Popular Posts

Thursday, March 13, 2014

PROPOSAL: Manajemen Keuangan dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan




MANAJEMEN KEUANGAN
DALAM MENINGKATKAN MUTU PENDIDIKAN
(Studi Multi Kasus di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Model Prigi dan
Madrasah Ibtidaiyah Karanggandu Kecamatan Watulimo
Kabupaten Trenggalek)

A.      Latar Belakang Masalah
Lembaga pendidikan Islam sebagaimana lembaga pendidikan pada umumnya memiliki tanggung jawab berat dalam mewujudkan cita-cita luhur mencerdaskan kehidupan bangsa dan membentuk kepribadian bangsa yang berbudi luhur serta mempersiapkan sumber daya  manusia yang berkualitas sehingga mampu berkompetisi dalam persaingan dunia global. Dengan demikian satu kata kunci untuk mencapai itu semua adalah peningkatan mutu pendidikan tidak bisa ditunda-tunda lagi.  Peningkatan kualitas pendidikan bukanlah tugas ringan karena tidak hanya berkaitan dengan permasalahan teknis, tetapi mencakup berbagai persoalan yang sangat rumit dan kompleks, baik yang menyangkut perencanaan, pendanaan, maupun efisiensi dan efektifitas penyelenggaraan sistem sekolah.[1]
Pada dasarnya pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Salah satu kebijakan yang mencerminkan upaya pemerintah ini adalah dengan menerapkan kebijakan paling mendasar terkait penanggungjawab penyelenggara pendidikan yang semula bersifat sentralistik menjadi bersifat desentralistik. Perubahan tersebut ditandai dengan diterbitkannya Undang Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Otonomi Daerah yang membawa konsekwensi kewenangan daerah sehingga lebih otonom, termasuk bidang pendidikan.[2]
Dengan diterbitkannya undang-undang tersebut tentu akan berimplikasi pada kebijakan pemerintah daerah dan juga lembaga pendidikan bersangkutan dalam menentukan arah kebijakan, termasuk pada perumusan program-program pendidikan dan pembelajaran serta nilai-nilai yang akan ditanamkan pada peserta didiknya. Program-program  suatu lembaga pendidikan tidak dapat dilepaskan dari upaya-upaya pemerintah daerah dan lembaga pendidikan bersangkutan dalam mendesain dan mengarahkan tujuan pendidikannya pada tataran intelektual dan tataran nilai yang akan diinginkan, sebab setiap daerah dan setiap lembaga pendidikan memiliki karakteristik dan tujuan yang berbeda baik tingkat perumusan program maupun pada tingkat pelaksanaannya, walaupun secara adminstratif harus tetap mengacu pada peraturan pemerintah pusat. Jadi konsep ideal kewenangan pemerintah daerah dalam hal pendidikan adalah memberi ruang yang lebih luas kepada sekolah untuk menyelenggarakan programnya, sehingga layanan belajar menjadi semakin menarik dan kompetitif.[3] Untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas, perlu adanya pengelolaan secara menyeluruh dan profesional terhadap sumberdaya yang ada dalam lembaga pendidikan. Salah satu sumberdaya yang harus dikelola dengan baik adalah masalah keuangan.
Proses pendidikan dan pembelajaran merupakan kegiatan terencana yang dalam penyusunannya tidak dapat lepas dari faktor pembiayaan. Hal ini karena di dalam pelaksanaannya, ada banyak hal yang harus dilakukan, disiapkan, dan selanjutnya diadakan agar proses berlangsung lancar. Berbagai hal harus disiapkan dan disediakan oleh pengelola pendidikan, khususnya sarana dan prasarana pendidikan dan pembelajaran. Dengan dana ini, semua sarana dan prasarana serta operasional pendidikan dapat disediakan oleh sekolah.[4] Kelengkapan sarana dan prasarana pembelajaran akan berimplikasi pada semangat siswa untuk belajar dan memudahkan guru dalam mengajar.
Sedangkan soal yang menyangkut keuangan di sekolah pada garis besarnya berkisar pada: uang sumbangan pembinaan pendidikan (SPP), uang kesejahteraan personel dan gaji, serta keuangan yang berhubungan langsung dengan penyelenggaraan sekolah seperti perbaikan sarana dan peningkatan mutu pendidikan.[5]
Pengelolaan keuangan secara umum sebenarnya telah dilakukan dengan baik oleh semua sekolah. Hanya kadar substansi pelaksanaannya yang beragam antara sekolah yang satu dengan yang lain. Adanya keberagaman ini sangat dipengaruhi oleh status sekolah bersangkutan, letak/lokasi sekolah serta jumlah siswa di sekolah itu sendiri. Pada sekolah-sekolah biasa yang daya dukung masyarakatnya masih tergolong rendah, pengelolaan keuangannya masih sederhana. Sedangkan pada sekolah-sekolah yang daya dukung masyarakatnya tinggi, tentu saja pengelolaan keuangannya cenderung menjadi lebih rumit. Kecenderungan ini dilakukan karena sekolah harus mampu menampung berbagai kegiatan yang semakin banyak dan beragam sesuai tuntutan masyarakat.
Pendidikan dianggap sebagai suatu investasi paling berharga dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia untuk pembangunan suatu bangsa. Seringkali kebesaran suatu bangsa diukur dari sejauh mana masyarakatnya mengenyam pendidikan. Semakin tinggi pendidikan suatu bangsa maka semakin majulah bangsa tersebut. Kualitas pendidikan tidak hanya dilihat dari kemegahan fasilitas pendidikan yang dimiliki, tetapi sejauh mana output suatu lembaga pendidikan dapat membangun manusia yang paripurna sebagaimana tahapan pendidikan.[6]
Hasil penelitian yang dilakukan oleh lembaga survey pendidikan menunjukkan kemerosotan pendidikan di Indonesia. Pada tahun 2011 World Bank menyimpulkan kualitas pendidikan di Indonesia masih rendah. Survey yang melibatkan 50 negara di dunia menempatkan pendidikan Indonesia lebih rendah dibawah Brasil dan Meksiko. Survei dilakukan terhadap sistem pendidikan di 50 negara, dengan memadukan hasil tes internasional dan data-data, seperti tingkat kelulusan antara 2006 dan 2010 yang diambil berdasarkan tes setiap tiga atau empat tahun di berbagai bidang, termasuk matematika, sains, dan kesusastraan.[7]
Sementara berdasarkan data dalam Education for All (EFA) Global Monitroring Report  2011 yang dikeluarkan UNESCO dan diluncurkan di New York pada Senin, 1 Maret 2011, indeks pembangunan pendidikan Indonesia berada pada urutan 69 dari 127 negara yang disurvei. Lembaga yang selalu memonitor perkembangkan pendidikan di berbagai negara di dunia setiap tahun itu menempatkan kualitas pendidikan Indonesia masih lebih baik daripada Filipina, Kamboja, dan Laos. Tetapi apa artinya dengan membandingkannya dengan tiga negara yang memang selama ini peringkatnya tidak pernah berada di atas Indonesia. Survei ini menggunakan empat tolok ukur, yaitu angka partisipasi pendidikan dasar, angka melek huruf pada anak usia 15 tahun ke atas, angka partisipasi menurut kesetaraan jender, dan angka bertahan siswa hingga kelas V SD. Di Jawa Timur saja beberapa waktu lalu pemerintah provinsi Jawa Timur mengumumkan dari 37 juta penduduk Jawa Timur masih terdapat kurang lebih 6 juta penduduk yang masih buta huruf. Begitu juga dengan tolok ukur mengenai kesetaraan jender dalam  praktik pendidikan masih jauh dari angka ideal. Kendati isu kesetaraan jender terus dikumandangkan dan pemerintah secara khusus mengangkat menteri untuk menangani masalah perempuan, pembangunan kesetaraan jender masih menemui banyak kendala di Indonesia. Malah ada yang menganggap kesetaraan jender adalah  agenda masyarakat Barat dan bertentangan dengan nilai budaya bangsa, lebih-lebih nilai agama (Islam).[8]
Di Tingkat Asia saja saat ini Indonesia masih tertinggal dari Brunei Darussalam yang berada di peringkat ke-34. Brunai Darussalam masuk kelompok pencapaian tinggi bersama Jepang, yang mencapai posisi nomor satu Asia. Adapun Malaysia berada di peringkat ke-65 atau masih dalam kategori kelompok pencapaian medium seperti halnya Indonesia. Meskipun demikian posisi Indonesia saat ini masih jauh lebih baik dari Filipina (85), Kamboja (102), India (107), dan Laos (109).[9]
Dari paparan di atas tampak jelas bahwa manajemen keuangan merupakan satu hal penting dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan. Oleh karena itu peneliti ingin menggali informasi dan temuan hasil penelitian yang berkenaan dengan manajemen keuangan atau pendanaan yang efektif dalam meningkatkan mutu pendidikan di MIN Model Prigi Kecamatan Watulimo dan MI Karanggandu Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek.
Pemilihan lokasi penelitian di MIN Model Prigi Kecamatan Watulimo sebagai tempat penelitian dengan pertimbangan sebagai berikut: (1) madrasah ini merupakan satu-satunya madrasah berstatus negeri dan menjadi percontohan (model) pendidikan dasar di bawah naungan Kementerian Agama Kabupaten Trenggalek, (2) MIN Model Prigi Watulimo termasuk salah satu madrasah yang mendapat bantuan proyek Madrasah Education Development Project (MEDP), (3) jumlah murid di MIN Model Prigi Watulimo paling banyak untuk lingkup pendidikan tingkat dasar (SD/MI) di wilayah Kecamatan Watulimo yaitu sekitar 400 siswa pada tahun pelajaran 2012/2013, serta (4) sarana dan prasarana yang dimiliki cukup lengkap dan memadai.
Sedangkan pertimbangan pemilihan lokasi penelitian di MI Karanggandu Kecamatan Watulimo adalah: (1) MI Karanggandu Watulimo merupakan satu-satunya madrasah tingkat dasar yang dikelola swasta yang cukup maju di wilayah Kecamatan Watulimo, (2) MI Karanggandu Watulimo merupakan satu-satunya MI swasta di Watulimo yang mendapat bantuan proyek Madrasah Educatioan Development Project (MEDP), (3) memiliki jumlah siswa paling banyak di wilayah Kecamatan Watulimo untuk MI swasta yakni sekitar 300 siswa, (3) animo masyarakat cukup tinggi untuk memasukkan anaknya ke madrasah ini sehingga memiliki prospek cerah dalam pengembangannya ke depan.
Berawal dari fakta dan paparan latar belakang masalah di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang yang berfokus pada manajemen keuangan dengan judul “Manajemen Keuangan dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan (Studi Multi Situs di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Model Prigi dan Madrasah Ibtidaiyah Karanggandu Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek)”.

