor dan leader dalam meningkatkan kinerja guru.

H.   Metode Penelitian

1. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Penelitian mengenai peran kepala madrasah dalam meningkatkan kinerja guru yang peneliti lakukan di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Model Prigi dan Madrasah Ibtidaiyah Margomulyo Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek ini menggunakan pendekatan kualitatif sebab jenis penelitian ini tidak hanya ingin mengumpulan data dari segi kualitasnya saja,  tetapi ingin juga memperoleh pemahaman yang lebih mendalam. Penulis tidak menemukan sumber datanya atau nara sumber secara kuantitatif menggunakan purvose sampling. Purposif sampling disebut juga dengan sample bertujuan. Sample bertujuan dilakukan dengan cara mengambil subyek yang didasarkan atas adanya tujuan tersebut.[41] Pola tersebut lazim disebut  dengan creation baset sampling artinya bahwa penggunaan sumber data atau nara sumber dianggap cukup manakala informasi yang diperlukan sudah cukup memadai sehingga sering kali jumlah nara sumber atau sumber data memungkinkan untuk selalu berkembang dan bertambah.
Tesis ini menggunakan rancangan studi multi situs penelitian yang berupaya mencari kebenaran ilmiah dengan cara mempelajari secara mendalam perkembangan dari satu individu, kelompok orang, lembaga dan tidak mustahil perkembangan suatu kejadian khusus.[42]
Studi multi situs ini dimaksudkan untuk mencoba mengamati perkembangan dan fonomena yang terjadi pada sebuah organisasi dalam hal ini organisasi yang menjadi obyek penelitian adalah Madrasah Ibtida’iyah Negeri Model Prigi dan Madrasah Ibtida’iyah Margomulyo Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek.
Sifat penelitian ini berupa penelitian deskriptif kualitatif. Oleh sebab itu pendekatan yang dilakukan adalah melalui pendekatan kualitatif dengan memakai bentuk studi multi situs. Maksudnya dalam penelitian deskriftif kualitatif data yang dikumpulkan bukan berupa angka-angka melainkan data tersebut mungkin berasal dari naskah wawancara, catatan lapangan, dokumen pribadi, catatan memo, dan dokumen resmi lainya sehingga yang menjadi tujuan dalam penelitian deskriftif kualitatif ini adalah ingin menggambarkan dan menginterprestasikan objek sesuai apa adanya.[43]
2.  Kehadiran Peneliti
Instrumen utama dalam penelitian ini adalah manusia.[44] Karena itu untuk menyimpulkan data secara koprehensif maka kehadiran peneliti di lapangan sangat diutamakan karena mengumpulkan data dilakukan yang sebenarnya tanpa dimanipulasi dibuat dan dipanjanglebarkan
Dalam penelitian  ini peneliti bertindak sebagai instrumen sekaligus mengumpulkan data sehingga dapat dikatakan peneliti  bertindak sebagai instrumen kunci. Peneliti dalam hal ini akan melakukan observasi, wawancara  dan mengambil dokumen.
3.  Lokasi Penelitian
Peneliti sengaja memilih lokasi penelitian di Madrasah Ibtida’iyah Negeri Model Prigi dan Madrasah Ibtida’iyah Margomulyo Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek dengan pertimbangan Madrasah Ibtida’iyah Negeri Model Prigi adalah madrasah favorit dan menjadi sentral madrasah-madrasah lain. Madrasah Ibtida’iyah ini memiliki guru-guru yang variatif dengan latar belakang pendidikan yang beragam karena sudah ada beberapa guru yang memiliki pendidikan S.2 termasuk kepala madrasahnya. Sedangkan Madrasah Ibtida’iyah Margomulyo, walau madrasah swasta juga termasuk madrasah yang cukup diminati, memiliki murid cukup banyak sekitar 200 siswa,  juga guru-guru yang memiliki latar pendidikan beragam.
Dengan demikian sesuai dengan fokus masalah penelitian yang telah dikemukakan, objek dalam tesis ini adalah Madrasah Ibtida’iyah Negeri Model Prigi dan Madrasah Ibtida’iyah Margomulyo Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek yang berkenaan dengan peran kepala madrasah dalam meningkatkan  kinerja guru.
