Saturday, 30 May 2015

Remaja Smart = Remaja Taat Aturan

Remaja Smart = Remaja Taat Aturan

Kita tentu sudah tidak asing lagi mendengar kata aturan, peraturan, norma, tata tertib, dan undang-undang. Secara umum semua kata itu memiliki inti makna yang sama yakni sesuatu yang menuntut untuk ditaati, dan bagi pelanggarnya akan mendapatkan sanksi. Undang-undang lalu lintas, norma sosial, hukum agama, hingga tata tertib di sekolah, semua bersifat mengikat dan bersanksi. Aturan atau hukum tersebut dibuat dimaksudkan untuk membentuk kondisi agar bisa tertib dan kondusif sehingga tujuan yang diinginkan bisa tercapai sesuai target “maksimal”. Namun seringkali fakta di lapangan bertolak belakang dengan konsep yang “indah” di atas kertas. Dengan berbagai dalih untuk melegitimasi tindakan yang dilakukan, warga yang terikat peraturan melakukan pelanggaran.
Kesadaran untuk menaati tata tertib atau aturan hukum bermula dari suatu keyakinan yang ditimbul dalam diri individu maupun masyarakat bahwa aturan yang dibuat bertujuan menciptakan kondisi yang baik. Dengan munculnya kesadaran seperti ini maka dengan sendirinya akan tercipta moral individu dan masyarakat yang taat hukum.
Contoh paling sederhana adalah ketika di sekolah ditetapkan larangan bagi siswa membawa sepeda motor ke sekolah. Ketika ada siswa yang melanggar maka dengan enteng mereka beralasan bahwa mereka telah direstui orang tuanya untuk membawa sepeda motor ke sekolah karena orang tua mereka sibuk dengan pekerjaannnya. Dan ternyata ini seringkali juga klop dengan alasan yang dikemukakan orang tua mereka; tidak punya waktu, tidak sempat, dan alasan-alasan senada. Kemudian ketika secara tidak sengaja terjadi “musibah” (baca: kecelakaan) dan harus melibatkan orang tua, barulah mereka mengungkapkan penyesalannya atas apa yang dilakukan.
Padahal peraturan tidak boleh membawa sepeda motor ke sekolah bagi siswa SLTP ini selaras dengan undang-undang lalu lintas. Prasyarat untuk mendapatkan Surat Ijin Mengemudi (SIM) adalah usia 17 tahun. Sedangkan para siswa SLTP paling banter baru 14 atau 15 tahun. Fakta lain yang sering ditemui adalah para siswa yang membawa sepeda motor ke sekolah tidak lantas masuk sekolah pada awal waktu bel pelajaran pertama, namun justru mereka terlambat. Ini adalah gejala negatif yang membahayakan. Maka bagi sekolah-sekolah (tingkat SLTP) yang membolehkan siswanya membawa sepeda motor ke sekolah kiranya perlu juga meninjau ulang aturan yang telah terlanjur digulirkan. Demikian juga pihak berwajib (dalam hal ini pihak kepolisian) perlu juga memberikan tindakan tegas terhadap para siswa yang nekad membawa sepeda motor ke sekolah. Minimal sebagai schock terapy terhadap siswa lain agar tidak ikut-ikutan. Orang tua semestinya juga bisa mengerti bahwa aturan ini diberikan dengan satu tujuan demi anak-anak mereka, dan pada akhirnya demi mereka juga. Jika aturan ini ditegakkan sudah pasti angka kecelakaan lalu lintas di jalan raya akibat pelanggaran lalu lintas yang ditengarahi lebih dari 6o% dilakukan oleh para remaja bisa ditekan seminimal mungkin.
Remaja adalah kata yang mengandung beragam konotasi tergantung dari mana dan siapa yang memandangnya. Para remaja adalah harapan orang tua. Bahkan dalam lingkup yang lebih luas para remaja adalah harapan bangsa dan negara. Hal ini bisa dipahami sebab pada tangan merekalah nasib sebuah negara ditentukan. Remaja yang nota bene generasi akan datang adalah harapan sekaligus kenyataan yang tak bisa dipungkiri. Maka salah satu hal yang harus dilakukan adalah mempersiapkan diri mereka dengan karakter yang baik agar mereka pada saatnya benar-benar siap mengemban amanat yang dipikulkan di pundaknya.
Kritik dan kekhawatiran bukan jalan pemecahan yang baik, justru itu akan membentuk persepsi pada diri remaja sehingga mereka akan menjelma menjadi remaja-remaja apatis dan serba salah. Apalagi dengan munculnya berbagai anggapan miring dari sebagian kelompok masyarakat yang selalu dijejalkan ke telinga remaja tiap hari, bahwa remaja adalah biangnya sikap pemberontakan, tidak punya sopan santun, semau-maunya, tidak taat peraturan dan sejenisnya yang bermuara pada kesimpulan bahwa mereka adalah “anak-anak nakal”. Orang-orang dalam kelompok ini akan menjaga jarak dengan remaja-remaja karena berhubungan dengan mereka hanya akan menimbulkan masalah. Anggapan dan tindakan semacam ini justru akan membuat remaja semakin asyik dengan peer-group (kelompok sebayanya), dan semakin jauh dengan lingkungan sosialnya. Dan pada akhirnya mereka akan menciptakan dunia mereka sendiri dengan melakukan “aksi-aksi tidak lazim” untuk menunjukkan eksistensi diri dan kelompoknya, seperti pelanggaran tata tertib, bahkan tidak jarang pula melakukan tindakan kriminalitas.
Beda dengan kelompok masyarakat yang memiliki pandangan positif terhadap keberadaan remaja. Justru mereka berupaya keras untuk memaksimalkan peran remaja yang memang merupakan masa produktif karena mereka memiliki semangat dan energi luar biasa untuk berkreasi dan menghasilkan karya luar biasa pula, sesuai bakat dan minat mereka masing-masing. Pada prinsipnya mereka menganggap remaja adalah batu permata yang hanya memerlukan polesan agar kelihatan berkilau dan memiliki nilai jual yang tinggi pula. Memang butuh pengetahuan, pengalaman, ketrampilan, ketekunan, kepiawaian, keahlian dan kesabaran yang tinggi untuk dapat memolesnya menjadi permata yang jadi incaran setiap orang.
Memang, ada remaja yang mengabaikan aturan untuk melihat sampai sejauh mana mereka bisa lolos. Misalnya, jika orang tua mengatakan bahwa akan ada sanksi untuk suatu perbuatan salah, seorang remaja mungkin mencoba-coba melanggar batas itu untuk melihat apakah orang tuanya akan benar-benar melaksanakan apa yang dikatakan. Apakah remaja seperti itu adalah pemberontak yang keras kepala? Belum tentu. Faktanya, remaja lebih besar kemungkinannya melanggar aturan jika orang tua tidak konsisten dalam menegakkannya atau sewaktu batas tidak dibuat jelas. Remaja adalah masa berpetualang yang suka tantangan. Petualangan itu tidak jarang pula dirupakan dalam bentuk ‘mencoba-coba’ melanggar tata tertib. Siswa di sekolah misalnya, suka melakukan aksi pelanggaran untuk menunjukkan “inilah aku! berani mendobrak aturan!”. Remaja akan sangat takut dikatakan pengecut atau cemen oleh teman sebayanya ketika menjadi remaja baik-baik. Maka sering ditemui seorang remaja yang dulunya merupakan anak baik dan penurut, setelah mulai berkumpul dengan teman-teman dalam peer-groupnya, akhirnya menjelma menjadi remaja bandel, suka menentang, sulit diatur, berani terhadap guru, dan seabrek status negatif lainnya. Dan remaja seperti ini akan jauh lebih sulit dikendalikan dibanding remaja yang memang dari awalnya sudah memiliki ‘bakat’ sok pemberani.
Namun demikian, kita harus tetap positif thinking terhadap keberadaan remaja. Masih lebih banyak remaja smart yang memiliki kepedulian terhadap diri dan lingkungannya. Salah satu indikasi remaja smart adalah ketaatan mereka terhadap peraturan. Mereka tahu dan paham betul bahwa peraturan itu dibuat untuk menciptakan keteraturan, ketertiban, kedisiplinan, dan kebaikan. Dengan kondisi yang serba teratur, tertib, disiplin, dan baik inilah mereka bisa menikmati hidup dalam damai. Dan dalam kondisi damai inilah mereka bisa belajar dengan tenang, bisa kompetisi secara sehat untuk meraih prestasi, serta bisa bereksplorasi, berkreasi dan berinovasi. SUKSES REMAJA SMART!@

Thursday, 16 April 2015

Ibu; Satu Kata dengan Sejuta Makna

Ibu;Satu Kata Sejuta Makna

Ribuan kilo, jarak yang kau tempuh
Lewati rintangan demi aku anakmu
Ibuku sayang, masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah penuh nanah
Seperti udara, kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas…
Ibu…ibu…

Cuplikan syair lagu yang pernah ditulis dan dipopulerkan oleh Iwan Fals, seorang penyanyi lagu-lagu balada di era 80-an tersebut benar-benar sangat menyentuh perasaan. Syair tersebut cukup mampu menggambarkan betapa besarnya arti seorang ibu bagi kita. Iwan sendiri ketika menciptakan lagu itu tentu sadar betul betapa berjuta sanjunganpun tak kan pernah mampu menggambarkan besarnya jasa seorang ibu.
Betapa tidak?!
Ibu kitalah yang telah bersusah payah selama sembilan bulan lebih mengandung kita dalam rahimnya. Semakin hari kandungan itu semakin besar hingga tidurpun tak bisa nyaman lantaran harus menanggung beban berat yang terus menggelayutinya. Seringkali juga selera makan pun jadi hilang gara-gara rasa mual yang sering mendera, namun betapapun lantaran kasih sayangnya kepada janin di kandungannya, sang ibu rela memaksa diri untuk tetap makan. Lalu tibalah detik-detik perjuangan bertaruh nyawa di ‘medan persalinan’ yang melelahkan. Tetesan keringat, darah dan air mata berbaur dengan jeritan dan nafas memburu, harap-harap cemas antara hidup dan mati.
Sudah cukupkah perjuangan ibu sampai di situ?
Ternyata belum!
Dari balita hingga remaja pun, kehadiran seorang ibu tidak bisa tergantikan. Menyusui, menyuapi, merawat, membimbing, menina-bobokkan, dan hampir semua pekerjaan berkenaan dengan si kecil, ibulah yang mengambil porsi paling besar. Ibu pulalah yang dengan telaten dan tekun mengajari si kecil mulai belajar ketawa, menyapa, berjalan hingga bisa berlari. Ibu tak pernah mengeluh ketika si kecil ngompol di tengah malam, ibu juga tak pernah marah ketika si kecil rewel padahal mestinya tubuhnya juga sangat penat karena harus mencuci, memasak dan seabrek urusan rumah yang melelahkan.
Maka sangat tepat kiranya penghargaan yang diberikan kepada seorang ibu. Rasululloh Muhammad SAW juga sangat menghargai keberadaan seorang ibu. “Sorga di bawah telapak kaki Ibu”, adalah sebuah ungkapan nan indah yang menggambarkan betapa sangat beruntungnya si anak jika saja ia bisa menghargai dan berbakti pada ibunya. Bahkan ketika Rasululloh SAW ditanya seorang sahabat tentang kepada siapa kita pertama kali harus berbakti? Rasululloh SAW dengan tegas menjawab “Ibumu!” dan jawaban itu diulang hingga tiga kali, kemudian baru Rasululloh SAW mengatakan “Bapakmu”. Subhanalloh! Betapa tingginya penghargaan Rasululloh SAW atas keberadaan seorang ibu. Pada sisi lain, jika seorang anak membuat sang ibu tidak ridlo (baca: marah), tentu laknat Allah akan mengancamnya. Ingat kisah nyata Al Qamah, seorang sahabat Nabi SAW yang cukup taat dalam beribadah kepada Allah. Ketika saat-saat menghadapi sakaratul maut, Al Qamah begitu tersiksanya dan seakan nyawa itu enggan meninggalkan raganya gara-gara Al Qamah masih memiliki ‘hutang’ kesalahan di masa lalu yang belum terbayarkan kepada ibunya akibat bujuk rayu istrinya. Baru setelah melalui nego yang alot, restu itu diperolehnya jua, dan akhirnya Al Qamah bias meninggal dengan mudah.