B.       Fokus Penelitian
Berdasarkan uraian di atas, maka penelitian ini difokuskan pada Manajemen Keuangan dengan rumusan masalah sebagai berikut:
1.      Bagaimana perencanaan keuangan dalam meningkatkan mutu pendidikan  di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Model Prigi dan Madrasah Ibtidaiyah Karanggandu Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek?
2.      Bagaimana penggunaan keuangan dalam meningkatkan mutu pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Model Prigi dan Madrasah Ibtidaiyah Karanggandu Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek?
3.      Bagaimana pertanggungjawaban keuangan dalam meningkatkan mutu pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Model Prigi dan Madrasah Ibtidaiyah Karanggandu Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek?

C.      Tujuan Penelitian
Berdasarkan fokus penelitian di atas, maka tujuan penelitian yang dilakukan adalah:
1.      Untuk mengetahui perencanaan keuangan dalam meningkatkan mutu pendidikan  di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Model Prigi dan Madrasah Ibtidaiyah Karanggandu Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek?
2.      Untuk mengetahui penggunaan keuangan dalam meningkatkan mutu pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Model Prigi dan Madrasah Ibtidaiyah Karanggandu Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek?
3.      Untuk mengetahui pertanggungjawaban keuangan dalam meningkatkan mutu pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Model Prigi dan Madrasah Ibtidaiyah Karanggandu Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek?

D.      Kegunaan Hasil Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi berbagai pihak terutama yang berperan dalam dunia pendidikan. Adapun kegunaan yang diharapkan adalah sebagai berikut:
a.       Kegunaan secara teoritis
Memberikan kontribusi keilmuan bagi ilmu pendidikan terutama mengenai konsep implementasi manajemen keuangan di lembaga pendidikan Islam tingkat dasar.
b.      Kegunaan secara praktis
1.      Bagi pihak MIN Model Prigi dan MI Karanggandu Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan tentang manajemen keuangan dalam meningkatkan mutu pendidikan.
2.      Bagi peneliti sendiri, hasil penelitian ini dapat meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan peneliti dalam praktik manajemen keuangan di Madrasah Ibtidaiyah.

E.       Penegasan Istilah
1.      Penegasan istilah secara konseptual.
Manajemen keuangan (financial management) adalah segala aktifitas organisasi yang berhubungan dengan bagaimana memperoleh dana, menggunakan dana, dan mengelola aset sesuai tujuan organisasi secara menyeluruh.[10] Dengan demikian, manajemen keuangan sekolah merupakan rangkaian aktivitas mengatur keuangan sekolah mulai dari perencanaan, pembukuan, pembelanjaan, pengawasan, dan pertanggungjawaban keuangan sekolah.[11]
Mutu adalah derajat keunggulan suatu produk atau hasil kerja, baik berupa barang atau jasa.[12] Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan mutu adalah ukuran, baik buruk suatu benda; taraf atau derajat (kepandaian, kecerdasan); kualitas.[13]
Sementara jika dilihat dari sisi pendidikan, mutu pendidikan dapat diartikan sebagai kemampuan sekolah dalam pengelolaan secara operasional dan efisien terhadap komponen-komponen yang berkaitan dengan sekolah, sehingga menghasilkan nilai tambah terhadap komponen tersebut menurut norma/standar yang berlaku.[14] Mutu pendidikan juga mengandung pengertian derajat keunggulan dalam pengelolaan pendidikan secara efektif dan efisien untuk melahirkan keunggulan akademis dan ekstrakurikuler pada peserta didik yang dinyatakan lulus untuk satu jenjang pendidikan atau menyelesaikan program pembelajaran tertentu.[15]
2.      Penegasan istilah secara operasional.
Secara operasional yang dimaksud penulis dalam judul “Manajemen Keuangan dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan (Studi Multi Situs di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Model Prigi dan Madrasah Ibtidaiyah Karanggandu Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek)” adalah suatu penelitian ilmiah untuk memperoleh keterangan atau data-data mengenai bagaimana perencanaan, penggunaan, dan pertanggungjawaban keuangan serta unsur-unsur pendukung dan penghambat dalam manajemen keuangan sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan di kedua madrasah tersebut.
                                                                                                     