4.      Sumber Data Penelitian
Sumber data adalah subyek dari mana data diperoleh.[45] Sumber data diidentifikasikan menjadi 3 yaitu person, place dan paper.
1.    Person yaitu sumber data berupa orang yang bisa memberikan data berupa jawaban lisan melalui wawancara. Dalam penelitian ini personnnya adalah kepala madrasah Ibtidaiyah Negeri Model Prigi dan Madrasah Ibtidaiyah Margomulyo Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek.
2.    Place yaitu sumber data berupa tempat atau sumber data yang menyajikan tampilan berupa keadaan diam dan bergerak, meliputi fasilitas gedung, kondisi lokasi, kegiatan belajar-mengajar, kinerja, aktifitas dan sebagainya yang ada di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Model Prigi dan Madrasah Ibtidaiyah Margomulyo Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek
3.    Paper yaitu data berupa simbol atau sumber data yang menyajikan tanda-tanda berupa huruf, angka, gambar, simbol-simbol dan lain-lain. Dalam penelitian ini papernya adalah berupa benda-benda tertulis seperti: buku-buku, arsip, catatan-catatan, dokumen yang ada di kepala Madrasah Ibtidaiyah Negeri Model Prigi dan Madrasah Ibtidaiyah Margomulyo Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek.
5.      Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1)   Obsevasi Partisipan
Observasi adalah teknik pengumpulan data yang menggunakan pengamatan terhadap obyek penelitian. Suharsimi Arikunto mengatakan bahwa observasi meliputi kegiatan pemusatan perhatian terhadap sesuatu obyek dengan menggunakan seluruh alat indera. Jadi observasi dapat dilakukan melalui penglihatan, penciuman, pendengaran, peraba, dan pengecap.[46]
Dengan demikian dapat difahami bahwa observasi merupakan suatu teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data dengan memusatkan segenap perhatian terhadap suatu obyek penelitian dengan menggunakan seluruh indera.
Jenis observasi yang dilakukan peneliti dalam penelitian ini adalah observasi partisipan. Menurut Burhan Bungin Observasi partisipan adalah pengumpulan data melalui observasi terhadap obyek pengamatan langsung dengan hidup bersama, merasakan serta berada dalam sirkulasi kehidupan obyek.[47]
Dengan demikian peneliti melibatkan diri atau berinteraksi dengan kegiatan yang dilakukan subyek dalam lingkungannya dengan mengumpulkan data secara sistematis dari data yang diperlukan. Teknik ini digunakan untuk mengumpulkan data karena dengan teknik ini akan diperoleh informasi dan data tentang letak geografis, keadaan madrasah, sarana dan prasarana, kondisi organisasi serta segala aspek yang ada dalam lingkup peran Kepala madrasah Ibtidaiyah Negeri Model Prigi dan Madrasah Ibtidaiyah Margomulyo Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek .
2)      Wawancara Mendalam
Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu.[48] Patton sebagaimana dikutip Mantja mengemukakan bahwa tujuan wawancara adalah untuk mendapatkan atau menemukan apa yang terdapat di dalam pikiran orang lain. Wawancara digunakan untuk menemukan sesuatu yang tidak mungkin diperoleh melalui pengamatan secara langsung.[49]
Metode wawancara digunakan dalam penelitian ini karena mempunyai beberapa keunggulan yang mungkin tidak dimiliki oleh metode penelitian lainnya. Keunggulan tersebut sebagaimana diungkap oleh Sukardi berikut ini:
a.    Penelitian memperoleh jawaban yang relatif tinggi dari responden.
b.    Peneliti dapat membantu menjelasakan lebih, jika ternyata responden mengalami kesulitan menjawab karena ketidak jelasan pertanyaan.
c.    Peneliti dapat mengontrol jawaban responden secara lebih teliti dengan mengamati reaksi atau tingkah laku yang diakibatkan oleh pertanyaan dalan proses wawancara.