Selintas Sejarah Hari Ibu
Gema Sumpah Pemuda dan lantunan lagu Indonesia Raya yang digelorakan dalam Kongres Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928, menggugah semangat para pimpinan perkumpulan kaum perempuan untuk mempersatukan diri dalam satu kesatuan wadah mandiri. Maka pada tanggal 22-25 Desember 1928 diselenggarakan Kongres Perempuan Indonesia I di Yogyakarta,yang salah satu keputusannya adalah dibentuknya satu organisasi federasi yang mandiri dengan nama Perikatan Perkoempoelan Perempoean Indonesia (PPPI). Melalui PPPI tersebut terjalin kesatuan semangat juang kaum perempuan untuk secara bersama-sama kaum laki-laki berjuang meningkatkan harkat dan martabat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang merdeka, dan berjuang bersama-sama kaum perempuan untuk meningkatkan harkat dan martabat perempuan Indonesia menjadi perempuan yang dinamis. Selanjutnya pada pada tahun 1929 Perikatan Perkoempoelan Perempuan Indonesia (PPPI) berganti nama menjadi Perikatan Perkoempoelan Istri Indonesia (PPII), yang pada tahun 1935 mengadakan Kongres Perempuan Indonesia II di Jakarta. Kongres tersebut disamping berhasil membentuk Badan Kongres Perempuan Indonesia, juga menetapkan fungsi utama Perempuan Indonesia sebagai Ibu Bangsa, yang berkewajiban menumbuhkan dan mendidik generasi baru yang lebih menyadari dan lebih tebal rasa kebangsaannya.
Pada tahun 1938 Kongres Perempuan Indonesia III di Bandung menyatakan bahwa tanggal 22 Desember ditetapkansebagai Hari Ibu. Selanjutnya, dikukuhkan oleh pemerintah dengan Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 tentang Hari-Hari Nasional yang Bukan Hari Libur tertanggal 16 Desember 1959, yang menetapkan bahwa Hari Ibu tanggal 22 Desember merupakan salah satu hari nasional dan bukan hari libur. Tahun 1946 Badan ini menjadi Kongres Wanita Indonesia di singkat KOWANI, yang sampai saat ini terus berkiprah sesuai aspirasi dan tuntutan zaman.
Semangat perjuangan kaum perempuan Indonesia tersebut sebagaimana tercermin dalam lambang Hari Ibu berupa setangkai bunga melati dengan kuntumnya, yang menggambarkan: Kasih sayang kodrati antara ibu dan anak; Kekuatan, kesucian antara ibu dan pengorbanan anak; Kesadaran wanita untuk menggalang kesatuan dan persatuan, keikhlasan bakti dalam pembangunan bangsadan negara.
Jadi jelaslah bahwa menilik latar sejarahnya, peringatan hari ibu di Indonesia tidak mengacu pada Mother’s Day yang digemakan negara-negara Barat, biarpun ada kesamaan dalam kemasan penghargaan kepada wanita (ibu).

Wednesday, 18 March 2015

Go Green! Hijau Bumiku, Damai Jiwaku

Go Green!
Hijau Bumiku, Damai Jiwaku



ZAMRUD KHATULISTIWA; inilah julukan membanggakan yang disematkan pada negeri kita Indonesia tercinta. Penyematan ini bukan tanpa alasan. Konon ketika dilihat dari angkasa, gugusan kepulauan Indonesia terlihat nan hijau menyejukan mata bak batu Zamrud. Hal inilah yang kemudian membuat Indonesia dikenal sebagai Zamrud Khatulistiwa. Faktanya juga selaras, tanaman apa saja yang ditanam di tanah Indonesia bisa tumbuh. Bahkan tongkat kayupun bisa tumbuh di tanah Indonesia –demikian kata Koes Plus- Maka tak heran bila banyak negara tetangga yang iri akan kekayaan alam Indonesia, banyak dari mereka ingin menjajah Indonesia untuk mengambil hasil kekayaan alam Indonesia. Namun akankah sebutan membanggakan ini akan terus kita sandang?! Tentu jawabannya bisa iya bisa tidak! Tergantung kita, manusia Indonesia semua.
Jika hutan yang melingkupi Indonesia dari Sabang sampai Merauke sudah banyak yang gundul dan bopeng-bopeng, maka sudah pasti sebutan itu tak kan lagi pernah didengar anak cucu kita. Kepentingan segelintir orang yang suka mengeksploitasi alam Indonesia, dampak paling besar justru akan ditanggung warga sekitar yang tak tahu apa-apa. Hidup ini memang sangat bergantung pada alam, jika kondisi alamnya baik, maka kehidupan yang ada di dalamnya juga akan baik. Jika kondisi lingkungan alam sekitarnya asri, maka akan terasa nyaman dalam melakukan berbagai aktivitas. Sebaliknya, kondisi alam yang rusak selalu memberikan dampak negatif terhadap semua makhluk hidup di muka bumi ini. Telah banyak kita dengar dan kita baca tentang betapa mengerikannya musibah yang harus ditanggung manusia sebagai akibat dari rusaknya alam tempat bernaung. Maka tidak bisa ditunda lagi, semuanya harus menggelorakan semangat menjaga dan melestarikan alam. Para guru dan siswa harus punya itikad baik untuk menjaga lingkungan sekolahnya. Warga masyarakat juga harus perduli terhadap kelestarian lingkungan sekitarnya.
Menjaga dan memelihara keasrian dan keindahan alam memang bukanlah hal yang mudah. Namun ikhtiar nyata tetap harus dilakukan oleh siapapun. Menggunggah kesadaran diri sendiri, lalu menularkannya kepada orang-orang terdekat dan orang-orang sekitar, tanpa boleh merasa bosan. Ini juga merupakan bentuk nyata dakwah amar ma’ruf (mengajak kepada kebaikan). Upaya dalam menciptakan kondisi lingkungan yang asri nan hijau, merupakan suatu dukungan untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik. Biar pun hanya hal kecil yang dapat dilakukan, tetapi bisa memberikan andil besar untuk sebuah perubahan. Alam ini membutuhkan tangan-tangan yang bertanggung jawab yang dapat menjaga dan memanfaatkannya dengan baik, bukan mengeksploitasinya demi materi. Dengan adanya pohon di lingkungan sekitar kita memang rasanya bisa menyejukkan jiwa. Mata juga terasa sejuk, nafas serasa segar. Beda ketika kita berada di lingkungan yang gersang dan kotor. Jiwa rasanya ikut meradang, tinggalpun rasanya seperti terpenjara, membuat tidak nyaman.
Pencemaran tanah, air dan udara akibat teknologi ciptaan manusia faktanya memang sudah tidak bisa lagi dihindari. Maka dampak negatif dari itu semua akan ditanggung manusia sendiri. Al Qur’an juga telah menegaskan bahwa kerusakan alam adalah akibat perbuatan manusia sendiri, sebagaimana dinyatakan dalam surat Ar Rum ayat 41 yang artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar).”
Maka tak ada lagi dalih untuk menghindar dari kesalahan itu. Manusia jualah yang juga harus berupaya maksimal meminimalisir atau kalau bisa menghambat cepatnya kerusakan alam. Bukankah Allah SWT juga telah memaklumatkan bahwa Allah telah memberikan mandat sepenuhnya kepada manusia atas pengolahan dan pengelolaan alam ini. Gelar “Khalifah” yang disematkan langsung oleh Allah SWT kepada manusia adalah sebagai bukti dari tugas dan tanggung jawab untuk mengolah dan mengelola alam ini. Dan tentunya tugas dan tanggung jawab tersebut kelak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah.
Go green! Mari hijaukan bumi kita!
Slogan ini bukanlah slogan kosong yang hanya untuk diteriakkan atau ditulis di banner, lalu ditayang di mana-mana. Yang lebih penting dari itu adalah action (aksi nyata). Tidak perlu menunggu program menanam sejuta pohon dari pejabat atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Mari kita mulai saja dari lingkungan sekitar kita. Lingkungan rumah kita, lingkungan sekolah kita, lingkungan masyarakat kita, adalah lingkungan yang paling butuh perhatian. Banyak bunga yang bisa ditanam, atau pohon-pohon buah yang jika dikelola justru bisa memberikan hasil ganda; kesejukan dan nilai jual. Bukankah ini juga berarti menabung untuk generasi mendatang?!
Tak perlu tempat mahal. Kaleng bekas atau plastik bekas juga bisa dijadikan media tanam. Pemupukan juga bisa menggunakan kompos bikinan sendiri, kotoran ayam atau kotoran kambing, semuanya bisa jadi pupuk yang bagus untuk tanaman.
Nabi Muhammad SAW telah menyatakan dalam salah satu haditsnya: “Barang siapa menghidupkan bumi yang mati, maka bumi itu menjadi miliknya (HR. Tirmidzi)”. Makna mendalam dari hadits ini tentunya tidak harus diartikan secara tekstual namun yang lebih penting dari itu adalah bahwa Islam sangat menghargai orang-orang yang perduli terhadap kelestarian alam (lingkungan hidup). Maka apa lagi yang kita tunggu. GO GREEN! MARI HIJAUKAN BUMI KITA! Dan ayo kita senandungkan syair lagunya Crisye berikut:

Aku bahagia hidup sejahtera di khatulistiwa
Alam berseri-seri bunga beraneka
Mahligai rama-rama, bertajuk cahya jingga
Surya di cakrawala

S'lalu berseri alam indah permai di khatulistiwa
Persada senyum tawa, hawa sejuk nyaman
Wajah pagi rupawan burung berkicau ria
Bermandi embun surga

Reff:
Syukur ke hadirat yang maha pencipta
Atas anugerah-nya tanah nirmala
Bersuka cita, insan di persada yang aman sentosa
Damai makmur merdeka di setiap masa
Bersyukurlah kita semua
( bersatulah kita semua)

S'lalu berseri, alam indah permai di indonesia
Negeri tali jiwa hawa sejuk nyaman
Wajah pagi rupawan burung berkicau ria
Bermandi embun surga

Syukur ke hadirat yang maha kuasa
Atas anugerah-nya tanah bijana

Tuesday, 9 December 2014

Istighosah Bukan Sekedar Agenda Rutin Tahunan



Istighosah Bukan Sekedar

Agenda Rutin Tahunan



“Berdo'alah kepada Tuhan-mu dengan merendahkan diri dan suara yang lembut. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang malampui batas"
( QS Al a'rof : 55 )