F.       Tinjauan Pustaka
Secara etimologi, kata manajemen berasal dari bahasa Perancis Kuno menagement, yang memiliki arti seni melaksanakan dan mengatur. Dalam bahasa Inggris, kata manajemen berasal dari kata to manage artinya mengelola, membimbing dan mengawasi. Jika diambil dalam bahasa Italia, berasal dari kata maneggiare memiliki arti mengendalikan, terutamanya mengendalikan kuda. Sementara itu dalam bahasa Latin, kata manajemen berasal dari kata manus yang berarti tangan dan agere yang berarti melakukan, jika digabung memiliki arti menangani.[16]
Secara terminologi, para ahli tidak memiliki rumusan yang sama tentang definisi manajemen. Stoner sebagaimana dikutip Handoko merumuskan manajemen sebagai proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber-sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan.[17]
Manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia secara efektif, yang didukung oleh sumber-sumber lainnya dalam suatu organisasi untuk mencapai tujuan tertentu. [18]
Manajemen juga diartikan sebagai usaha yang sistematis dalam  mengatur dan menggerakkan orang-orang yang ada dalam organisasi agar mereka bekerja dengan sepenuh kesanggupan dan kemampuan yang dimilikinya.[19]
Nanang Fatah mengartikan manajemen sebagai suatu proses merencana, mengorganisasi, memimpin, dan mengendalikan upaya organisasi dengan segala aspeknya agar tujuan organisasi tercapai secara efektif dan efisien.[20]
Sedangkan manajemen pendidikan sendiri mengandung arti suatu ilmu yang mempelajari bagaimana menata sumber daya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan secara produktif dan bagaimana menciptakan suasana yang baik bagi manusia yang turut serta dalam mencapai tujuan yang disepakati bersama.[21]
Salah satu obyek garapan dalam manajemen pendidikan adalah menajemen keuangan. Kegiatan di sekolah yang sangat kompleks membutuhkan pengaturan keuangan yang baik. Keuangan di sekolah merupakan bagian yang amat penting sebab setiap kegiatan membutuhkan pendanaan (uang). Untuk itu perlu manajemen keuangan yang baik sehingga seluruh program sekolah yang telah disusun dapat terlaksana dengan baik. Manajemen keuangan (financial management) mengandung makna segala aktivitas organisasi yang berhubungan dengan bagaimana memperoleh dana, menggunakan dana, dan mengelola aset sesuai tujuan organisasi secara menyeluruh.[22] Di dalam manajemen keuangan sekolah terdapat rangkaian aktivitas terdiri dari perencanaan program sekolah, perkiraan anggaran, dan pendapatan yang diperlukan dalam pelaksanaan program, pengesahan dan penggunaan anggaran sekolah .[23]
Sedangkan mutu menurut Sudarwan Danim dapat didevinisikan sebagai derajat keunggulan suatu produk atau hasil kerja, baik berupa barang atau jasa.[24] Sedangkan D.L. Goetsch dan S. Davis, seperti dikutip Fandy Tjiptono dan Anastasia Diana, mendefinisikan mutu sebagai suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa, manusia, proses, dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan.[25]
Sementara itu, jika dilihat dari segi korelasi mutu dengan pendidikan, sebagaimana dikemukakan oleh Djaujak Ahmad, bahwa mutu pendidikan adalah kemampuan sekolah dalam pengelolaan secara operasional dan efisien terhadap komponen-komponen yang berkaitan dengan sekolah, sehingga menghasilkan nilai tambah terhadap komponen tersebut menurut norma/standar yang berlaku.[26]
Menurut Oemar Hamalik, pengertian mutu dapat dilihat dari dua sisi, yaitu segi normatif dan segi deskriptif. Dalam arti normatif, mutu ditentukan berdasarkan pertimbangan (kriteria) intrinsik dan ekstrinsik. Berdasarkan kriteria intrinsik, mutu pendidikan merupakan produk pendidikan yakni manusia yang terdidik, sesuai dengan standard ideal. Berdasarkan kriteria ekstrinsik, pendidikan merupakan instrumen untuk mendidik tenaga kerja yang terlatih. Adapun dalam arti deskriptif, mutu ditentukan berdasarkan keadaan senyatanya, misalnya hasil tes prestasi belajar.[27]
Sudarwan Danim memiliki pandangan lain tentang mutu pendidikan, yakni mengacu pada masukan, proses, luaran, dan dampaknya. Mutu masukan dapat dilihat dari beberapa sisi. Pertama, kondisi baik atau tidaknya masukan sumber daya manusia, seperti kepala sekolah, guru, laboran, staf tata usaha, dan siswa. Kedua, memenuhi atau tidaknya kriteria masukan material berupa alat peraga, buku-buku, kurikulum, prasarana, sarana sekolah, dan lain-lain. Ketiga, memenuhi atau tidaknya kriteria masukan yang berupa perangkat lunak, seperti peraturan, struktur organisasi, dan deskripsi kerja. Keempat, mutu masukan yang bersifat harapan dan kebutuhan, seperti visi, motivasi, ketekunan, dan cita-cita. Mutu proses pembelajaran mengandung makna bahwa kemampuan sumber daya sekolah mentransformasikan multi jenis masukan dan situasi untuk mencapai derajat nilai tambah tertentu dari peserta didik. Dilihat dari hasil pendidikan, mutu pendidikan dipandang berkualitas jika mampu melahirkan keunggulan akademis dan ekstrakurikuler pada peserta didik yang dinyatakan lulus untuk satu jenjang pendidikan atau menyelesaikan program pembelajaran tertentu.[28]
Dengan demikian kualitas jasa pendidikan dapat diketahui dengan cara membandingkan persepsi pelanggan atas pelayanan yang diperoleh atau diterima secara nyata oleh mereka dengan dengan pelayanan yang sesungguhnya diharapkan. Jika kenyataan lebih dari yang diharapkan, pelayanan dapat dikatakan bermutu. Sebaliknya, jika kenyataan kurang dari yang diharapkan, pelayanan dapat dikatakan tidak bermutu. Namun, apabila kenyataan sama dengan harapan, maka kualitas pelayanan disebut memuaskan. Dengan demikian, kualitas pelayanan dapat didefinisikan seberapa jauh perbedaan antara kenyataan dan harapan para pelanggan atas layanan yang diterima mereka.[29]