d.   Peneliti dapat memperoleh informasi yang tidak dapat diungkapkan dengan cara kuesioner maupun observasi. Informasi tersebut misalnya, jawaban yang sifatnya pribadi dan bukan pendapat kelompok, atau informasi alternatif dari suatu kejadian penting.[50]
Dalam kaitannya dengan penelitian ini, bentuk wawancara yang digunakan peneliti adalah wawancara mendalam, yaitu dalam melakukan wawancara peneliti tidak menggunakan guide tertentu, dan semua pertanyaan bersifat spontan sesuai dengan apa yang dilihat, didengar, dirasakan pada saat pewawancara bersama responden dalam hal ini kepala madrasah dan guru Madrasah Ibtida’iyah Negeri Model Prigi dan juga Madrasah Ibtida’iyah Margomulyo Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek.
3)      Dokumentasi
Data penelitian kualitatif sebagian besar diperoleh dari manusia dan perilakunya, walaupun data itu lebih banyak diperoleh dari sumber wawancara, tetapi data tersebut juga dapat diperoleh dari sumber data yang bukan manusia dan bersifat non interaktif.
Data non interaktif ini biasanya berupa dokumen/arsip. Dokumentasi berarti catatan (bahan tertulis), surat bukti. Pada penelitian, dokumentasi digunakan sebagai sumber data untuk menguji, menafsirkan serta meramalkan.[51]
Mantja menyatakan bahwa dalam penelitian kualitatif data dokumen biasanya dianggap sebagai data sekunder, karena data primer adalah data yang diperoleh langsung dari tangan pertama yaitu subyek penelitian, partisipan dan informan.[52]
Pada penelitian ini metode dokumentasi digunakan untuk memperoleh data yang berupa dokumen atau catatan-catatan yang ada di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Model Prigi dan Madrasah Ibtidaiyah Margomulyo Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek.
6.      Analisis Data
Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sistesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah difahami oleh diri sendiri maupun orang lain.[53]
Analisis data dalam penelitian kualitatif menurut Matthew B. Milles terdiri dari tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan, yaitu: reduksi data, penyajian data, dan verifikasi atau penarikan kesimpulan.[54]
1)   Reduksi data
Reduksi data merupakan proses berfikir sensitive yang memerlukan kecerdasan, keluasan, dan kedalaman wawasan yang tinggi.[55] Data yang didapat dari lokasi penelitian dituangkan dalam laporan secara rinci. Kemudian dalam proses ini peneliti dapat melakukan pilihan-pilihan terhadap data yang hendak dikode, mana yang akan dihilangkan dan mana yang akan dipakai sebagai data penelitian.[56] Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran lebih jelas dan mempermudah peneliti untuk mendapatkan data selanjutnya.
2)   Penyajian data
Penyajian data atau display data merupakan proses penyajian sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan.[57] Penyajian data dimaksudkan untuk mempermudah peneliti melihat gambaran secara keseluruhan atau bagian tertentu dari penelitian secara akurat (valid).
3)   Verifikasi data (conclusion drawing)
Dalam penelitian ini proses verifikasi dilakukan terus menerus selama proses penelitian berlangsung. Saat memasuki obyek penelitian (lapangan) serta selama proses pengumpulan data, peneliti berusaha menganalisis serta mencari arti dari data yang terkumpul, yakni mencari pola-pola, penjelasan, konfigurasi-konfigurasi yang mungkin, alur sebab akibat serta proposisi.[58] Kesimpulan dalam penelitian kualitatif adalah merupakan temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada. Temuan dapat berupa deskripsi atau gambaran suatu obyek yang sebelumnya masih remang-remang atau gelap sehingga setelah diteliti menjadi jelas, dapat berupa hubungan kausal atau interaktif, hipotesis atau teori.[59]
Analisis data interaktif model Miles dan Huberman sebagaimana dikutip Andi Prastowo dapat digambarkan pada bagan berikut:
Conclusion Drawing
Data Display
Data Reduction
Data Colection
 