Doa adalah gambaran nyata dari penghambaan kita kepada  Allah. Dengan do’a, seorang makhluk berkomunikasi dengan Sang Khaliq. Lewat do’a pula, seorang hamba mengakui kelemahan dan ketidak berdayaannya di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala kuasa.
Namun sepertinya ada anggapan yang kadang membuat kita salah dalam menempatkan do’a itu sendiri. Bahwa kita berdo’a hanya pada saat-saat kita sedang menghadapi sebuah peristiwa penting atau ketika sedang mengalami musibah seperti sakit atau sedang berduka. Pada saat-saat seperti itu seakan-akan kita begitu khusuk memanjatkan do’a, bermohon dan bermunajad kepada Allah. Sedangkan pada saat-saat biasa –dan ini yang sering kita alami sehari-hari- do’a yang kita panjatkan tidak lebih hanyalah rutinitas tanpa rasa tawadlu’ atau bahkan hanya sebagai pelengkap ritual, atau juga sebagai penutup acara.
Ada istilah lain yang sering kita dengar yang sejenis dengan do’a yakni istighosah. Namun sebenarnya peruntukan dari kedua istilah tersebut sedikit berbeda. Do’a lebih mengarah kepada hal yang bersifat umum, sedangkan istighosah mengandung makna khusus menyangkut permohonan agar dihindarkan dari musibah. Jadi antara keduanya terdapat makna umum dan makna khusus yang mutlak, artinya setiap istighostah adalah do'a namun sebaliknya setiap do'a belum tentu masuk kategori istighostah.
Menjelang ujian nasional (UN) banyak sekolah yang menyelenggarakan “istighosah” massal yang melibatkan seluruh siswa peserta ujian nasional, guru, bahkan orang tua siswa.
Ada satu pertanyaan yang perlu dikritisi dalam konsteks ini yakni apakah ujian nasional itu memang telah dianggap sebagai musibah yang mengancam keselamatan siswa atau bahkan lembaga pendidikan (baca: sekolah)? Padahal bukankah ujian nasional atau apapun namanya itu tak lebih hanyalah sebuah alat ukur untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap materi pembelajaran yang telah diterima? Jadi bukankah itu sebenarnya hal yang biasa saja?
Memang tak bisa dipungkiri, dalam sistem pendidikan kita banyak kerancuan terjadi. Pendidikan dipahami hanya sebatas peristiwa pengajaran, itu pun hanya yang paling dangkal. Banyak guru yang masih menghayati peran hanya sebagai pengajar, belum sampai pada tataran mendidik. Guru jarang tampil sebagai fasilitator atau motivator, apalagi sebagai penggugah atau penantang yang membuat murid memiliki greget untuk lebih rajin belajar agar kelak lebih dahsyat dari gurunya. Para guru lupa mengingatkan kepada muridnya bahwa Allah hanya akan meninggikan derajad orang yang berilmu pengetahuan.  Makanya yang dikejar murid dan dianjurkan oleh sistem pendidikan umumnya hanya untuk mencari selembar ijazah dan bukan untuk mencari ilmu pengetahuan (thalabul ilmi). Wajar jika Allah akhirnya tidak meninggikan derajad mereka. Dalam konteks ini Istighosah —disadari maupun tidak— hanya difungsikan sebagai kegiatan yang bersifat pragmatis belaka, dan bukan sebuah peristiwa religiusitas atau hubungan kemesraan antara Allah dan hamba-Nya. Sungguh hal yang menggelisahkan jika hal ini yang terjadi.
Kegiatan religius yang mestinya sangat sakral ternyata tak lebih hanya menjadi ajang tawar-menawar dalam hitungan untung rugi yang sangat berbau pragmatis dan kapitalis. Naudzubillah!
Maka marilah kita rubah mindset kita tentang makna pendidikan (termasuk Ujian Nasional) itu terutama kepada para anak didik kita agar kelak terbentuk pribadi-pribadi yang ahsani taqwim, makhluk yang hanya mencintai dan meletakkan Allah dan Rasul-Nya di hati mereka. Jangan sampai istighosah hanya menjadi kegiatan fenomenal setahun sekali yakni pada saat menjelang ujian nasional, dan itupun dalam hitungan untung rugi. Kita hanya menjadi pihak yang meminta saja dalam kemasan instan.  
Marilah kita selalu dan selalu mengingat Allah tidak saja pada saat-saat kita “berduka” dan ketika sedang menghadapi “peristiwa” berat saja. Marilah kita patri Allah dalam hati kita agar kita menjadi hamba-hamba Allah yang ahsani taqwim. Semoga.


Sambut Datangnya Tahun Baru 2015 dengan Rasa Optimis



Sambut Datangnya Tahun Baru 2015

dengan Rasa Optimis


Gerbang 2015 hampir kita masuki. Seperti tahun-tahun yang sudah, gempita menyambut hadirnya tahun baru tersebut sudah hampir pasti penuh nuansa. Sebagian orang bahkan telah memplaning acara menyambut datangnya tahun baru. Toko-toko swalayan, supermarket, hotel dan tempat-tempat wisata tak lupa menawarkan berbagai suguhan acara dengan berbagai kehebohannya. Sekedar tiup terompet, pesta kembang api, goyang dangdut, karnaval dan arak-arakan di jalan raya, semuanya mengatasnamakan perwujudan happy menyambut datangnya tahun baru. Sepertinya budaya Barat telah merasuk di hampir semua sendi masyarakat Indonesia. Budaya tersebut diadopsi begitu saja tanpa filter secara getok tular dari generasi ke generasi. Tak ada salahnya memang memanifestasikan rasa gembira dan bahagia dengan bersuka cita. Namun demikian tak sepenuhnya benar juga ketika manifestasi tersebut sampai melampaui batas, hingga bisa melupakan makna penting dibalik pergantian tahun tersebut.
Menyambut datangnya pergantian tahun dengan rasa optimis adalah gambaran nyata tentang karakter seseorang yang ingin menggapai sukses. Dan sebaliknya orang pesimis dan skeptis pasti memandang pergantian tahun tak lebih hanyalah perubahan angka yang tidak bermakna apa-apa. Tidak ada harapan lebih terhadap pergantian tahun. Ciri orang yang merugi adalah jika hari ini sama dengan hari kemarin, dengan kata lain tidak ada perubahan berarti dari hari ke hari, semuanya hanya stagnan alias jalan di tempat.
Sebagai generasi muslim yang tetap harus eksis di tengah arus kehidupan global sekarang ini, tentu kita tidak lantas hanya ikut arus. Kita harus tetap punya prinsip sendiri dalam menyikapi kehidupan, termasuk dalam menyambut datangnya pergantian tahun. Ikut menyambut datangnya pergantian tahun pada hakekatnya tidak ada larangan tegas baik menyangkut tahun baru Muharram maupun tahun baru Masehi yang dalam sejarahnya memang dicetuskan oleh tokoh non muslim. Kebolehan itu didasarkan pada kemafhuman bahwa tahun baru Masehi sudah berlaku umum dan tidak lagi diidentikkan dengan satu agama tertentu. Dalam kemasan ini tentu acara penyambutan tersebut tidak boleh mengandung unsur ritual keagamaan atau pengkultusan dan pemujaan.
Hal lain yang harus diperhitungkan pada penyambutan tahun baru adalah unsur kemanfaatan dan kemadharatan. Menyulut mercon atau petasan untuk meramaikan tahun baru adalah salah satu contoh perbuatan yang bisa menjadi kesia-siaan, karena tidak ada manfaat yang bisa kita ambil atas perayaan berlebihan seperti itu. Arak-arakan di jalan protokol dengan iring-iringan sepeda motor yang memekakkan telinga, juga bukan perbuatan yang mencerminkan jiwa-jiwa islami. Selain sudah pasti melanggar  aturan lalu lintas dan mengganggu ketertiban umum, juga bisa membahayakan diri sendiri dan orang lain.
Daripada membahayakan diri dan orang lain di jalanan, bukankah lebih baik kita gunakan untuk bermuhasabah atau mengevaluasi diri sendiri. Lalu hasil muhasabah itu kita jadikan bahan refleksi untuk acuan langkah di 2015 yang akan datang. Apa yang sudah kita capai sejauh ini, apa yang harus diperbaiki dari setahun ke belakang, apa pula yang ingin kita capai setahun ke depan. Dengan itu, semoga kita semakin termovitasi untuk meninggalkan apa yang buruk di tahun lalu, dan semakin memperbaiki upaya untuk pencapaian yang lebih baik di tahun 2015 mendatang.
10…9…8…7…6…5...4…3…2…1... “SELAMAT TAHUN BARU 2015”. Life must go on!” -hidup harus terus bergulir- Semoga kita terhindar dari perbuatan sia-sia yang tidak disukai Allah Ta’ala. Aamiin...

Thursday, 28 August 2014

Cita Cita Bukan Sekedar Impian




“Gantungkanlah cita-citamu setinggi bintang”

Rangkaian kata di atas tentu sudah tidak asing lagi bagi kita khan? Namun makna dari sederet kata di atas barangkali saja belum mampu kita endapkan dalam diri kita, apalagi mampu memotivasi diri kita untuk betul-betul bisa meraihnya.
Jika kita tanyakan kepada anak-anak kecil, ”Apa cita-citamu?” maka anak-anak akan langsung menjawab dokter, pilot, guru, perawat, insinyur, professor, presiden, dan lain-lain. Namun sayangnya ketika usia sudah menginjak dewasa, di mana pada fase itu mestinya seseorang sudah memiliki konsep matang tentang cita-citanya, justru yang terjadi adalah kebingungan dan kerancuan ketika ditanya tentang konsep cita-cita itu. Tak jelas lagi arah yang akan kita tuju. Makanya seringkali kita cuma ikut-ikutan teman ketika mau melanjutkan sekolah. Dampak dari “mengekor” ini yang paling mendasar tentu adalah munculnya rasa malas belajar. Dan ini tentu berdampak lebih besar dan panjang di kemudian hari.
Banyak ilustrasi dari biografi tokoh dunia yang mampu menginspirasi orang lain dalam menggapai cita-cita hidupnya. Tidak perlu jauh-jauh, Soekarno sang tokoh revolusi ’45 telah mampu menginspirasi rakyat Indonesia sehingga bisa bersatu padu menggemakan kemerdekaan Indonesia. Bung Tomo dengan kobaran cita-citanya mengusir penjajah dari tanah Surabaya, mampu menginspirasi rakyat Surabaya untuk bersama menggemakan takbir dan mengangkat senjata mengusir “orang-orang serakah” dari bumi Surabaya.
Cita-cita yang baik itu tidak akan membuat kita resah dan terpuruk ketika belum mampu mencapainya. Cita-cita yang baik itu adalah cita-cita yang selalu memotivasi kita untuk bergerak mencapainya, seterpuruk apapun keadaan kita.
Mungkin kita sudah sering mendengar ungkapan-ungkapan di atas. Kita pun percaya bahwa keinginan, cita-cita, dan visi bisa merupakan senjata dahsyat untuk mencapai sukses. Masalahnya, apakah kita sudah punya cita-cita? Atau, apakah cita-cita yang telah kita rumuskan sudah memiliki kekuatan dahsyat untuk menggerakkan kita meraih sukses? Jika jawabannya belum, maka tidak boleh ditunda lagi, rumuskan cita-citamu sekarang!
     Merumuskan!! Ya, merumuskan sebuah cita-cita adalah cara yang paling efektif untuk bisa meraihnya. Sehingga kita benar-benar fokus dalam membidiknya dan itu bisa dijadikan sebagai misi kita. Misi disini bukanlah sekedar merangkai kata, tetapi misi disini adalah sebuah kesatuan motivasi sehingga menjadi tujuan hidup kita dimasa yang akan datang. Apapun tujuannya, jika sudah diarahkan ke sasaran yang tepat, kemungkinan banyak sekali peluang untuk bisa meraihnya. Cita-cita kita adalah masa depan kita. Cita-cita tentu lebih dari sekedar impian yang melenakan biarpun ada kalanya kesuksesan bisa berawal dari mimpi, namun bukankah kebanyakan dari mimpi itu hanyalah dunia hayal?! Ingat! Hidup lebih dari sekedar impian. Hidup adalah kenyataan yang penuh dengan kompetisi dan tantangan. Hidup bukan milik orang-orang kerdil yang hanya mampu bermimpi dan menghayal.