G.      Penelitian Terdahulu
Sejauh yang diketahui oleh penulis, penelitian tentang manajemen keuangan masih cukup sulit ditemui dalam bentuk buku, jurnal ilmiah, skripsi maupun tesis, apalagi yang berhubungan dengan upaya untuk meningkatkan mutu pendidikan. Faktor  keengganan dari para peneliti dan adanya anggapan “tabu” bagi sebagian pemegang kekuasaan di masing-masing instansi, perusahaan atau organisasi untuk membuka diri terhadap penelitian tentang keuangan yang menjadi “rahasia intern”  instansi, perusahaan atau organisasi bersangkutan, menjadi penyebab utama sedikitnya hasil-hasil penelitian tentang manajemen keuangan yang terpublikasikan ke media.   Namun demikian ada beberapa judul penelitian serupa yang masih bersinggungan langsung dengan masalah keuangan/pendanaan, antara lain:
1.      Judul penelitian “Manajemen Pembiayaan Pendidikan (Studi Kasus di SD Islam Unggulan Bazra Sragen Tahun Ajaran 2005/2006), Sri Suranto (STAIN Surakarta, 2005). Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen yang diterapkan di SD Islam Unggulan Bazra Sragen sudah sesuai dengan fungsi dan manajemen pembiayaan pendidikan dalam ruang lingkup administrasi pendidikan.[30]
2.      Judul penelitian “Pengelolaan Biaya Pendidikan” oleh Harsono (STAIN Surakarta, 2007) yang meneliti tentang budget sekolah yang merupakan serangkaian kegiatan sekolah, pendapatan sekolah, biaya-biya yang harus dibayar pada waktu tertentu dan pada waktu yang akan datang. Budget sekolah meliputi master budget yaitu budget lengkap yang dimiliki sekolah. Budget dibuat oleh tim sekolah, namun jika warga sekolah tidak memiliki keahlian untuk menyusun budget sekolah, maka sekolah dapat menyerahkan kepada pihak lain yang kompeten. Penelitian Harsono ini menyimpulkan bahwa kemampuan menyusun budget sekolah yang meliputi kegiatan dan program harus dikerjakan oleh sekolah dari waktu ke waktu, secara transparan, akuntabel dan responsibel.[31]
3.      Judul penelitian “Transparansi Manajemen Keuangan (Studi di Pondok Pesantren Salaf dan Modern Masyithoh di Desa Bolo, Wonosegoro, Boyolali Tahun Ajaran 2008/2009)”, oleh Ichsani (STAIN Surakarta, 2008). Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen keuangan di pondok pesantren ini sudah transparan. Hal ini dapat dilihat dari beberapa aspek yang mengarah kepada perwujudan transparansi meliputi penyusunan anggaran, pembukuan keuangan, evaluasi keuangan dan pertanggungjawaban.[32]
Penelitian-penelitian di atas lebih menitikberatkan pada masalah manajemen pembiayaan atau keuangan serta trasparansi manajemen keuangan saja, belum menyentuh pada tataran implikasinya terhadap peningkatan mutu pendidikan di lembaga bersangkutan. Maka dari itu peneliti sangat tertarik untuk meneliti manajemen keuangan dalam kaitannya dengan perencanaan keuangan, penggunaan keuangan, dan pertanggungjawaban keuangan dalam meningkatkan mutu pendidikan di MIN Model Prigi dan MI Karanggandu sebagaimana judul tesis yang penulis ajukan yaitu “Manajemen Keuangan dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan (Studi Multi Situs di Madrasah Ibtidaiyah Negeri Model Prigi dan Madrasah Ibtidaiyah Karanggandu Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek”.