Bagan 1. Analisis Data Interaktif Model[60]


7.      Pengecekan Keabsahan data
Pengecekan atau pemeriksaan diperlukan untuk menjamin keabsahan data. pemeriksaan data menganut teknik tertentu yang dipandang sesuai dengan model penelitian yang dilakukan.
Dalam penelitian kualitatif, ada berbagai model teknik pemeriksaan keabsahan data, yakni perpanjangan keikutsertaan, ketekunan pengamatan, triangulasi, pengecekan sejawat, kecukupan referensial, kajian kasus negatif, pengecekan anggota, uraian rinci, audit kebergantungan, dan audit kepastian.[61] Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik ketekunan pengamatan, triangulasi, dan pengecekan sejawat.
Ketekunan pengamatan dilakukan dengan cara peneliti mengadakan pengamatan secara teliti dan cermat,  serta berkesinambungan. Dengan cara seperti ini maka kepastian data dari urutan peristiwa akan dapat direkam secara pasti dan sistematis.[62] Untuk mendukung cara ini, peneliti banyak membaca referensi buku maupun hasil penelitian atau dokumentasi-dokumentasi yang terkait dengan temuan yang diteliti. Dengan membaca ini maka diharapkan wawasan peneliti akan semakin luas dan tajam, sehingga dapat digunakan untuk memeriksa data yang ditemukan itu benar/terpercaya atau tidak.
Triangulasi diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara, dan berbagai waktu. Ada tiga macam triangulasi, yaitu triangulasi sumber, triangulasi teknik, dan triangulasi waktu. Triangulasi sumber dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui berbagai sumber. Triangulasi teknik dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik berbeda. Sedangkan triangulasi waktu dilakukan dengan cara melakukan pengecekan dengan wawancara, observasi atau teknik lain dalam waktu atau situasi yang berbeda.[63]
Pengecekan sejawat dilakukan dengan cara mengekspos hasil sementara atau hasil akhir yang didapatkan dalam bentuk diskusi dengan rekan-rekan sejawat.[64] Dengan diskusi akan menghasilkan masukan dalam bentuk kritik, saran, arahan, dan lain-lain sebagai bahan pertimbangan berharga bagi proses pengumpulan data selanjutnya dan analisis data sementara serta analisis data akhir.
8.      Tahapan-Tahapan Penelitian
 Tahapan-tahapan penelitian dalam penelitian kualitatif menurut Moleong seperti dikutip oleh Ahmad Tanzeh terdiri dari tahap pralapangan, tahap pekerjaan lapangan, tahap analisa data, dan tahap pelaporan hasil penelitian.[65]
Dalam tahap pralapangan, peneliti melakukan persiapan yang terkait dengan kegiatan penelitian, misalnya mengirim surat ijin ke tempat penelitian. Apabila tahap pralapangan sudah berhasil dilaksanakan, peneliti melanjutkan ke tahap berikutnya sampai pada tahap pelaporan penelitian tentang peran kepala madrasah dalam meningkatkan kinerja guru di MIN Model Prigi dan MI Margomulyo Watulimo Trenggalek.
Penelitian ini direncanakan  mulai 28 Mei 2013 sampai dengan 24 Agustus 2013. Akan tetapi bila data yang dikumpulkan dirasa belum mencukupi maka peneliti akan memeperpanjang waktu penelitian hingga tanggal 7 September 2013.