Thursday, 13 March 2014

PROPOSAL: Manajemen Keuangan dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan




MANAJEMEN KEUANGAN
DALAM MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN
(Studi Multi Kasus di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Model Prigi dan
Madrasah Ibtidaiyah Karanggandu Kecamatan Watulimo
Kabupaten Trenggalek)

A.      Latar Belakang Masalah
Lembaga pendidikan Islam sebagaimana lembaga pendidikan pada umumnya memiliki tanggung jawab berat dalam mewujudkan cita-cita luhur mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk kepribadian bangsa yang berbudi luhur serta mempersiapkan sumber daya  manusia yang berkualitas sehingga mampu berkompetisi dalam persaingan dunia global. Dengan demikian satu kata kunci untuk mencapai itu semua adalah peningkatan mutu pendidikan tidak bisa ditunda-tunda lagi.  Peningkatan kualitas pendidikan bukanlah tugas ringan karena tidak hanya berkaitan dengan permasalahan teknis, tetapi mencakup berbagai persoalan yang sangat rumit dan kompleks, baik yang menyangkut perencanaan, pendanaan, maupun efisiensi dan efektifitas penyelenggaraan sistem sekolah.[1]
Pada dasarnya pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Salah satu kebijakan yang mencerminkan upaya pemerintah ini adalah dengan menerapkan kebijakan paling mendasar terkait penanggungjawab penyelenggara pendidikan yang semula bersifat sentralistik menjadi bersifat desentralistik. Perubahan tersebut ditandai dengan diterbitkannya Undang Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah yang membawa konsekwensi kewenangan daerah sehingga lebih otonom, termasuk bidang pendidikan.[2]
Dengan diterbitkannya undang-undang tersebut tentu akan berimplikasi pada kebijakan pemerintah daerah dan juga lembaga pendidikan bersangkutan dalam menentukan arah kebijakan, termasuk pada perumusan program-program pendidikan dan pembelajaran serta nilai-nilai yang akan ditanamkan pada peserta didiknya. Program-program  suatu lembaga pendidikan tidak dapat dilepaskan dari upaya-upaya pemerintah daerah dan lembaga pendidikan bersangkutan dalam mendesain dan mengarahkan tujuan pendidikannya pada tataran intelektual dan tataran nilai yang akan diinginkan, sebab setiap daerah dan setiap lembaga pendidikan memiliki karakteristik dan tujuan yang berbeda baik tingkat perumusan program maupun pada tingkat pelaksanaannya, walaupun secara adminstratif harus tetap mengacu pada peraturan pemerintah pusat. Jadi konsep ideal kewenangan pemerintah daerah dalam hal pendidikan adalah memberi ruang yang lebih luas kepada sekolah untuk menyelenggarakan programnya, sehingga layanan belajar menjadi semakin menarik dan kompetitif.[3] Untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas, perlu adanya pengelolaan secara menyeluruh dan profesional terhadap sumberdaya yang ada dalam lembaga pendidikan. Salah satu sumberdaya yang harus dikelola dengan baik adalah masalah keuangan.
Proses pendidikan dan pembelajaran merupakan kegiatan terencana yang dalam penyusunannya tidak dapat lepas dari faktor pembiayaan. Hal ini karena di dalam pelaksanaannya, ada banyak hal yang harus dilakukan, disiapkan, dan selanjutnya diadakan agar proses berlangsung lancar. Berbagai hal harus disiapkan dan disediakan oleh pengelola pendidikan, khususnya sarana dan prasarana pendidikan dan pembelajaran. Dengan dana ini, semua sarana dan prasarana serta operasional pendidikan dapat disediakan oleh sekolah.[4] Kelengkapan sarana dan prasarana pembelajaran akan berimplikasi pada semangat siswa untuk belajar dan memudahkan guru dalam mengajar.
Sedangkan soal yang menyangkut keuangan di sekolah pada garis besarnya berkisar pada: uang sumbangan pembinaan pendidikan (SPP), uang kesejahteraan personel dan gaji, serta keuangan yang berhubungan langsung dengan penyelenggaraan sekolah seperti perbaikan sarana dan peningkatan mutu pendidikan.[5]
Pengelolaan keuangan secara umum sebenarnya telah dilakukan dengan baik oleh semua sekolah. Hanya kadar substansi pelaksanaannya yang beragam antara sekolah yang satu dengan yang lain. Adanya keberagaman ini sangat dipengaruhi oleh status sekolah bersangkutan, letak/lokasi sekolah serta jumlah siswa di sekolah itu sendiri. Pada sekolah-sekolah biasa yang daya dukung masyarakatnya masih tergolong rendah, pengelolaan keuangannya masih sederhana. Sedangkan pada sekolah-sekolah yang daya dukung masyarakatnya tinggi, tentu saja pengelolaan keuangannya cenderung menjadi lebih rumit. Kecenderungan ini dilakukan karena sekolah harus mampu menampung berbagai kegiatan yang semakin banyak dan beragam sesuai tuntutan masyarakat.
Pendidikan dianggap sebagai suatu investasi paling berharga dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia untuk pembangunan suatu bangsa. Seringkali kebesaran suatu bangsa diukur dari sejauh mana masyarakatnya mengenyam pendidikan. Semakin tinggi pendidikan suatu bangsa maka semakin majulah bangsa tersebut. Kualitas pendidikan tidak hanya dilihat dari kemegahan fasilitas pendidikan yang dimiliki, tetapi sejauh mana output suatu lembaga pendidikan dapat membangun manusia yang paripurna sebagaimana tahapan pendidikan.[6]
Hasil penelitian yang dilakukan oleh lembaga survey pendidikan menunjukkan kemerosotan pendidikan di Indonesia. Pada tahun 2011 World Bank menyimpulkan kualitas pendidikan di Indonesia masih rendah. Survey yang melibatkan 50 negara di dunia menempatkan pendidikan Indonesia lebih rendah dibawah Brasil dan Meksiko. Survei dilakukan terhadap sistem pendidikan di 50 negara, dengan memadukan hasil tes internasional dan data-data, seperti tingkat kelulusan antara 2006 dan 2010 yang diambil berdasarkan tes setiap tiga atau empat tahun di berbagai bidang, termasuk matematika, sains, dan kesusastraan.[7]
Sementara berdasarkan data dalam Education for All (EFA) Global Monitroring Report  2011 yang dikeluarkan UNESCO dan diluncurkan di New York pada Senin, 1 Maret 2011, indeks pembangunan pendidikan Indonesia berada pada urutan 69 dari 127 negara yang disurvei. Lembaga yang selalu memonitor perkembangkan pendidikan di berbagai negara di dunia setiap tahun itu menempatkan kualitas pendidikan Indonesia masih lebih baik daripada Filipina, Kamboja, dan Laos. Tetapi apa artinya dengan membandingkannya dengan tiga negara yang memang selama ini peringkatnya tidak pernah berada di atas Indonesia. Survei ini menggunakan empat tolok ukur, yaitu angka partisipasi pendidikan dasar, angka melek huruf pada anak usia 15 tahun ke atas, angka partisipasi menurut kesetaraan jender, dan angka bertahan siswa hingga kelas V SD. Di Jawa Timur saja beberapa waktu lalu pemerintah provinsi Jawa Timur mengumumkan dari 37 juta penduduk Jawa Timur masih terdapat kurang lebih 6 juta penduduk yang masih buta huruf. Begitu juga dengan tolok ukur mengenai kesetaraan jender dalam  praktik pendidikan masih jauh dari angka ideal. Kendati isu kesetaraan jender terus dikumandangkan dan pemerintah secara khusus mengangkat menteri untuk menangani masalah perempuan, pembangunan kesetaraan jender masih menemui banyak kendala di Indonesia. Malah ada yang menganggap kesetaraan jender adalah  agenda masyarakat Barat dan bertentangan dengan nilai budaya bangsa, lebih-lebih nilai agama (Islam).[8]
Di Tingkat Asia saja saat ini Indonesia masih tertinggal dari Brunei Darussalam yang berada di peringkat ke-34. Brunai Darussalam masuk kelompok pencapaian tinggi bersama Jepang, yang mencapai posisi nomor satu Asia. Adapun Malaysia berada di peringkat ke-65 atau masih dalam kategori kelompok pencapaian medium seperti halnya Indonesia. Meskipun demikian posisi Indonesia saat ini masih jauh lebih baik dari Filipina (85), Kamboja (102), India (107), dan Laos (109).[9]
Dari paparan di atas tampak jelas bahwa manajemen keuangan merupakan satu hal penting dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. Oleh karena itu peneliti ingin menggali informasi dan temuan hasil penelitian yang berkenaan dengan manajemen keuangan atau pendanaan yang efektif dalam meningkatkan mutu pendidikan di MIN Model Prigi Kecamatan Watulimo dan MI Karanggandu Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek.
Pemilihan lokasi penelitian di MIN Model Prigi Kecamatan Watulimo sebagai tempat penelitian dengan pertimbangan sebagai berikut: (1) madrasah ini merupakan satu-satunya madrasah berstatus negeri dan menjadi percontohan (model) pendidikan dasar di bawah naungan Kementerian Agama Kabupaten Trenggalek, (2) MIN Model Prigi Watulimo termasuk salah satu madrasah yang mendapat bantuan proyek Madrasah Education Development Project (MEDP), (3) jumlah murid di MIN Model Prigi Watulimo paling banyak untuk lingkup pendidikan tingkat dasar (SD/MI) di wilayah Kecamatan Watulimo yaitu sekitar 400 siswa pada tahun pelajaran 2012/2013, serta (4) sarana dan prasarana yang dimiliki cukup lengkap dan memadai.
Sedangkan pertimbangan pemilihan lokasi penelitian di MI Karanggandu Kecamatan Watulimo adalah: (1) MI Karanggandu Watulimo merupakan satu-satunya madrasah tingkat dasar yang dikelola swasta yang cukup maju di wilayah Kecamatan Watulimo, (2) MI Karanggandu Watulimo merupakan satu-satunya MI swasta di Watulimo yang mendapat bantuan proyek Madrasah Educatioan Development Project (MEDP), (3) memiliki jumlah siswa paling banyak di wilayah Kecamatan Watulimo untuk MI swasta yakni sekitar 300 siswa, (3) animo masyarakat cukup tinggi untuk memasukkan anaknya ke madrasah ini sehingga memiliki prospek cerah dalam pengembangannya ke depan.
Berawal dari fakta dan paparan latar belakang masalah di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang yang berfokus pada manajemen keuangan dengan judul “Manajemen Keuangan dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan (Studi Multi Situs di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Model Prigi dan Madrasah Ibtidaiyah Karanggandu Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek)”.