I.    Metode Penelitian
1.    Pendekatan dan Rancangan Penelitian
Fokus penelitian dalam tesis ini adalah manajemen keuangan dalam meningkatkan mutu pendidikan. Untuk mengungkap substansi penelitian ini diperlukan pengamatan mendalam dan dengan latar yang alami (natural setting). Dengan demikian pendekatan yang diambil adalah pendekatan kualitatif yakni metode penelitian yang digunakan untuk meneliti kondisi obyek yang alamiah, dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara triangulasi (gabungan), analisa data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi.[33]
Pendekatan kualitatif ini digunakan karena beberapa pertimbangan. Pertama, menyesuaikan metode kualitatif apabila berhadapan dengan kenyataan ganda. Kedua, metode ini menyajikan secara langsung hakekat hubungan antara peneliti dan responden. Ketiga, metode ini lebih peka dan lebih dapat menyelesaikan diri dengan banyak penajaman pengaruh bersama dan terhadap pola-pola nilai yang dihadapi.[34]
Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan keberadaan dua lembaga pendidikan dasar di bawah lingkup Kementerian Agama sekaligus dengan status berbeda yakni Madrasah Ibtidaiyah Negeri Model Prigi  dan Madrasah Ibtidaiyah Karanggandu Watulimo Trenggalek yakni tentang manajemen keuangan dalam meningkatkan mutu pendidikan, maka jenis penelitian adalah penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang dilakukan untuk mendeskripsikan kondisi atau hubungan yang ada, pendapat yang sedang tumbuh, proses yang sedang berlangsung, akibat yang sedang terjadi atau kecenderungan yang tengah berkembang.[35] Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang berusaha menggambarkan “apa adanya” tentang suatu variabel, gejala atau keadaan.[36]
Dalam penelitian deskriptif, ada beberapa variasi yaitu: studi perkembangan, studi kasus, studi multi kasus, studi kemasyarakatan, studi perbandingan, studi hubungan, studi lanjut, studi kecenderungan, analisis kegiatan, dan analisis dokumen atau isi.[37] Dalam hal ini rancangan penelitian yang peneliti lakukan adalah studi multi kasus yakni bertujuan untuk mendapatkan hasil yang lebih valid dengan membandingkan data dari dua tempat penelitian yang berbeda.
Situs yang pertama adalah MIN Model Prigi yang terletak di Desa Prigi Kecamatan Watulimo Trenggalek dan situs kedua adalah MI Karanggandu Watulimo Trenggalek. Beberapa perbedaan dari kedua tempat penelitian ini adalah: (a) MIN Model Prigi berstatus negeri dan merupakan sekolah model (percontohan) sedangkan MI Karanggandu dikelola lembaga swasta yakni dibawah naungan Ma’arif, (b) MIN Model Prigi didominasi oleh pendidik dan tenaga kependidikan berstatus PNS (Pegawai Negeri Sipil) yakni lebih dari 75 %, sedangkan MI Karanggandu didominasi oleh pendidik dan tenaga kependidikan swasta berstatus honorer dan satu-satunya yang berstatus PNS adalah kepala madrasahnya. Kedua perbedaan mendasar ini tentu berpengaruh besar terhadap manajemen keuangan di kedua lembaga pendidikan Islam tersebut.
2.    Kehadiran Peneliti
Dalam penelitian kualitatif, peran peneliti sangat penting yakni sebagai instrumen kunci. Hal ini dapat difahami bahwa keabsahan data nanti akhirnya diserahkan pada subyek penelitian, apakah data yang diperoleh maupun analisisnya benar-benar sesuai dengan persepsi/pandangan subyek. Oleh karena itu kehadiran peneliti berperan sebagai perencana, pelaksana, pengumpul data, penganalisis, penafsir data, dan sekaligus melaporkan hasil penelitian.[38]
Untuk memenuhi kriteria tersebut, peneliti berupaya menjalin hubungan baik dengan para informan selama penelitian berlangsung dengan melakukan perbincangan agar menambah keakraban dan keterbukaan informasi. Namun demikian, peneliti tetap hati-hati dan cermat serta selektif dalam mencari, memilih, dan menyaring data, sehingga data yang terkumpul benar-benar relevan dan terjamin keabsahannya. Sebagai penelitian ilmiah, peneliti berusaha sedapat mungkin menghindari subyektifitas dan memperhatikan fakta-fakta yang ada serta menjaga terjadinya pandangan curiga dari pengelola madrasah sehingga informan merasa tidak sedang diteliti dan dapat memberikan informasi secara obyektif (apa adanya) dan tidak mengada-ada dengan tujuan tertentu.
3.      Lokasi Penelitian
Lokasi dalam penelitian ini adalah Madrasah Ibtidaiyah Negeri Model Prigi Watulimo Trenggalek yang beralamat di Dusun Sumber RT.   RW. Desa Prigi Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek yakni berjarak sekitar 1 km ke arah utara dari kantor Kecamatan Watulimo. Sedangkan Madrasah Ibtidaiyah Karanggandu beralamat di Dusun Gading RT. 09 RW. 03 Desa Karanggandu Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek, yakni berjarak sekitar 1,5 km ke arah selatan dari kantor Kecamatan Watulimo.
4.      Sumber Data
Sumber data kualitatif adalah apa yang dikatakan oleh orang-orang berkaitan dengan seperangkat pertanyaan yang diajukan oleh peneliti. Yang merupakan sumber utama data kualitatif adalah data yang diperoleh secara verbal melalui suatu wawancara atau dalam bentuk tertulis melalui analisa dokumen atau respon survei.[39] Dalam klasifikasinya, sumber data dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu person (sumber data yang berupa orang), place (sumber data yang berupa tempat), paper (sumber data yang berupa simbol).[40] Sedangkan yang dimaksud data adalah segala fakta dan angka yang dapat dijadikan bahan untuk menyusun suatu informasi. Sedangkan informasi adalah hasil pengolahan data yang dipakai untuk suatu keperluan.[41]
Sebagaimana yang dikemukakan Moleong bahwa kata-kata dan tindakan orang-orang yang diamati atau diwawancarai merupakan sumber data utama. Sumber data utama dicatat melalui catatan tertulis dan melalui perekaman video atau audio tape, pengambilan foto atau film, pencatatan sumber data utama melalui wawancara atau pengamatan berperan serta sehingga merupakan hasil utama gabungan dari kegiatan melihat, mendengar, dan bertanya.[42]
Sumber data primer dalam penelitian ini adalah kata-kata dan tindakan kepala sekolah, bendahara, komite madrasah, pegawai TU, serta para siswa MIN Model Prigi Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenngalek dan MI Karanggandu Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek.
Adapun sumber data skunder dalam penelitian ini adalah dokumen atau bahan tertulis atau bahan perpustakaan, yakni buku-buku, artikel, jurnal ilmiah, dan koran yang membahas masalah-masalah yang relevan dengan penelitian ini, seperti sejarah madrasah, visi misi, struktur organisasi, daftar guru dan tenaga kependidikan, dll. Sumber data sekunder lain adalah dokumentasi foto, seperti foto-foto kegiatan yang berhubungan dengan manajemen keuangan dalam meningkatkan mutu pendidikan, segala aktifitas maupun sarana prasarana yang ada, yang dapat memberikan gambaran nyata pada aspek-aspek yang diteliti, seperti ruang kelas, ruang UKS (Usaha Kesehatan Sekolah), ruang IT (Informasi Teknologi), ruang lab IPA, ruang lab bahasa, ruang perpustakaan, musholla, dll.
5.      Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data adalah prosedur yang sistematik dan standar untuk memperoleh data yang diperlukan.[43] Pada penelitian kualitatif, pada dasarnya teknik pengumpulan data yang lazim digunakan adalah observasi partisipan, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Kegiatan pengumpulan data yang dilakukan dengan observasi dan wawancara mendalam untuk menjelajahi dan melacak secara memadai terhadap realitas fenomena yang tengah distudi.[44]
Maka dalam penelitian ini, peneliti menggunakan tiga teknik tersebut, yaitu:
a.    Observasi patisipan
Observasi diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan dengan sistematik fenomena-fenomena yang diselidiki.[45] Sedangkan observasi partisipan atau pengamatan terlibat menurut Parsudi Suparlan sebagaimana dikutip Hamid Patilima merupakan sebuah teknik pengumpulan data yang mengharuskan peneliti melibatkan diri dalam kehidupan dari masyarakat yang diteliti untuk dapat melihat dan memahami gejala-gejala yang ada, sesuai maknanya dengan yang diberikan atau dipahami oleh para warga yang ditelitinya.[46]
Dengan demikian peneliti hadir di lapangan (di lokasi penelitian) secara langsung untuk mengetahui keberadaan obyek, situasi, konteks, dan maknanya dalam upaya mengumpulkan data penelitian yakni mengenai fenomena-fenomena dan hal-hal yang berhubungan dengan manajemen keuangan dalam meningkatkan mutu pendidikan. Data-data dari pengamatan ini berupa catatan lapangan.
b.      Wawancara mendalam (indepth interview)
Menurut Michael Quinn Patton sebagaiman dikutip oleh Rulam Ahmadi cara yang utama dilakukan oleh ahli peneliti kualitatif untuk memahami persepsi, perasaan dan pengetahuan orang-orang adalah wawancara mendalam dan intensif. Yang dimaksud dengan wawancara mendalam, mendetail atau intensif adalah upaya menemukan pengalaman-pengalaman informan dari topik tertentu atau situasi spesifik yang dikaji. Oleh karena itu, dalam melaksanakan wawancara untuk mencari data digunakan pertanyaan-pertanyaan yang memerlukan jawaban berupa informasi.[47] Wawancara atau interview merupakan metode pengumpulan data yang menghendaki komunikasi secara langsung antara peneliti dengan subyek atau responden.[48] Hal paling penting dari wawancara mendalam adalah peneliti berbaur dan mengambil bagian aktif dalam situasi sosial penelitian, sehingga peneliti dapat memanfaatkan pendekatan ini untuk mengumpulkan data selengkap-lengkapnya.[49]
Untuk mengatasi terjadinya bias informasi yang diragukan kesahihannya, maka pada setiap wawancara dilakukan pengujian informasi dari informan sebelumnya dan diadakan pencarian sumber informasi baru. Seperti ketika peneliti mewawancarai kepala sekolah dan para wakil kepala sekolah, wawancara direkam dan dipelajari secara mendalam, lalu peneliti berdiskusi dengan para guru atau informan lain yang memiliki hubungan erat dengan data-data penelitian yang ingin dikumpulkan. Selain itu juga dibuatkan panduan wawancara sesuai kebutuhan penelitian.
c.       Dokumentasi
Penggunaan teknik dokumentasi bertujuan untuk melengkapi data yang diperoleh dari teknik observasi partisipan dan wawancara mendalam.
Dokumen adalah catatan kejadian yang sudah lampau yang dinyatakan dalam bentuk lisan, tulisan, dan karya bentuk.[50] Dokumen menurut Pohan (2007) sebagaimana dikutip Andi Prastowo juga bisa berbentuk arsip-arsip, akta, ijazah, rapor, peraturan perundang-undangan, buku harian, surat-surat pribadi, catatan biografi, dan lain-lain yang memiliki keterkaitan dengan masalah yang diteliti.[51]
6.      Analisis Data
Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sistesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah difahami oleh diri sendiri maupun orang lain.[52]
Analisis data dalam penelitian kualitatif menurut Matthew B. Milles terdiri dari tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan, yaitu: reduksi data, penyajian data, dan verifikasi atau penarikan kesimpulan.[53]
1).  Reduksi data
Reduksi data merupakan proses berfikir sensitive yang memerlukan kecerdasan, keluasan, dan kedalaman wawasan yang tinggi.[54] Data yang didapat dari lokasi penelitian dituangkan dalam laporan secara rinci. Kemudian dalam proses ini peneliti dapat melakukan pilihan-pilihan terhadap data yang hendak dikode, mana yang akan dihilangkan dan mana yang akan dipakai sebagai data penelitian.[55] Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran lebih jelas dan mempermudah peneliti untuk mendapatkan data selanjutnya.
3)      Penyajian data
Penyajian data atau display data merupakan proses penyajian sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan.[56] Penyajian data dimaksudkan untuk mempermudah peneliti melihat gambaran secara keseluruhan atau bagian tertentu dari penelitian secara akurat (valid).
4)      Verifikasi data (conclusion drawing)
Dalam penelitian ini proses verifikasi dilakukan terus menerus selama proses penelitian berlangsung. Saat memasuki obyek penelitian (lapangan) serta selama proses pengumpulan data, peneliti berusaha menganalisis serta mencari arti dari data yang terkumpul, yakni mencari pola-pola, penjelasan, konfigurasi-konfigurasi yang mungkin, alur sebab akibat serta proposisi.[57] Kesimpulan dalam penelitian kualitatif adalah merupakan temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada. Temuan dapat berupa deskripsi atau gambaran suatu obyek yang sebelumnya masih remang-remang atau gelap sehingga setelah diteliti menjadi jelas, dapat berupa hubungan kausal atau interaktif, hipotesis atau teori.[58]
Data Collection
Analisis data interaktif model Miles dan Huberman sebagaimana dikutip Andi Prastowo dapat digambarkan seperti terlihat pada bagan berikut:

Data Display
Data Reduction
Conclusion Drawing
 






Bagan 1. Analisis Data Interaktif Model[59]
Penelitian ini menggunakan studi multi kasus di dua situs berbeda yakni MIN Model Prigi dan MI Karanggandu. Analisis data lintas kasus dimaksudkan sebagai proses membandingkan temuan-temuan yang diperoleh dari tiap-tiap kasus, sekaligus sebagai proses memadukan antar kasus. Awalnya temuan yang diperoleh dari MIN Model Prigi disusun kategori dan tema, dianalisis secara induktif konseptual dan dibuat penjelasan naratif yang selanjutnya dikembangkan menjadi teori substantif I.
Teori substantif I dianalisis dengan teori substantif II (temuan di MI Karanggandu) untuk menemukan perbedaan karakteristik masing-masing kasus sebagai konsepsi teoritis berdasarkan perbedaan. Selanjutnya dilakukan analisis lintas kasus antara kasus I dan kasus II dengan cara yang sama. Analisis akhir ini dimaksudkan untuk menyusun konsepsi sistematis berdasarkan analisis data dan interpretasi teoritis yang selanjutnya dijadikan bahan untuk mengembangkan temuan teori substantif.
Temuan sementara
Langkah-langkah analisis lintas kasus meliputi : (1) pendekatan konseptual yang dilakukan dengan membandingkan dan memadukan konseptual dari tiap-tiap kasus individu, (2) hasilnya dijadikan dasar untuk menyusun pertanyaan konseptual lintas kasus, (3) mengevaluasi kesesuaian konseptual dengan fakta yang menjadi acuan, (4) merekonstrusi ulang konseptual-konseptual sesuai dengan fakta dari tiap-tiap kasus individu, dan (5) mengulangi proses ini sesuai keperluan. Analisis data lintas kasus dalam penelitian ini dapat digambarkan dalam skema berikut:
Pengumpulan dan analisis data dalam Situs 1
Pengumpulan dan analisis data dalam Situs 2
Analisis lintas kasus
Temuan sementara
Temuan akhir
 









Bagan 2. Analisis Lintas Kasus

7.      Pengecekan Keabsahan data
Pengecekan atau pemeriksaan diperlukan untuk menjamin keabsahan data. pemeriksaan data menganut teknik tertentu yang dipandang sesuai dengan model penelitian yang dilakukan.
Dalam penelitian kualitatif, ada berbagai model teknik pemeriksaan keabsahan data, yakni perpanjangan keikutsertaan, ketekunan pengamatan, triangulasi, pengecekan sejawat, kecukupan referensial, kajian kasus negatif, pengecekan anggota, uraian rinci, audit kebergantungan, dan audit kepastian.[60] Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik ketekunan pengamatan, triangulasi, dan pengecekan sejawat.
Ketekunan pengamatan dilakukan dengan cara peneliti mengadakan pengamatan secara teliti dan cermat,  serta berkesinambungan. Dengan cara seperti ini maka kepastian data dari urutan peristiwa akan dapat direkam secara pasti dan sistematis.[61] Untuk mendukung cara ini, peneliti banyak membaca referensi buku maupun hasil penelitian atau dokumentasi-dokumentasi yang terkait dengan temuan yang diteliti. Dengan membaca ini maka diharapkan wawasan peneliti akan semakin luas dan tajam, sehingga dapat digunakan untuk memeriksa data yang ditemukan itu benar/terpercaya atau tidak.
Triangulasi diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara, dan berbagai waktu. Ada tiga macam triangulasi, yaitu triangulasi sumber, triangulasi teknik, dan triangulasi waktu. Triangulasi sumber dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui berbagai sumber. Triangulasi teknik dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik berbeda. Sedangkan triangulasi waktu dilakukan dengan cara melakukan pengecekan dengan wawancara, observasi atau teknik lain dalam waktu atau situasi yang berbeda.[62]
Pengecekan sejawat dilakukan dengan cara mengekspos hasil sementara atau hasil akhir yang didapatkan dalam bentuk diskusi dengan rekan-rekan sejawat.[63] Dengan diskusi akan menghasilan masukan dalam bentuk kritik, saran, arahan, dan lain-lain sebagai bahan pertimbangan berharga bagi proses pengumpulan data selanjutnya dan analisis data sementara serta analisis data akhir.

8.      Tahapan-Tahapan Penelitian
 Tahapan-tahapan penelitian dalam penelitian kualitatif menurut Moleong seperti dikutip oleh Ahmad Tanzeh terdiri dari tahap pralapangan, tahap pekerjaan lapangan, tahap analisa data, dan tahap pelaporan hasil penelitian.[64]
Dalam tahap pralapangan, peneliti melakukan persiapan yang terkait dengan kegiatan penelitian, misalnya mengirim surat ijin ke tempat penelitian. Apabila tahap pralapangan sudah berhasil dilaksanakan, peneliti melanjutkan ke tahap berikutnya sampai pada tahap pelaporan penelitian tentang manajemen keuangan dalam meningkatkan mutu pendidikan di MIN Model Prigi dan MI Karangandu Watulimo Trenggalek.
Penelitian ini direncanakan  mulai 28 Mei 2013 sampai dengan 24 Agustus 2013. Akan tetapi bila data yang dikumpulkan dirasa belum mencukupi maka peneliti akan memeperpanjang waktu penelitian hingga tanggal 7 September 2013.