I.  Sistematika Pembahasan

Sistematika pembahasan tesis ini dibagi menjadi enam bab, yaitu:
Bab I: Pendahuluan, membahas tentang: Latar belakang masalah, fokus penelitian, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, dan penegasan istilah.
Bab II: Kajian pustaka, membahas tentang: Peran kepala madrasah, kinerja guru, serta hasil penelitian terdahulu.
Bab III: Metode penelitian, membahas tentang: Pendekatan dan rancangan penelitian, kehadiran peneliti, lokasi penelitian, sumber data, teknik pengumpulan data, analisis data, pengecekan keabsahan data, serta tahapan-tahapan penelitian.
Bab IV: Paparan data dan temuan penelitian, membahas tentang: Visi dan misi madrasah serta peran kepala madrasah sebagai leader (pemimpin), manajer, supervisor, administrator, motivator dalam meningkatkan kinerja guru.
Bab V: Pembahasan temuan penelitian
BabVI: Penutup terdiri dari kesimpulan dan saran.



DAFTAR PUSTAKA

Arifin M, Peran dan Motivasi Kerja. Yogyakarta: Teras, 2010.
Arikunto, Suharsimi, Metodologi Penelitian Kuantitatif. Jakarta: Rineka Cipta, 1992.

_______, Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta, 1993.

Asmani, Jamal Ma’mur, Tips Aplikasi Manajemen Sekolah. Jogjakarta: Diva Press, 2012.
Badudu, Zain, Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2001.

Bungin, Burhan, Metodologi Penelitian Sosial: Format-format Kuantitatif dan Kualitatif. Surabaya: Airlangga University Press, 2001.

Daryanto, Peran Kepala Sekolah sebagai Pemimpin Pembelajaran. Yogyakarta: Gava Media, 2011.
Dirawat, dkk., Pengantar Kepemimpinan Pendidikan. Surabaya: Usaha Nasional, 1983.

Fattah, Nanang, Landasan Manajemen Pendidikan . Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009.

Makawimbang, Jerry H., Kepemimpinan Pendidikan yang Bermutu. Bandung: Alfabeta, 2012.
Mantja, W., Etnografi: Desain Penelitian Kualitatif dan Manajemen Pendidikan. Malang: Wineka Media, 2005.

Marno dan Triyo Supriyatno, Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Islam. Bandung: Reika Aditama, 2008.

Milles, Matthew B. dan Huberman, Analisis Data Kualitatif: Buku Sumber tentang Metode-Metode Baru. Tjetjep Rohendi Rohidi (terj.). Jakarta: UI Press, 1992.

Moleong, Lexy J., Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000.
Muhadjir, Noeng, Metodologi Penelitian Kuantitatif. Yogyakarta: Rake Sarasin, 1989.

Mulyasa, E., Manajemen Berbasis sekolah: Konsep Strategi dan Implementasi. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2003.

_________, Menjadi Kepala Sekolah Profesional dalam Konteks Mensukseskan MBS dan KBK. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2005.

Nawawi, Hadari, dan Martini Hadari,  Kepemimpinan yang Efektif. Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 2004.

Ndraha, Taliziduhu, Pengantar Teori Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: Rineka Cipta, 2002.

Nur Munfidah, Luk-luk, Supervisi Pendidikan. Yogyakarta: Teras, 2009.

Prastowo, Andi, Metode Penelitian Kualitatif dalam Perspektif Rancangan Penelitian. Jogjakarta: Ar-ruzz Media, 2012.
Purwanto, Ngalim, Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 1995.

Sagala, Syaiful, Supervisi Pembelajaran. Bandung: Alfabeta, 2010.
Siagian, Sondang P., Manajemen Stategik. Jakarta: PT. Bumi Aksara,1994.

Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta, 2001.

Sukardi, Metodologi Penelitian Kualitatif: Kompetensi dan Praktiknya. Jakarta: Bumi Aksara, 2004.
______, Metode Penelitian Pendidikan Kompetensi dan Prakteknya. Jakarta: Bumi Aksara, 2005.