B.       Fokus Penelitian
Berdasarkan uraian di atas, maka penelitian ini difokuskan pada Manajemen Keuangan dengan rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana perencanaan keuangan dalam meningkatkan mutu pendidikan  di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Model Prigi dan Madrasah Ibtidaiyah Karanggandu Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek?
2.      Bagaimana penggunaan keuangan dalam meningkatkan mutu pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Model Prigi dan Madrasah Ibtidaiyah Karanggandu Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek?
3.      Bagaimana pertanggungjawaban keuangan dalam meningkatkan mutu pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Model Prigi dan Madrasah Ibtidaiyah Karanggandu Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek?

C.      Tujuan Penelitian
Berdasarkan fokus penelitian di atas, maka tujuan penelitian yang dilakukan adalah:
1.      Untuk mengetahui perencanaan keuangan dalam meningkatkan mutu pendidikan  di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Model Prigi dan Madrasah Ibtidaiyah Karanggandu Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek?
2.      Untuk mengetahui penggunaan keuangan dalam meningkatkan mutu pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Model Prigi dan Madrasah Ibtidaiyah Karanggandu Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek?
3.      Untuk mengetahui pertanggungjawaban keuangan dalam meningkatkan mutu pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Model Prigi dan Madrasah Ibtidaiyah Karanggandu Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek?

D.      Kegunaan Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi berbagai pihak terutama yang berperan dalam dunia pendidikan. Adapun kegunaan yang diharapkan adalah sebagai berikut:
a.       Kegunaan secara teoritis
Memberikan kontribusi keilmuan bagi ilmu pendidikan terutama mengenai konsep implementasi manajemen keuangan di lembaga pendidikan Islam tingkat dasar.
b.      Kegunaan secara praktis
1.      Bagi pihak MIN Model Prigi dan MI Karanggandu Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan tentang manajemen keuangan dalam meningkatkan mutu pendidikan.
2.      Bagi peneliti sendiri, hasil penelitian ini dapat meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan peneliti dalam praktik manajemen keuangan di Madrasah Ibtidaiyah.

E.       Penegasan Istilah
1.      Penegasan istilah secara konseptual.
Manajemen keuangan (financial management) adalah segala aktifitas organisasi yang berhubungan dengan bagaimana memperoleh dana, menggunakan dana, dan mengelola aset sesuai tujuan organisasi secara menyeluruh.[10] Dengan demikian, manajemen keuangan sekolah merupakan rangkaian aktivitas mengatur keuangan sekolah mulai dari perencanaan, pembukuan, pembelanjaan, pengawasan, dan pertanggungjawaban keuangan sekolah.[11]
Mutu adalah derajat keunggulan suatu produk atau hasil kerja, baik berupa barang atau jasa.[12] Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan mutu adalah ukuran, baik buruk suatu benda; taraf atau derajat (kepandaian, kecerdasan); kualitas.[13]
Sementara jika dilihat dari sisi pendidikan, mutu pendidikan dapat diartikan sebagai kemampuan sekolah dalam pengelolaan secara operasional dan efisien terhadap komponen-komponen yang berkaitan dengan sekolah, sehingga menghasilkan nilai tambah terhadap komponen tersebut menurut norma/standar yang berlaku.[14] Mutu pendidikan juga mengandung pengertian derajat keunggulan dalam pengelolaan pendidikan secara efektif dan efisien untuk melahirkan keunggulan akademis dan ekstrakurikuler pada peserta didik yang dinyatakan lulus untuk satu jenjang pendidikan atau menyelesaikan program pembelajaran tertentu.[15]
2.      Penegasan istilah secara operasional.
Secara operasional yang dimaksud penulis dalam judul “Manajemen Keuangan dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan (Studi Multi Situs di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Model Prigi dan Madrasah Ibtidaiyah Karanggandu Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek)” adalah suatu penelitian ilmiah untuk memperoleh keterangan atau data-data mengenai bagaimana perencanaan, penggunaan, dan pertanggungjawaban keuangan serta unsur-unsur pendukung dan penghambat dalam manajemen keuangan sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan di kedua madrasah tersebut.
                                                                                                     
F.       Tinjauan Pustaka
Secara etimologi, kata manajemen berasal dari bahasa Perancis Kuno menagement, yang memiliki arti seni melaksanakan dan mengatur. Dalam bahasa Inggris, kata manajemen berasal dari kata to manage artinya mengelola, membimbing dan mengawasi. Jika diambil dalam bahasa Italia, berasal dari kata maneggiare memiliki arti mengendalikan, terutamanya mengendalikan kuda. Sementara itu dalam bahasa Latin, kata manajemen berasal dari kata manus yang berarti tangan dan agere yang berarti melakukan, jika digabung memiliki arti menangani.[16]
Secara terminologi, para ahli tidak memiliki rumusan yang sama tentang definisi manajemen. Stoner sebagaimana dikutip Handoko merumuskan manajemen sebagai proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber-sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.[17]
Manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia secara efektif, yang didukung oleh sumber-sumber lainnya dalam suatu organisasi untuk mencapai tujuan tertentu. [18]
Manajemen juga diartikan sebagai usaha yang sistematis dalam  mengatur dan menggerakkan orang-orang yang ada dalam organisasi agar mereka bekerja dengan sepenuh kesanggupan dan kemampuan yang dimilikinya.[19]
Nanang Fatah mengartikan manajemen sebagai suatu proses merencana, mengorganisasi, memimpin, dan mengendalikan upaya organisasi dengan segala aspeknya agar tujuan organisasi tercapai secara efektif dan efisien.[20]
Sedangkan manajemen pendidikan sendiri mengandung arti suatu ilmu yang mempelajari bagaimana menata sumber daya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara produktif dan bagaimana menciptakan suasana yang baik bagi manusia yang turut serta dalam mencapai tujuan yang disepakati bersama.[21]
Salah satu obyek garapan dalam manajemen pendidikan adalah menajemen keuangan. Kegiatan di sekolah yang sangat kompleks membutuhkan pengaturan keuangan yang baik. Keuangan di sekolah merupakan bagian yang amat penting sebab setiap kegiatan membutuhkan pendanaan (uang). Untuk itu perlu manajemen keuangan yang baik sehingga seluruh program sekolah yang telah disusun dapat terlaksana dengan baik. Manajemen keuangan (financial management) mengandung makna segala aktivitas organisasi yang berhubungan dengan bagaimana memperoleh dana, menggunakan dana, dan mengelola aset sesuai tujuan organisasi secara menyeluruh.[22] Di dalam manajemen keuangan sekolah terdapat rangkaian aktivitas terdiri dari perencanaan program sekolah, perkiraan anggaran, dan pendapatan yang diperlukan dalam pelaksanaan program, pengesahan dan penggunaan anggaran sekolah .[23]
Sedangkan mutu menurut Sudarwan Danim dapat didevinisikan sebagai derajat keunggulan suatu produk atau hasil kerja, baik berupa barang atau jasa.[24] Sedangkan D.L. Goetsch dan S. Davis, seperti dikutip Fandy Tjiptono dan Anastasia Diana, mendefinisikan mutu sebagai suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan.[25]
Sementara itu, jika dilihat dari segi korelasi mutu dengan pendidikan, sebagaimana dikemukakan oleh Djaujak Ahmad, bahwa mutu pendidikan adalah kemampuan sekolah dalam pengelolaan secara operasional dan efisien terhadap komponen-komponen yang berkaitan dengan sekolah, sehingga menghasilkan nilai tambah terhadap komponen tersebut menurut norma/standar yang berlaku.[26]
Menurut Oemar Hamalik, pengertian mutu dapat dilihat dari dua sisi, yaitu segi normatif dan segi deskriptif. Dalam arti normatif, mutu ditentukan berdasarkan pertimbangan (kriteria) intrinsik dan ekstrinsik. Berdasarkan kriteria intrinsik, mutu pendidikan merupakan produk pendidikan yakni manusia yang terdidik, sesuai dengan standard ideal. Berdasarkan kriteria ekstrinsik, pendidikan merupakan instrumen untuk mendidik tenaga kerja yang terlatih. Adapun dalam arti deskriptif, mutu ditentukan berdasarkan keadaan senyatanya, misalnya hasil tes prestasi belajar.[27]
Sudarwan Danim memiliki pandangan lain tentang mutu pendidikan, yakni mengacu pada masukan, proses, luaran, dan dampaknya. Mutu masukan dapat dilihat dari beberapa sisi. Pertama, kondisi baik atau tidaknya masukan sumber daya manusia, seperti kepala sekolah, guru, laboran, staf tata usaha, dan siswa. Kedua, memenuhi atau tidaknya kriteria masukan material berupa alat peraga, buku-buku, kurikulum, prasarana, sarana sekolah, dan lain-lain. Ketiga, memenuhi atau tidaknya kriteria masukan yang berupa perangkat lunak, seperti peraturan, struktur organisasi, dan deskripsi kerja. Keempat, mutu masukan yang bersifat harapan dan kebutuhan, seperti visi, motivasi, ketekunan, dan cita-cita. Mutu proses pembelajaran mengandung makna bahwa kemampuan sumber daya sekolah mentransformasikan multi jenis masukan dan situasi untuk mencapai derajat nilai tambah tertentu dari peserta didik. Dilihat dari hasil pendidikan, mutu pendidikan dipandang berkualitas jika mampu melahirkan keunggulan akademis dan ekstrakurikuler pada peserta didik yang dinyatakan lulus untuk satu jenjang pendidikan atau menyelesaikan program pembelajaran tertentu.[28]
Dengan demikian kualitas jasa pendidikan dapat diketahui dengan cara membandingkan persepsi pelanggan atas pelayanan yang diperoleh atau diterima secara nyata oleh mereka dengan dengan pelayanan yang sesungguhnya diharapkan. Jika kenyataan lebih dari yang diharapkan, pelayanan dapat dikatakan bermutu. Sebaliknya, jika kenyataan kurang dari yang diharapkan, pelayanan dapat dikatakan tidak bermutu. Namun, apabila kenyataan sama dengan harapan, maka kualitas pelayanan disebut memuaskan. Dengan demikian, kualitas pelayanan dapat didefinisikan seberapa jauh perbedaan antara kenyataan dan harapan para pelanggan atas layanan yang diterima mereka.[29]