J.        Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahasan tesis ini dibagi menjadi enam bab, yaitu:
Bab I: Pendahuluan, membahas tentang: Latar belakang masalah, fokus penelitian, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, dan penegasan istilah.
Bab II: Kajian pustaka, membahas tentang: Konsep manajemen keuangan, mutu pendidikan, serta hasil penelitian terdahulu.
Bab III: Metode penelitian, membahas tentang: Pendekatan dan rancangan penelitian, kehadiran peneliti, lokasi penelitian, sumber data, teknik pengumpulan data, analisis data, pengecekan keabsahan data, serta tahapan-tahapan penelitian.
Bab IV: Paparan data dan temuan penelitian, membahas tentang: Visi dan misi madrasah, manajemen keuangan madrasah berhubungan dengan perencanaan keuangan, penggunaan keuangan, dan pertanggungjawaban keuangan.
Bab V: Pembahasan, mencakup: Perencanaan keuangan, penggunaan keuangan, dan pertanggungjawaban keuangan dalam meningkatkan mutu pendidikan di MIN Model Prigi dan MI Karanggandu Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek.
BabVI: Penutup terdiri dari kesimpulan dan saran.


DAFTAR PUSTAKA

Asmani, Jamal Ma’mur, Tips Aplikasi Manajemen Sekolah. Jogjakarta: DIVA Press, 2012.

Ahmad, Dzaujak,  Petunjuk Peningkatan Mutu Pendidikan di Sekolah Dasar. Jakarta: Depdikbud, 1996.

Ahmadi, Rulam, Memahami Metodologi Penelitian Kualitatif. Malang: Universitas Negeri Malang Press, 2005.

Arikunto, Suharsimi, Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta, 2003.

______, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta, 2006.

Barnawi & M. Arifin, Manajemen Sarana & Prasarana Sekolah. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012.

B. Milles, Matthew dan Huberman, Analisis Data Kualitatif: Buku Sumber tentang Metode-Metode Baru. Tjetjep Rohendi Rohidi (terj.), Jakarta: UI Press, 1992.

Bungin, Burhan, Analisis Data Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2005.

Danim, Sudarwan, Visi Baru Manajemen Sekolah. Jakarta: Bumi Aksara, 2007.

______, Visi Baru Manajemen Sekolah; Dari Unit Birokrasi ke Lembaga Akademi. Jakarta: Bumi Aksara, 2008.

Diknas, Pendekatan Kontekstual (Contekstual Teaching Learning/CTL). Jakarta: Dikdasmen, 2002.

Engkoswara, Paradigma Manajemen Pendidikan Menyongsong Otonomi Daerah. Bandung: Yayasan Amal Keluarga, 2001.

Fattah, Nanang, Landasan Manajemen Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009.

Fattah, Nanang & Abu Bakar, Pengelolaan Keuangan Pendidikan, Pengantar Pengelolaan Pendidikan. Bandung: Tim Dosen Jurusan Administrasi Pendidikan UPI, 2001.

Fauzi, Imron, Manajemen Pendidikan ala Rasulullah. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012.

Hadi, Sutrisno, Metodologi Research II. Yogyakarta: Andi Ofset, 2000.

Hamalik, Oemar, Evaluasi Kurikulum. Bandung: Remaja Rosda Karya, 1990.

Handoko, T. Hani Handoko, Manajemen Edisi 2. Yogyakarta: BPFE-UGM, 2011.

Harsono, Pengelolaan Pembiayaan Pendidikan. Tesis, STAIN Surakata, 2007.

Hartanti, A.L., Manajemen Pendidikan. Yogyakarta: LaksBang PRESSindo, 2011.

Hikmat, Manajemen Pendidikan. Bandung: CV. Pustaka Setia, 2009.

Ichsani, Transparansi Manajemen Keuangan, Studi di Pondok Pesantren Salaf dan Modern Masyithoh di Desa Bolo, Wonosegoro, Boyolali. Tesis, STAIN Surakarta, 2008.

J. Moleong, Lexy, Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000.

Mulyasa, E., Manajemen Berbasis Sekolah. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2007.
Mulyono, Manajemen Administrasi & Organisasi Pendidikan. Jogjakarta: AR-Ruzz Media, 2010.

M. Muliono, Anton, Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1993.

Nasution, S., Metodologi Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung: Tarsito, 1996.

Patttilima, Hamid, Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta, 2005.

Poerwadarminta, W.J.S., Kamus Lengkap Inggris Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1996.

Prastowo, Andi, Metode Penelitian Kualitatif dalam Perspektif Rancangan Penelitian. Jogjakarta: Ar-ruzz Media, 2012.

Riyatno, Yatim, Metodologi Penelitian Pendidikan. Surabaya: Penerbit SIC, 2001.

Riyatno, Yatim, Metodologi Penelitian Pendidikan Kualitatif dan Kuantitatif. Surabaya: Unesa Press, 2008.

S. Arcaro, Jerome, Pendidikan Berbasis Mutu, Prinsip-Prinsip dan Tata Langkah Penerapan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005.

S. Sukmadinata, Nana, Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Rosdakarya, 2009.

Safi’i, Asyrof, Metodologi Penelitian Pendidikan; Aplikasi Praktis Penelitian Pembuatan Usulan (Proposal) dan Penyusunan Laporan Penelitian. Surabaya: eLKAF, 2005.

Sagala, Syaiful, Manajemen Berbasis Sekolah dan Masyarakat. Jakarta: PT. Nimas Multima, 2004.

______, Memahami Organisasi Pendidikan. Bandung: Alfabeta, 2009.

Sallis, Edward, Manajemen Mutu Terpadu Pendidikan. Jogjakarta: IRCiSoD, 2011.

Saroni, Mohammad, Orang Miskin Harus Sekolah. Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012.

Satori, Djam’an dan Aan Komariyah, Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta, 2010.

Sidi, Indra Djati, Menuju Masyarakat Belajar. Jakarta: Logos, 2003.

Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta, 2001.

Suhardan, Dadang, Organisasi dan Manajemen Pendidikan Nasional  dalam Pengantar Pengelolaan Pendidikan. Bandung: Tim Dosen Jurusan Administrasi Pendidikan UPI, 2001.

Sulistyorini, Manajemen Pendidikan Islam. Surabaya: Elkaf, 2006.

Suprayogo dan Thobroni, Metodologi, Metodologi Penelitian Sosial Agama. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003.

Suratno, Sri, Manajemen Pembiayaan Pendidikan, Studi Kasus di SD Islam Unggulan Bazra Sragen. Tesis, STAIN Surakarta 2005.

Tanzeh, Ahmad, Pengantar Metode Penelitian. Yogyakarta: Teras, 2009.

Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka, 1999.

Tjiptono, Fandi  dan Anastasia Diana, Total Quality Management. Yogyakarta: Andi Offset, 2009.

Umiarso & Imam Gojali, Manajemen Mutu Sekolah di Era Otonomi Pendidikan. Jogjakarta: IRCiSod, 2011.

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Bandung: Fokus Media, 2006.