Suprayogo dan Thobroni, Metodologi Penelitian Sosial Agama. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003.
Tanzeh, Ahmad, & Suyitno, Dasar-DasarPenelitian. Surabaya: Elkaf, 2006.

Undang-Undang RI No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Penjelasannya. Bandung: PT. Citra Umbara, 2003.

Wahjusumidjo, Kepemimpinan Kepala Sekolah, Tinjauan Teoritik dan Permasalahannya. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003.

Wiraatmadja, Rochiati, Metode Penelitian Tindakan Kelas. Bandung: Rosda Karya, 2007.

Yamin, Martinis dan Maisah, Standarisasi Kinerja Guru. Jakarta: Gaung Persada Press, 2010.



[1]UU RI No. 20 Th. 2003, Tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Penjelasannya (Bandung: PT Citra Umbara, 2003), h. 7.               
[2]Wahjosumijdo, Kepemimpinan Kepala Sekolah, Tinjauan Teoritik dan Permasalahannya (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003), h. 81.
[3]E. Mulyasa, Manajemen Berbasis sekolah: Konsep Strategi dan Implementasi (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003), h. 107.
[4]E. Mulyasa, Menjadi Kepala Sekolah Profesional, dalam konteks Mensukseskan MBS dan KBK ( Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005), h. 90.
[5]Dirawat dkk, Pengantar Kepemimpinan Pendidikan (Surabaya: Usaha nasional, 1983), h. 15.
[6]Hadari Nawawi dan Martini Hadari, Kepemimpinan yang Efektif (Yogyakarta: Gajah Mada University Press, 2004), h. 177.
[7]Muslim (Guru MIN Model Prigi), Wawancara, MIN Model Prigi, 11 Maret 2013.
[8]Imam Mashudi (Guru MI Margomulyo), Wawancara, MI Margomulyo, 11 Maret 2013.