G.      Penelitian Terdahulu
Sejauh yang diketahui oleh penulis, penelitian tentang manajemen keuangan masih cukup sulit ditemui dalam bentuk buku, jurnal ilmiah, skripsi maupun tesis, apalagi yang berhubungan dengan upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan. Faktor  keengganan dari para peneliti dan adanya anggapan “tabu” bagi sebagian pemegang kekuasaan di masing-masing instansi, perusahaan atau organisasi untuk membuka diri terhadap penelitian tentang keuangan yang menjadi “rahasia intern”  instansi, perusahaan atau organisasi bersangkutan, menjadi penyebab utama sedikitnya hasil-hasil penelitian tentang manajemen keuangan yang terpublikasikan ke media.   Namun demikian ada beberapa judul penelitian serupa yang masih bersinggungan langsung dengan masalah keuangan/pendanaan, antara lain:
1.      Judul penelitian “Manajemen Pembiayaan Pendidikan (Studi Kasus di SD Islam Unggulan Bazra Sragen Tahun Ajaran 2005/2006), Sri Suranto (STAIN Surakarta, 2005). Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen yang diterapkan di SD Islam Unggulan Bazra Sragen sudah sesuai dengan fungsi dan manajemen pembiayaan pendidikan dalam ruang lingkup administrasi pendidikan.[30]
2.      Judul penelitian “Pengelolaan Biaya Pendidikan” oleh Harsono (STAIN Surakarta, 2007) yang meneliti tentang budget sekolah yang merupakan serangkaian kegiatan sekolah, pendapatan sekolah, biaya-biya yang harus dibayar pada waktu tertentu dan pada waktu yang akan datang. Budget sekolah meliputi master budget yaitu budget lengkap yang dimiliki sekolah. Budget dibuat oleh tim sekolah, namun jika warga sekolah tidak memiliki keahlian untuk menyusun budget sekolah, maka sekolah dapat menyerahkan kepada pihak lain yang kompeten. Penelitian Harsono ini menyimpulkan bahwa kemampuan menyusun budget sekolah yang meliputi kegiatan dan program harus dikerjakan oleh sekolah dari waktu ke waktu, secara transparan, akuntabel dan responsibel.[31]
3.      Judul penelitian “Transparansi Manajemen Keuangan (Studi di Pondok Pesantren Salaf dan Modern Masyithoh di Desa Bolo, Wonosegoro, Boyolali Tahun Ajaran 2008/2009)”, oleh Ichsani (STAIN Surakarta, 2008). Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen keuangan di pondok pesantren ini sudah transparan. Hal ini dapat dilihat dari beberapa aspek yang mengarah kepada perwujudan transparansi meliputi penyusunan anggaran, pembukuan keuangan, evaluasi keuangan dan pertanggungjawaban.[32]
Penelitian-penelitian di atas lebih menitikberatkan pada masalah manajemen pembiayaan atau keuangan serta trasparansi manajemen keuangan saja, belum menyentuh pada tataran implikasinya terhadap peningkatan mutu pendidikan di lembaga bersangkutan. Maka dari itu peneliti sangat tertarik untuk meneliti manajemen keuangan dalam kaitannya dengan perencanaan keuangan, penggunaan keuangan, dan pertanggungjawaban keuangan dalam meningkatkan mutu pendidikan di MIN Model Prigi dan MI Karanggandu sebagaimana judul tesis yang penulis ajukan yaitu “Manajemen Keuangan dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan (Studi Multi Situs di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Model Prigi dan Madrasah Ibtidaiyah Karanggandu Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek”.

I.    Metode Penelitian
1.    Pendekatan dan Rancangan Penelitian
Fokus penelitian dalam tesis ini adalah manajemen keuangan dalam meningkatkan mutu pendidikan. Untuk mengungkap substansi penelitian ini diperlukan pengamatan mendalam dan dengan latar yang alami (natural setting). Dengan demikian pendekatan yang diambil adalah pendekatan kualitatif yakni metode penelitian yang digunakan untuk meneliti kondisi obyek yang alamiah, dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi (gabungan), analisa data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi.[33]
Pendekatan kualitatif ini digunakan karena beberapa pertimbangan. Pertama, menyesuaikan metode kualitatif apabila berhadapan dengan kenyataan ganda. Kedua, metode ini menyajikan secara langsung hakekat hubungan antara peneliti dan responden. Ketiga, metode ini lebih peka dan lebih dapat menyelesaikan diri dengan banyak penajaman pengaruh bersama dan terhadap pola-pola nilai yang dihadapi.[34]
Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan keberadaan dua lembaga pendidikan dasar di bawah lingkup Kementerian Agama sekaligus dengan status berbeda yakni Madrasah Ibtidaiyah Negeri Model Prigi  dan Madrasah Ibtidaiyah Karanggandu Watulimo Trenggalek yakni tentang manajemen keuangan dalam meningkatkan mutu pendidikan, maka jenis penelitian adalah penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk mendeskripsikan kondisi atau hubungan yang ada, pendapat yang sedang tumbuh, proses yang sedang berlangsung, akibat yang sedang terjadi atau kecenderungan yang tengah berkembang.[35] Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang berusaha menggambarkan “apa adanya” tentang suatu variabel, gejala atau keadaan.[36]
Dalam penelitian deskriptif, ada beberapa variasi yaitu: studi perkembangan, studi kasus, studi multi kasus, studi kemasyarakatan, studi perbandingan, studi hubungan, studi lanjut, studi kecenderungan, analisis kegiatan, dan analisis dokumen atau isi.[37] Dalam hal ini rancangan penelitian yang peneliti lakukan adalah studi multi kasus yakni bertujuan untuk mendapatkan hasil yang lebih valid dengan membandingkan data dari dua tempat penelitian yang berbeda.
Situs yang pertama adalah MIN Model Prigi yang terletak di Desa Prigi Kecamatan Watulimo Trenggalek dan situs kedua adalah MI Karanggandu Watulimo Trenggalek. Beberapa perbedaan dari kedua tempat penelitian ini adalah: (a) MIN Model Prigi berstatus negeri dan merupakan sekolah model (percontohan) sedangkan MI Karanggandu dikelola lembaga swasta yakni dibawah naungan Ma’arif, (b) MIN Model Prigi didominasi oleh pendidik dan tenaga kependidikan berstatus PNS (Pegawai Negeri Sipil) yakni lebih dari 75 %, sedangkan MI Karanggandu didominasi oleh pendidik dan tenaga kependidikan swasta berstatus honorer dan satu-satunya yang berstatus PNS adalah kepala madrasahnya. Kedua perbedaan mendasar ini tentu berpengaruh besar terhadap manajemen keuangan di kedua lembaga pendidikan Islam tersebut.
2.    Kehadiran Peneliti
Dalam penelitian kualitatif, peran peneliti sangat penting yakni sebagai instrumen kunci. Hal ini dapat difahami bahwa keabsahan data nanti akhirnya diserahkan pada subyek penelitian, apakah data yang diperoleh maupun analisisnya benar-benar sesuai dengan persepsi/pandangan subyek. Oleh karena itu kehadiran peneliti berperan sebagai perencana, pelaksana, pengumpul data, penganalisis, penafsir data, dan sekaligus melaporkan hasil penelitian.[38]
Untuk memenuhi kriteria tersebut, peneliti berupaya menjalin hubungan baik dengan para informan selama penelitian berlangsung dengan melakukan perbincangan agar menambah keakraban dan keterbukaan informasi. Namun demikian, peneliti tetap hati-hati dan cermat serta selektif dalam mencari, memilih, dan menyaring data, sehingga data yang terkumpul benar-benar relevan dan terjamin keabsahannya. Sebagai penelitian ilmiah, peneliti berusaha sedapat mungkin menghindari subyektifitas dan memperhatikan fakta-fakta yang ada serta menjaga terjadinya pandangan curiga dari pengelola madrasah sehingga informan merasa tidak sedang diteliti dan dapat memberikan informasi secara obyektif (apa adanya) dan tidak mengada-ada dengan tujuan tertentu.
3.      Lokasi Penelitian
Lokasi dalam penelitian ini adalah Madrasah Ibtidaiyah Negeri Model Prigi Watulimo Trenggalek yang beralamat di Dusun Sumber RT.   RW. Desa Prigi Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek yakni berjarak sekitar 1 km ke arah utara dari kantor Kecamatan Watulimo. Sedangkan Madrasah Ibtidaiyah Karanggandu beralamat di Dusun Gading RT. 09 RW. 03 Desa Karanggandu Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek, yakni berjarak sekitar 1,5 km ke arah selatan dari kantor Kecamatan Watulimo.
4.      Sumber Data
Sumber data kualitatif adalah apa yang dikatakan oleh orang-orang berkaitan dengan seperangkat pertanyaan yang diajukan oleh peneliti. Yang merupakan sumber utama data kualitatif adalah data yang diperoleh secara verbal melalui suatu wawancara atau dalam bentuk tertulis melalui analisa dokumen atau respon survei.[39] Dalam klasifikasinya, sumber data dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu person (sumber data yang berupa orang), place (sumber data yang berupa tempat), paper (sumber data yang berupa simbol).[40] Sedangkan yang dimaksud data adalah segala fakta dan angka yang dapat dijadikan bahan untuk menyusun suatu informasi. Sedangkan informasi adalah hasil pengolahan data yang dipakai untuk suatu keperluan.[41]
Sebagaimana yang dikemukakan Moleong bahwa kata-kata dan tindakan orang-orang yang diamati atau diwawancarai merupakan sumber data utama. Sumber data utama dicatat melalui catatan tertulis dan melalui perekaman video atau audio tape, pengambilan foto atau film, pencatatan sumber data utama melalui wawancara atau pengamatan berperan serta sehingga merupakan hasil utama gabungan dari kegiatan melihat, mendengar, dan bertanya.[42]
Sumber data primer dalam penelitian ini adalah kata-kata dan tindakan kepala sekolah, bendahara, komite madrasah, pegawai TU, serta para siswa MIN Model Prigi Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenngalek dan MI Karanggandu Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek.
Adapun sumber data skunder dalam penelitian ini adalah dokumen atau bahan tertulis atau bahan perpustakaan, yakni buku-buku, artikel, jurnal ilmiah, dan koran yang membahas masalah-masalah yang relevan dengan penelitian ini, seperti sejarah madrasah, visi misi, struktur organisasi, daftar guru dan tenaga kependidikan, dll. Sumber data sekunder lain adalah dokumentasi foto, seperti foto-foto kegiatan yang berhubungan dengan manajemen keuangan dalam meningkatkan mutu pendidikan, segala aktifitas maupun sarana prasarana yang ada, yang dapat memberikan gambaran nyata pada aspek-aspek yang diteliti, seperti ruang kelas, ruang UKS (Usaha Kesehatan Sekolah), ruang IT (Informasi Teknologi), ruang lab IPA, ruang lab bahasa, ruang perpustakaan, musholla, dll.
5.      Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data adalah prosedur yang sistematik dan standar untuk memperoleh data yang diperlukan.[43] Pada penelitian kualitatif, pada dasarnya teknik pengumpulan data yang lazim digunakan adalah observasi partisipan, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Kegiatan pengumpulan data yang dilakukan dengan observasi dan wawancara mendalam untuk menjelajahi dan melacak secara memadai terhadap realitas fenomena yang tengah distudi.[44]
Maka dalam penelitian ini, peneliti menggunakan tiga teknik tersebut, yaitu:
a.    Observasi patisipan
Observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan dengan sistematik fenomena-fenomena yang diselidiki.[45] Sedangkan observasi partisipan atau pengamatan terlibat menurut Parsudi Suparlan sebagaimana dikutip Hamid Patilima merupakan sebuah teknik pengumpulan data yang mengharuskan peneliti melibatkan diri dalam kehidupan dari masyarakat yang diteliti untuk dapat melihat dan memahami gejala-gejala yang ada, sesuai maknanya dengan yang diberikan atau dipahami oleh para warga yang ditelitinya.[46]
Dengan demikian peneliti hadir di lapangan (di lokasi penelitian) secara langsung untuk mengetahui keberadaan obyek, situasi, konteks, dan maknanya dalam upaya mengumpulkan data penelitian yakni mengenai fenomena-fenomena dan hal-hal yang berhubungan dengan manajemen keuangan dalam meningkatkan mutu pendidikan. Data-data dari pengamatan ini berupa catatan lapangan.
b.      Wawancara mendalam (indepth interview)
Menurut Michael Quinn Patton sebagaiman dikutip oleh Rulam Ahmadi cara yang utama dilakukan oleh ahli peneliti kualitatif untuk memahami persepsi, perasaan dan pengetahuan orang-orang adalah wawancara mendalam dan intensif. Yang dimaksud dengan wawancara mendalam, mendetail atau intensif adalah upaya menemukan pengalaman-pengalaman informan dari topik tertentu atau situasi spesifik yang dikaji. Oleh karena itu, dalam melaksanakan wawancara untuk mencari data digunakan pertanyaan-pertanyaan yang memerlukan jawaban berupa informasi.[47] Wawancara atau interview merupakan metode pengumpulan data yang menghendaki komunikasi secara langsung antara peneliti dengan subyek atau responden.[48] Hal paling penting dari wawancara mendalam adalah peneliti berbaur dan mengambil bagian aktif dalam situasi sosial penelitian, sehingga peneliti dapat memanfaatkan pendekatan ini untuk mengumpulkan data selengkap-lengkapnya.[49]
Untuk mengatasi terjadinya bias informasi yang diragukan kesahihannya, maka pada setiap wawancara dilakukan pengujian informasi dari informan sebelumnya dan diadakan pencarian sumber informasi baru. Seperti ketika peneliti mewawancarai kepala sekolah dan para wakil kepala sekolah, wawancara direkam dan dipelajari secara mendalam, lalu peneliti berdiskusi dengan para guru atau informan lain yang memiliki hubungan erat dengan data-data penelitian yang ingin dikumpulkan. Selain itu juga dibuatkan panduan wawancara sesuai kebutuhan penelitian.
c.       Dokumentasi
Penggunaan teknik dokumentasi bertujuan untuk melengkapi data yang diperoleh dari teknik observasi partisipan dan wawancara mendalam.
Dokumen adalah catatan kejadian yang sudah lampau yang dinyatakan dalam bentuk lisan, tulisan, dan karya bentuk.[50] Dokumen menurut Pohan (2007) sebagaimana dikutip Andi Prastowo juga bisa berbentuk arsip-arsip, akta, ijazah, rapor, peraturan perundang-undangan, buku harian, surat-surat pribadi, catatan biografi, dan lain-lain yang memiliki keterkaitan dengan masalah yang diteliti.[51]
6.      Analisis Data
Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sistesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah difahami oleh diri sendiri maupun orang lain.[52]
Analisis data dalam penelitian kualitatif menurut Matthew B. Milles terdiri dari tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan, yaitu: reduksi data, penyajian data, dan verifikasi atau penarikan kesimpulan.[53]
1).  Reduksi data
Reduksi data merupakan proses berfikir sensitive yang memerlukan kecerdasan, keluasan, dan kedalaman wawasan yang tinggi.[54] Data yang didapat dari lokasi penelitian dituangkan dalam laporan secara rinci. Kemudian dalam proses ini peneliti dapat melakukan pilihan-pilihan terhadap data yang hendak dikode, mana yang akan dihilangkan dan mana yang akan dipakai sebagai data penelitian.[55] Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran lebih jelas dan mempermudah peneliti untuk mendapatkan data selanjutnya.
3)      Penyajian data
Penyajian data atau display data merupakan proses penyajian sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan.[56] Penyajian data dimaksudkan untuk mempermudah peneliti melihat gambaran secara keseluruhan atau bagian tertentu dari penelitian secara akurat (valid).
4)      Verifikasi data (conclusion drawing)
Dalam penelitian ini proses verifikasi dilakukan terus menerus selama proses penelitian berlangsung. Saat memasuki obyek penelitian (lapangan) serta selama proses pengumpulan data, peneliti berusaha menganalisis serta mencari arti dari data yang terkumpul, yakni mencari pola-pola, penjelasan, konfigurasi-konfigurasi yang mungkin, alur sebab akibat serta proposisi.[57] Kesimpulan dalam penelitian kualitatif adalah merupakan temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada. Temuan dapat berupa deskripsi atau gambaran suatu obyek yang sebelumnya masih remang-remang atau gelap sehingga setelah diteliti menjadi jelas, dapat berupa hubungan kausal atau interaktif, hipotesis atau teori.[58]
Data Collection
Analisis data interaktif model Miles dan Huberman sebagaimana dikutip Andi Prastowo dapat digambarkan seperti terlihat pada bagan berikut:

Data Display
Data Reduction
Conclusion Drawing
 






Bagan 1. Analisis Data Interaktif Model[59]
Penelitian ini menggunakan studi multi kasus di dua situs berbeda yakni MIN Model Prigi dan MI Karanggandu. Analisis data lintas kasus dimaksudkan sebagai proses membandingkan temuan-temuan yang diperoleh dari tiap-tiap kasus, sekaligus sebagai proses memadukan antar kasus. Awalnya temuan yang diperoleh dari MIN Model Prigi disusun kategori dan tema, dianalisis secara induktif konseptual dan dibuat penjelasan naratif yang selanjutnya dikembangkan menjadi teori substantif I.
Teori substantif I dianalisis dengan teori substantif II (temuan di MI Karanggandu) untuk menemukan perbedaan karakteristik masing-masing kasus sebagai konsepsi teoritis berdasarkan perbedaan. Selanjutnya dilakukan analisis lintas kasus antara kasus I dan kasus II dengan cara yang sama. Analisis akhir ini dimaksudkan untuk menyusun konsepsi sistematis berdasarkan analisis data dan interpretasi teoritis yang selanjutnya dijadikan bahan untuk mengembangkan temuan teori substantif.
Temuan sementara
Langkah-langkah analisis lintas kasus meliputi : (1) pendekatan konseptual yang dilakukan dengan membandingkan dan memadukan konseptual dari tiap-tiap kasus individu, (2) hasilnya dijadikan dasar untuk menyusun pertanyaan konseptual lintas kasus, (3) mengevaluasi kesesuaian konseptual dengan fakta yang menjadi acuan, (4) merekonstrusi ulang konseptual-konseptual sesuai dengan fakta dari tiap-tiap kasus individu, dan (5) mengulangi proses ini sesuai keperluan. Analisis data lintas kasus dalam penelitian ini dapat digambarkan dalam skema berikut:
Pengumpulan dan analisis data dalam Situs 1
Pengumpulan dan analisis data dalam Situs 2
Analisis lintas kasus
Temuan sementara
Temuan akhir
 









Bagan 2. Analisis Lintas Kasus

7.      Pengecekan Keabsahan data
Pengecekan atau pemeriksaan diperlukan untuk menjamin keabsahan data. pemeriksaan data menganut teknik tertentu yang dipandang sesuai dengan model penelitian yang dilakukan.
Dalam penelitian kualitatif, ada berbagai model teknik pemeriksaan keabsahan data, yakni perpanjangan keikutsertaan, ketekunan pengamatan, triangulasi, pengecekan sejawat, kecukupan referensial, kajian kasus negatif, pengecekan anggota, uraian rinci, audit kebergantungan, dan audit kepastian.[60] Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik ketekunan pengamatan, triangulasi, dan pengecekan sejawat.
Ketekunan pengamatan dilakukan dengan cara peneliti mengadakan pengamatan secara teliti dan cermat,  serta berkesinambungan. Dengan cara seperti ini maka kepastian data dari urutan peristiwa akan dapat direkam secara pasti dan sistematis.[61] Untuk mendukung cara ini, peneliti banyak membaca referensi buku maupun hasil penelitian atau dokumentasi-dokumentasi yang terkait dengan temuan yang diteliti. Dengan membaca ini maka diharapkan wawasan peneliti akan semakin luas dan tajam, sehingga dapat digunakan untuk memeriksa data yang ditemukan itu benar/terpercaya atau tidak.
Triangulasi diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara, dan berbagai waktu. Ada tiga macam triangulasi, yaitu triangulasi sumber, triangulasi teknik, dan triangulasi waktu. Triangulasi sumber dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui berbagai sumber. Triangulasi teknik dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik berbeda. Sedangkan triangulasi waktu dilakukan dengan cara melakukan pengecekan dengan wawancara, observasi atau teknik lain dalam waktu atau situasi yang berbeda.[62]
Pengecekan sejawat dilakukan dengan cara mengekspos hasil sementara atau hasil akhir yang didapatkan dalam bentuk diskusi dengan rekan-rekan sejawat.[63] Dengan diskusi akan menghasilan masukan dalam bentuk kritik, saran, arahan, dan lain-lain sebagai bahan pertimbangan berharga bagi proses pengumpulan data selanjutnya dan analisis data sementara serta analisis data akhir.

8.      Tahapan-Tahapan Penelitian
 Tahapan-tahapan penelitian dalam penelitian kualitatif menurut Moleong seperti dikutip oleh Ahmad Tanzeh terdiri dari tahap pralapangan, tahap pekerjaan lapangan, tahap analisa data, dan tahap pelaporan hasil penelitian.[64]
Dalam tahap pralapangan, peneliti melakukan persiapan yang terkait dengan kegiatan penelitian, misalnya mengirim surat ijin ke tempat penelitian. Apabila tahap pralapangan sudah berhasil dilaksanakan, peneliti melanjutkan ke tahap berikutnya sampai pada tahap pelaporan penelitian tentang manajemen keuangan dalam meningkatkan mutu pendidikan di MIN Model Prigi dan MI Karangandu Watulimo Trenggalek.
Penelitian ini direncanakan  mulai 28 Mei 2013 sampai dengan 24 Agustus 2013. Akan tetapi bila data yang dikumpulkan dirasa belum mencukupi maka peneliti akan memeperpanjang waktu penelitian hingga tanggal 7 September 2013.

J.        Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahasan tesis ini dibagi menjadi enam bab, yaitu:
Bab I: Pendahuluan, membahas tentang: Latar belakang masalah, fokus penelitian, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, dan penegasan istilah.
Bab II: Kajian pustaka, membahas tentang: Konsep manajemen keuangan, mutu pendidikan, serta hasil penelitian terdahulu.
Bab III: Metode penelitian, membahas tentang: Pendekatan dan rancangan penelitian, kehadiran peneliti, lokasi penelitian, sumber data, teknik pengumpulan data, analisis data, pengecekan keabsahan data, serta tahapan-tahapan penelitian.
Bab IV: Paparan data dan temuan penelitian, membahas tentang: Visi dan misi madrasah, manajemen keuangan madrasah berhubungan dengan perencanaan keuangan, penggunaan keuangan, dan pertanggungjawaban keuangan.
Bab V: Pembahasan, mencakup: Perencanaan keuangan, penggunaan keuangan, dan pertanggungjawaban keuangan dalam meningkatkan mutu pendidikan di MIN Model Prigi dan MI Karanggandu Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek.
BabVI: Penutup terdiri dari kesimpulan dan saran.


DAFTAR PUSTAKA

Asmani, Jamal Ma’mur, Tips Aplikasi Manajemen Sekolah. Jogjakarta: DIVA Press, 2012.

Ahmad, Dzaujak,  Petunjuk Peningkatan Mutu Pendidikan di Sekolah Dasar. Jakarta: Depdikbud, 1996.

Ahmadi, Rulam, Memahami Metodologi Penelitian Kualitatif. Malang: Universitas Negeri Malang Press, 2005.

Arikunto, Suharsimi, Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta, 2003.

______, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta, 2006.

Barnawi & M. Arifin, Manajemen Sarana & Prasarana Sekolah. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012.

B. Milles, Matthew dan Huberman, Analisis Data Kualitatif: Buku Sumber tentang Metode-Metode Baru. Tjetjep Rohendi Rohidi (terj.), Jakarta: UI Press, 1992.

Bungin, Burhan, Analisis Data Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2005.

Danim, Sudarwan, Visi Baru Manajemen Sekolah. Jakarta: Bumi Aksara, 2007.

______, Visi Baru Manajemen Sekolah; Dari Unit Birokrasi ke Lembaga Akademi. Jakarta: Bumi Aksara, 2008.

Diknas, Pendekatan Kontekstual (Contekstual Teaching Learning/CTL). Jakarta: Dikdasmen, 2002.

Engkoswara, Paradigma Manajemen Pendidikan Menyongsong Otonomi Daerah. Bandung: Yayasan Amal Keluarga, 2001.