[1]E. Mulyasa, Manajemen Berbasis Sekolah (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2007), h. 20.
[2]Ibid., h. 4.
[3]Syaiful Sagala, Memahami Organisasi Pendidikan (Bandung: Alfabeta, 2009), h. 68.
[4]Mohammad Saroni, Orang Miskin Harus Sekolah (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012), h. 11.
[5]Sulistiorini, Manajemen Pendidikan Islam (Surabaya: Elkaf, 2006), h. 97.
[6]Deni Kuswara, Cepti Triatna, Manajemen Peningkatan Mutu Pendidikan  (Bandung: Alfabeta, 2009), h. 287.
[8]http://mudjiarahardjo.com/artikel/315.html?task=view, diakses pada tanggal 26 Maret 2013.
[10]Mulyono, Manajemen Administrasi & Organisasi Pendidikan (Jogjakarta: AR-Ruzz Media, 2010), h. 180.
[11]Jamal Ma’mur Asmani. Tips Aplikasi Manajemen Sekolah (Jogjakarta: DIVA Press, 2012), h. 217.
[12]Sudarwan Danim, Visi Baru Manajemen Sekolah; Dari Unit Birokrasi ke Lembaga Akademi (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), h. 53.
[13]Tim Penyusun, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1991), h. 677.
[14]Dzaujak Ahmad, Petunjuk Peningkatan Mutu Pendidikan di Sekolah Dasar (Jakarta: Depdikbud, 1996), h. 8.
[15]Umiarso & Imam Gojali, Manajemen Mutu Sekolah di Era Otonomi Pendidikan (Jogjakarta: IRCiSod, 2011), h. 125-126.
[16]Barnawi & M. Arifin, Manajemen Sarana & Prasarana Sekolah (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2012), h. 13.
[17]T. Hani Handoko, Manajemen Edisi 2 (Yogyakarta: BPFE-UGM, 2011), h. 8.
[18]Hikmat, Manajemen Pendidikan (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2009), h. 11.
[19]Dadang Suhardan, Organisasi dan Manajemen Pendidikan Nasional. Dalam Pengantar Pengelolaan Pendidikan (Bandung: Tim Dosen Jurusan Administrasi Pendidikan UPI, 2001), h. 16.
[20]Nanang Fattah, Landasan Manajemen Pendidikan (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009), h. 1.
[21]Engkoswara, Paradigma Manajemen Pendidikan Menyongsong Otonomi Daerah (Bandung: Yayasan Amal Keluarga, 2001), h. 2.
[22]Mulyono, Manajemen Adminstrasi & Organisasi Pendidikan (Jogjakarta: Ar-Ruzz Media, 2010), h. 180.
[23]Jamal Ma’mur Asmani, Tips Aplikasi Manajemen Sekolah (Jogjakarta: DIVA Press, 2012), h. 217.
[24]Sudarwan Danim, Visi Baru Manajemen Sekolah; Dari Unit Birokrasi ke Lembaga Akademi (Jakarta: Bumi Aksara, 2008), h. 53.
[25]Fandy Tjiptono dan Anastasia Diana, Total Quality Management (Yogyakarta: Andi Offset, 2009), h. 4.
[26]Djaujak Ahmad, Petunjuk Peningkatan Mutu Pendidikan di Sekolah Dasar (Jakarta: Depdikbud, 1996), h. 8.
[27]Oemar Hamalik, Evaluasi Kurikulum (Bandung: Remaja Rosda Karya, 1990), h. 33.
[28]Sudarwan Danim, Visi Baru Manajemen Sekolah; Dari Unit Birokrasi ke Lembaga Akademik, h. 53.
[29]Umiarso dan Imam Gojali, Manajemen Mutu Sekolah di Era Otonomi Pendidikan (Jogjakarta: IRCiSoD, 2011), h. 126.
[30]Sri Suratno, Manajemen Pembiayaan Pendidikan, Studi Kasus di SD Islam Unggulan Bazra Sragen (Tesis, STAIN Surakarta 2005).
[31]Harsono, Pengelolaan Pembiayaan Pendidikan (Tesis, STAIN Surakata, 2007).
[32]Ichsani, Transparansi Manajemen Keuangan, Studi di Pondok Pesantren Salaf dan Modern Masyithoh di Desa Bolo, Wonosegoro, Boyolali (Tesis, STAIN Surakarta, 2008).
[33]Sugiono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D (Bandung: Alfabeta, 2001), h. 9.
[34]Lexy J Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000), h. 5.
[35]Asyrof Safi’i, Metodologi Penelitian Pendidikan; Aplikasi Praktis Penelitian Pembuatan Usulan (Proposal) dan Penyusunan Laporan Penelitian (Surabaya: eLKAF, 2005), h. 21.
[36]Suharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian (Jakarta: Rineka Cipta, 2003), h. 310.
[37]Nana S. Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan (Bandung: Rosdakarya, 2009), h. 77.
[38]S. Nasution, Metodologi Penelitian Naturalistik Kualitatif (Bandung: Tarsito, 1996), h. 5.
[39]Rulam Ahmadi, Memahami Metodologi Penelitian Kualitatif (Malang: Universitas Negeri Malang Press, 2005), h. 63.
[40]Suharsimi Arikunto, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik (Jakarta: Rineka Cipta, 2006), h. 129.
[41]Ibid., h. 118.
[42]S. Nasution, Metodologi Penelitian..., h. 157.
[43]Ahmad Tanzeh, Pengantar Metode Penelitian (Yogyakarta: Teras, 2009), h. 57.
[44]Burhan Bungin, Analisis Data Penelitian Kualitatif (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2005), h. 70-71.
[45]Sutrisno Hadi, Metodologi Research II (Yogyakarta: Andi Ofset, 2000), h. 106.
[46]Hamid Patilima, Metode Penelitian Kualitatif (Bandung: Alfabeta, 2005), h. 71.
[47]Rulam Ahmadi, Memahami Metodologi Penelitian Kualitatif (Malang: Universitas Negeri Malang Press, 2005), h. 71.
[48]Yatim Riyatno, Metodologi Penelitian Pendidikan (Surabaya: Penerbit SIC, 2001), h. 67.
[49]Yatim Riyanto, Metodologi Penelitian Pendidikan Kualitatif dan Kuantitatif (Surabaya: Unesa Press, 2008), h. 26.
[50]Djam’an Satori dan Aan Komariyah, Metodologi Penelitian Kualitatif (Bandung: Alfabeta, 2010), h. 108.
[51]Andi Prastowo, Metode Penelitian Kualitatif dalam Perspektif Rancangan Penelitian (Jogjakarta: Ar-ruzz Media, 2012) h. 226.
[52]Sugiono, Metode Penelitian..., h. 244.
[53]Matthew B. Milles dan Huberman, Analisis Data Kualitatif: Buku Sumber tentang Metode-Metode Baru, Tjetjep Rohendi Rohidi (terj.), (Jakarta: UI Press, 1992), h. 15.
[54]Sugiono, Metode Penelitian..., h. 249.
[55]Suprayogo dan Thobroni, Metodologi, Metodologi Penelitian Sosial Agama (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2003), h. 194.
[56]Mattew B. Miles dan Huberman, Analisis Data..., h. 17.
[57]Ibid., h. 19.
[58]Sugiono, Metode Penelitian..., h. 253.
[59]Andi Prastowo, Metode Penelitian..., h. 276.
[60]Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian..., h. 327.
[61]Sugiono, Metode Penelitian..., h. 272.
[62]Ibid., h. 273-274.
[63]Andi Prastowo, Metode Penelitian..., h. 271.
[64]Ahmad Tanzeh, Metode Penelitian..., h. 170.

Entri Populer