[9]Ngalim Purwanto,  Administrasi dan Supervisi Pendidikan (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya, 1995), h. 26.
[10]Badudu Zain,  Kamus Umum Bahasa Indonesia  (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2001), h. 697.
[11]Jerry H. Makawimbang, Kepemimpinan Pendidikan yang Bermutu (Bandung: Alfabeta, 2012), h. 219.
[12]Syaiful Sagala, Supervisi Pembelajaran dalam Profesi Pendidikan (Bandung: Alfabeta, 2010) , h. 124.
[13]Nanang Fattah, Landasan Manajemen Pendidikan (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009), h. 88.
[14]Daryanto,  Kepala Sekolah sebagai Pemimpin Pembelajaran (Yogyakarta: Gava Media, 2011), h. 32.
[15]Sondang P. Siagian, Manajemen Stategik (Jakarta: PT. Bumi Aksara,1994), h. 46.
[16]Daryanto, Kepala Sekolah..., h. 67.
[17]Ibid., h. 68.
[18]Jamal Ma’mur Asmani, Tips Aplikasi Manajemen Sekolah (Jogjakarta: Diva Press, 2012), h. 185-186.
[19]Arifin M, Peran dan Motivasi Kerja (Yogyakarta: Teras, 2010), h. 28.
[20]Marno dan Triyo Supriyatno, Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Islam (Bandung: Reika Aditama, 2008), h. 22.
[21]Jerry H. Makawimbang, Kepemimpinan Pendidikan..., h. 87-88.
[22]E. Mulyasa, Menjadi Kepala..., h. 121-122.
[23]Luk-luk Nur Munfidah, Supervisi Pendidikan (Yogyakarta: Teras, 2009), h. 10.
[24]Syaiful Sagala, Supervisi Pembelajaran..., h. 134.
[25]Muhtar dan Iskandar, Orientasi Baru Supervisi Pendidikan (Jakarta: Gaung Persada Pers, 2009), h. 62.
[26]E. Mulyasa, Menjadi Kepala..., h. 113-114.
[27]E. Mulyasa, Menjadi Kepala..., h.103.
[28]Daryanto, Kepala Sekolah..., h.31.
[29]Jerry H. Makawimbang, Kepemimpinan Pendidikan..., h. 83.
[30]Jamal Ma’mur Asmani, Tips Aplikasi..., h. 184-185.
[31]E. Mulyasa, Menjadi Kepala..., h. 107
[32]Jerry H. Makawimbang, Kepemimpinan Pendidikan..., h. 84.
[33]Ngalim Purwanto, Adminstrasi..., h. 112.
[34]Syaiful Sagala, Supervisi Pembelajaran..., h. 119.
[35]Ibid., h. 120.
[36]Badudu Zein, Kamus Umum Bahasa Indonesia (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan), h. 697.
[37]Martinis Yamin dan Maisah, Standarisasi Kinerja Guru (Jakarta: Gaung Persada Press, 2010), h. 87.
[38]Ibid., h. 88.
[39]Jerry H. Makawimbang, Kepmiempinan Pendidikan..., h. 219.
[40]Ibid., h. 220.
[41]Suharsimi Arikunto, Metodologi Penelitian Kuantitatif  (Bandung: Rineka Cipta, 1992), h. 104.
[42]Noeng Muhadjir, Metodologi Penelitian Kuantitatif  (Yogyakarta: Rake Sarasin, 1989), h. 38.
[43]Sukardi, Metode Penelitian  Pendidikan Kompetensi dan Prakteknya (Jakarta: Bumi Aksara, 2005), h. 157.
[44]Rochiati Wiraatmadja, Metode Penelitian Tindakan Kelas (Bandung: Rosda, 2007), h. 96.
[45]Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktek (Jakarta: Rineka Cipta, 1993), h. 102.
[46]Ibid., h. 128.
[47]Burhan Bungin, Metodologi Penelitian Sosial: Format-format Kuantitatif dan Kualitatif (Surabaya: Airlangga University Press, 2001), h. 146.
[48]Lexy J Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000), h. 135.
[49]W. Mantja, Etnografi: Desain Penelitian Kualitatif Dan Manajemen Pendidikan (Malang: Wineka Media, 2005), h. 57.
[50]Sukardi, Metodologi Penelitian Kualitatif: Kompetensi dan Praktiknya (Jakarta: Bumi Aksara, 2004), h. 79.
[51]Lexy J Moleong, Metodologi Penelitian...,h. 161.
[52]W. Mantja, Etnografi..., h. 69.
[53]Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D (Bandung: Alfabeta, 2001), h. 244.
[54]Matthew B. Milles dan Huberman, Analisis Data Kualitatif: Buku Sumber tentang Metode-Metode Baru, Tjetjep Rohendi Rohidi (terj.), (Jakarta: UI Press, 1992), h. 15.
[55]Sugiono, Metode Penelitian..., h. 249.
[56]Suprayogo dan Thobroni, Metodologi Penelitian Sosial Agama (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003), h. 194.
[57]Mattew B. Miles dan Huberman,  Analisis Data..., h. 17.
[58]Ibid., h. 19.
[59]Sugiono, Metode Penelitian..., h. 253.
[60]Andi Prastowo, Metode Penelitian Kualitatif dalam Perspektif Rancangan Penelitian (Jogjakarta: Ar-ruzz Media, 2012) h. 276.
[61]Lexy J Moleong, Metodologi Penelitian..., h. 327.
[62]Sugiono, Metode Penelitian ..., h. 272.
[63]Ibid., h. 273-274.
[64]Andi Prastowo, Metode Penelitian..., h. 271.
[65]Ahmad Tanzeh, Pengantar Metode Penelitian (Yogyakarta: Teras, 2009), h. 170.
Post a Comment

Entri Populer