Fattah, Nanang, Landasan Manajemen Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009.

Fattah, Nanang & Abu Bakar, Pengelolaan Keuangan Pendidikan, Pengantar Pengelolaan Pendidikan. Bandung: Tim Dosen Jurusan Administrasi Pendidikan UPI, 2001.

Fauzi, Imron, Manajemen Pendidikan ala Rasulullah. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012.

Hadi, Sutrisno, Metodologi Research II. Yogyakarta: Andi Ofset, 2000.

Hamalik, Oemar, Evaluasi Kurikulum. Bandung: Remaja Rosda Karya, 1990.

Handoko, T. Hani Handoko, Manajemen Edisi 2. Yogyakarta: BPFE-UGM, 2011.

Harsono, Pengelolaan Pembiayaan Pendidikan. Tesis, STAIN Surakata, 2007.

Hartanti, A.L., Manajemen Pendidikan. Yogyakarta: LaksBang PRESSindo, 2011.

Hikmat, Manajemen Pendidikan. Bandung: CV. Pustaka Setia, 2009.

Ichsani, Transparansi Manajemen Keuangan, Studi di Pondok Pesantren Salaf dan Modern Masyithoh di Desa Bolo, Wonosegoro, Boyolali. Tesis, STAIN Surakarta, 2008.

J. Moleong, Lexy, Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000.

Mulyasa, E., Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2007.
Mulyono, Manajemen Administrasi & Organisasi Pendidikan. Jogjakarta: AR-Ruzz Media, 2010.

M. Muliono, Anton, Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1993.

Nasution, S., Metodologi Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung: Tarsito, 1996.

Patttilima, Hamid, Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta, 2005.

Poerwadarminta, W.J.S., Kamus Lengkap Inggris Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1996.

Prastowo, Andi, Metode Penelitian Kualitatif dalam Perspektif Rancangan Penelitian. Jogjakarta: Ar-ruzz Media, 2012.

Riyatno, Yatim, Metodologi Penelitian Pendidikan. Surabaya: Penerbit SIC, 2001.

Riyatno, Yatim, Metodologi Penelitian Pendidikan Kualitatif dan Kuantitatif. Surabaya: Unesa Press, 2008.

S. Arcaro, Jerome, Pendidikan Berbasis Mutu, Prinsip-Prinsip dan Tata Langkah Penerapan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005.

S. Sukmadinata, Nana, Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Rosdakarya, 2009.

Safi’i, Asyrof, Metodologi Penelitian Pendidikan; Aplikasi Praktis Penelitian Pembuatan Usulan (Proposal) dan Penyusunan Laporan Penelitian. Surabaya: eLKAF, 2005.

Sagala, Syaiful, Manajemen Berbasis Sekolah dan Masyarakat. Jakarta: PT. Nimas Multima, 2004.

______, Memahami Organisasi Pendidikan. Bandung: Alfabeta, 2009.

Sallis, Edward, Manajemen Mutu Terpadu Pendidikan. Jogjakarta: IRCiSoD, 2011.

Saroni, Mohammad, Orang Miskin Harus Sekolah. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012.

Satori, Djam’an dan Aan Komariyah, Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta, 2010.

Sidi, Indra Djati, Menuju Masyarakat Belajar. Jakarta: Logos, 2003.

Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta, 2001.

Suhardan, Dadang, Organisasi dan Manajemen Pendidikan Nasional  dalam Pengantar Pengelolaan Pendidikan. Bandung: Tim Dosen Jurusan Administrasi Pendidikan UPI, 2001.

Sulistyorini, Manajemen Pendidikan Islam. Surabaya: Elkaf, 2006.

Suprayogo dan Thobroni, Metodologi, Metodologi Penelitian Sosial Agama. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003.

Suratno, Sri, Manajemen Pembiayaan Pendidikan, Studi Kasus di SD Islam Unggulan Bazra Sragen. Tesis, STAIN Surakarta 2005.

Tanzeh, Ahmad, Pengantar Metode Penelitian. Yogyakarta: Teras, 2009.

Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1999.

Tjiptono, Fandi  dan Anastasia Diana, Total Quality Management. Yogyakarta: Andi Offset, 2009.

Umiarso & Imam Gojali, Manajemen Mutu Sekolah di Era Otonomi Pendidikan. Jogjakarta: IRCiSod, 2011.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Bandung: Fokus Media, 2006.





[1]E. Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2007), h. 20.
[2]Ibid., h. 4.
[3]Syaiful Sagala, Memahami Organisasi Pendidikan (Bandung: Alfabeta, 2009), h. 68.
[4]Mohammad Saroni, Orang Miskin Harus Sekolah (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012), h. 11.
[5]Sulistiorini, Manajemen Pendidikan Islam (Surabaya: Elkaf, 2006), h. 97.
[6]Deni Kuswara, Cepti Triatna, Manajemen Peningkatan Mutu Pendidikan  (Bandung: Alfabeta, 2009), h. 287.
[8]http://mudjiarahardjo.com/artikel/315.html?task=view, diakses pada tanggal 26 Maret 2013.
[10]Mulyono, Manajemen Administrasi & Organisasi Pendidikan (Jogjakarta: AR-Ruzz Media, 2010), h. 180.
[11]Jamal Ma’mur Asmani. Tips Aplikasi Manajemen Sekolah (Jogjakarta: DIVA Press, 2012), h. 217.
[12]Sudarwan Danim, Visi Baru Manajemen Sekolah; Dari Unit Birokrasi ke Lembaga Akademi (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), h. 53.
[13]Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1991), h. 677.
[14]Dzaujak Ahmad, Petunjuk Peningkatan Mutu Pendidikan di Sekolah Dasar (Jakarta: Depdikbud, 1996), h. 8.
[15]Umiarso & Imam Gojali, Manajemen Mutu Sekolah di Era Otonomi Pendidikan (Jogjakarta: IRCiSod, 2011), h. 125-126.
[16]Barnawi & M. Arifin, Manajemen Sarana & Prasarana Sekolah (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012), h. 13.
[17]T. Hani Handoko, Manajemen Edisi 2 (Yogyakarta: BPFE-UGM, 2011), h. 8.
[18]Hikmat, Manajemen Pendidikan (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2009), h. 11.
[19]Dadang Suhardan, Organisasi dan Manajemen Pendidikan Nasional. Dalam Pengantar Pengelolaan Pendidikan (Bandung: Tim Dosen Jurusan Administrasi Pendidikan UPI, 2001), h. 16.
[20]Nanang Fattah, Landasan Manajemen Pendidikan (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009), h. 1.
[21]Engkoswara, Paradigma Manajemen Pendidikan Menyongsong Otonomi Daerah (Bandung: Yayasan Amal Keluarga, 2001), h. 2.
[22]Mulyono, Manajemen Adminstrasi & Organisasi Pendidikan (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2010), h. 180.
[23]Jamal Ma’mur Asmani, Tips Aplikasi Manajemen Sekolah (Jogjakarta: DIVA Press, 2012), h. 217.
[24]Sudarwan Danim, Visi Baru Manajemen Sekolah; Dari Unit Birokrasi ke Lembaga Akademi (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), h. 53.
[25]Fandy Tjiptono dan Anastasia Diana, Total Quality Management (Yogyakarta: Andi Offset, 2009), h. 4.
[26]Djaujak Ahmad, Petunjuk Peningkatan Mutu Pendidikan di Sekolah Dasar (Jakarta: Depdikbud, 1996), h. 8.
[27]Oemar Hamalik, Evaluasi Kurikulum (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1990), h. 33.
[28]Sudarwan Danim, Visi Baru Manajemen Sekolah; Dari Unit Birokrasi ke Lembaga Akademik, h. 53.
[29]Umiarso dan Imam Gojali, Manajemen Mutu Sekolah di Era Otonomi Pendidikan (Jogjakarta: IRCiSoD, 2011), h. 126.
[30]Sri Suratno, Manajemen Pembiayaan Pendidikan, Studi Kasus di SD Islam Unggulan Bazra Sragen (Tesis, STAIN Surakarta 2005).
[31]Harsono, Pengelolaan Pembiayaan Pendidikan (Tesis, STAIN Surakata, 2007).
[32]Ichsani, Transparansi Manajemen Keuangan, Studi di Pondok Pesantren Salaf dan Modern Masyithoh di Desa Bolo, Wonosegoro, Boyolali (Tesis, STAIN Surakarta, 2008).
[33]Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D (Bandung: Alfabeta, 2001), h. 9.
[34]Lexy J Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000), h. 5.
[35]Asyrof Safi’i, Metodologi Penelitian Pendidikan; Aplikasi Praktis Penelitian Pembuatan Usulan (Proposal) dan Penyusunan Laporan Penelitian (Surabaya: eLKAF, 2005), h. 21.
[36]Suharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), h. 310.
[37]Nana S. Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan (Bandung: Rosdakarya, 2009), h. 77.
[38]S. Nasution, Metodologi Penelitian Naturalistik Kualitatif (Bandung: Tarsito, 1996), h. 5.
[39]Rulam Ahmadi, Memahami Metodologi Penelitian Kualitatif (Malang: Universitas Negeri Malang Press, 2005), h. 63.
[40]Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), h. 129.
[41]Ibid., h. 118.
[42]S. Nasution, Metodologi Penelitian..., h. 157.
[43]Ahmad Tanzeh, Pengantar Metode Penelitian (Yogyakarta: Teras, 2009), h. 57.
[44]Burhan Bungin, Analisis Data Penelitian Kualitatif (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2005), h. 70-71.
[45]Sutrisno Hadi, Metodologi Research II (Yogyakarta: Andi Ofset, 2000), h. 106.
[46]Hamid Patilima, Metode Penelitian Kualitatif (Bandung: Alfabeta, 2005), h. 71.
[47]Rulam Ahmadi, Memahami Metodologi Penelitian Kualitatif (Malang: Universitas Negeri Malang Press, 2005), h. 71.
[48]Yatim Riyatno, Metodologi Penelitian Pendidikan (Surabaya: Penerbit SIC, 2001), h. 67.
[49]Yatim Riyanto, Metodologi Penelitian Pendidikan Kualitatif dan Kuantitatif (Surabaya: Unesa Press, 2008), h. 26.
[50]Djam’an Satori dan Aan Komariyah, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Alfabeta, 2010), h. 108.
[51]Andi Prastowo, Metode Penelitian Kualitatif dalam Perspektif Rancangan Penelitian (Jogjakarta: Ar-ruzz Media, 2012) h. 226.
[52]Sugiono, Metode Penelitian..., h. 244.
[53]Matthew B. Milles dan Huberman, Analisis Data Kualitatif: Buku Sumber tentang Metode-Metode Baru, Tjetjep Rohendi Rohidi (terj.), (Jakarta: UI Press, 1992), h. 15.
[54]Sugiono, Metode Penelitian..., h. 249.
[55]Suprayogo dan Thobroni, Metodologi, Metodologi Penelitian Sosial Agama (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003), h. 194.
[56]Mattew B. Miles dan Huberman, Analisis Data..., h. 17.
[57]Ibid., h. 19.
[58]Sugiono, Metode Penelitian..., h. 253.
[59]Andi Prastowo, Metode Penelitian..., h. 276.
[60]Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian..., h. 327.
[61]Sugiono, Metode Penelitian..., h. 272.
[62]Ibid., h. 273-274.
[63]Andi Prastowo, Metode Penelitian..., h. 271.
[64]Ahmad Tanzeh, Metode Penelitian..., h. 170.

Entri Populer