Saturday, 23 January 2016

MENINGKATAN KEMAMPUAN MENERJEMAH SURAT QURAISY DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA KARTU PERMAINAN PADA SISWA KELAS VIII F SEMESTER GANJIL MTsN WATULIMO TAHUN PELAJARAN 2015/2016

MENINGKATAN KEMAMPUAN MENERJEMAH SURAT QURAISY DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA KARTU PERMAINAN PADA SISWA KELAS VIII F SEMESTER GANJIL MTsN WATULIMO
TAHUN PELAJARAN 2015/2016

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG MASALAH
Salah satu standar kompetensi mata pelajaran Al Qur’an Hadits kelas VIII adalah menerapkan Al Qur’an surat pendek pilihan. Di antara faktor yang mendukung penerapan ajaran Al Qur’an tersebut, tentunya siswa dapat mengerti arti/tarjamah Al Qur’an sebagai syarat utama untuk dapat mengerti dan memahami isi kandungan Al Qur’an. Pada hal, dalam kenyataan di lapangan, banyak siswa kelas VIII yang tidak kompeten dalam bidang menerjemah. Dengan demikian, masalah penguasaan terhadap kompetensi menerjemah yang merupakan kompetensi inti ini merupakan masalah yang bersifat penting dan mendesak untuk segera dipecahkan khususnya di MTsN Watulimo.
Menerjemah merupakan syarat utama yang menjadi modal dasar untuk dapat mengerti dan memahami isi kandungan Al Qur’an yang berbahasa Arab. Dengan demikian, kemampuan dalam bidang menerjemah menjadi titik tolak bagi penerapan isi kandungan Al Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Materi Al Qur’an yang diajarkan di kelas VIII adalah berkenaan dengan rezeki Allah yakni QS Quraisy dan QS Al Insyirah. Kedua surat ini diajarkan di kelas VIII semester ganjil. Materi tersebut meliputi menghafal surat, menyalin, menerjemah dan memahami isi kandungan surat serta menerapkan isi kandungan surat dalam kehidupan sehari-hari.
Selama ini, kemampuan menerjemah siswa tergolong rendah. Dari 37 siswa yang berada di kelas VIII F, hanya 45,9 % (17 siswa) saja yang memiliki ketuntasan nilai menerjemah pada uji kompetensi menerjemah. Rendahnya nilai tersebut diakibatkan oleh rendahnya penguasaan siswa terhadap aspek menerjemah. Dari wawancara yang dilakukan kepada beberapa siswa, diketahui bahwa mereka merasa kesulitan dalam memahami arti mufradat, yang pada akhirnya kesulitan juga untuk dapat menerjemah secara lengkap/sempurna. Apalagi metode guru dalam pembelajaran selama ini masih terbatas pada metode ceramah, tanya jawab dan penugasan. Penggunaan media permainan yang sesuai dengan usia anak belum dilakukan.
Siswa kelas VIII rata-rata berusia 13-14 tahun. Menurut teori psikologi pendidikan, anak yang berada dalam usia ini termasuk dalam kategori concrete operational. Pada tahap ini, anak memerlukan banyak ilustrasi, model, gambar dan kegiatan-kegiatan lain. Tiga sumber perhatian untuk anak-anak di dalam kelas yaitu gambar, cerita dan permainan. Anak-anak senang melihat gambar terutama yang menarik, jelas, dan berwarna (Ur dalam Suyanto, 2004:7). Dikaitkan dengan teori ini, maka media kartu permainan yang menarik menjadi salah satu alternatif untuk memecahkan masalah kesulitan menerjemah tersebut.
Media kartu permainan ini, juga sesuai dengan teori PAKEM (pembelajaran aktif kreatif efektif dan menyenangkan) yang seiring pula dengan pemberlakuan quantum teaching and learning, yaitu pembelajaran yang dilakukan dengan suasana yang menyenangkan. Pembelajaran quantum berpegang pada semboyan “bawalah dunia mereka ke dunia kita, dan antarkan dunia kita ke dunia mereka”. Seorang guru hendaknya memasuki dunia murid (dunia permainan) terlebih dahulu untuk memudahkan guru memasukkan pengetahuan dalam benak mereka (De Porter, dkk. 1999).
Permainan kartu dalam pembelajaran menerjemah yang dilakukan secara berkelompok dan dalam suasana yang menyenangkan juga sesuai dengan pembelajaran kontekstual, yaitu pembelajaran yang didasarkan pada dunia nyata. Salah satu prinsip dalam CTL adalah learning community yaitu belajar kelompok. Belajar kelompok dalam CTL selaras pula dengan pembelajaran kooperatif yang juga digalakkan penerapannya dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Dalam pembelajaran CTL dan kooperatif akan terjadi proses belajar sambil bekerja (learning by doing). Proses pembelajaran ini berlangsung secara alamiah, artinya siswa bekerja dan mengalami sendiri dan kegiatan berfokus kepada siswa serta lebih memberdayakan siswa sebagai pembelajar dan bukan kepada guru sebagai pengajar (Nurhadi, 2003).
Terkait dengan (a) rendahnya kemampuan siswa kelas VIII F pada kompetensi menerjemah, (b) rendahnya motivasi siswa dalam belajar menerjemah, (c) pengaruh penguasaan kompetensi menerjemah terhadap penguasaan kompetensi dasar yang lain, (d) pentingnya penggunaan media pembelajaran, (e) kecocokan media permainan dengan usia anak kelas VIII, (f) belum tersedianya media kartu permainan untuk pembelajaran agama Islam, (g) kesesuaian kartu permainan dengan media pembelajaran berbasis kompetensi, (h) media kartu sebagai media yang mudah dibuat dan didapat, (i) belum diadakannya penelitian tindakan kelas terkait dengan penggunaan media kartu permainan, maka penggunaan media kartu permainan dalam proses pembelajaran ini diusulkan untuk diterapkan dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran Al Qur’an Hadits di MTsN Watulimo.

B. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan paparan latar belakang di atas, maka permasalahan umum dalam penelitian tindakan kelas ini adalah bagaimanakah pembuatan dan penerapan media kartu permainan yang dapat diterapkan dalam pembelajaran menerjemah pada mata pelajaran Al Qur’an Hadits bagi siswa MTsN Watulimo kelas VIII F.
Adapun rumusan masalah secara khusus adalah sebagai berikut.
1. Bagaimanakah media kartu permainan dapat meningkatkan minat siswa kelas VIIII F MTsN Watulimo terhadap pembelajaran menerjemah?
2. Bagaimanakah penerapan media kartu permainan dapat meningkatkan kemampuan menerjemah siswa kelas VIIII F MTsN Watulimo?

C. TUJUAN PENELITIAN
Penelitian tindakan kelas ini secara umum bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran Al Qur’an Hadits di MTsN Watulimo melalui pembuatan dan penerapan media kartu permainan dalam pembelajaran menerjemah pada mata pelajaran Al Qur’an Hadits di kelas VIII F. Adapun tujuan khusus dari penelitian ini adalah untuk:
1. Mengetahui peningkatan minat siswa kelas VIIII F MTsN Watulimo terhadap pembelajaran menerjemah melalui media kartu permainan.
2. Mengetahui peningkatan kemampuan menerjemah siswa kelas VIIII F MTsN Watulimo.

D. MANFAAT HASIL PENELITIAN
Penelitian tindakan kelas ini bermanfaat, baik bagi guru, siswa, maupun pihak-pihak lain yang terkait. Bagi guru Al Qur’an Hadits MTsN Watulimo, penelitian ini bermanfaat untuk meningkatkan kompetensinya dalam mengatasi masalah pembelajaran yang berkaitan dengan media kartu permainan untuk pembelajaran menerjemah bagi siswa kelas VIIII F MTsN Watulimo. Jika kompetensi guru meningkat, maka diharapkan kualitas pembelajaran di kelas pun akan meningkat.
Bagi siswa, penelitian ini bermanfaat karena proses pembelajaran di kelas menjadi tambah menyenangkan dengan terintegrasinya media permainan dalam pembelajaran. Pembelajaran yang dilakukan dengan menyenangkan merupakan faktor penting perolehan ilmu secara alamiah. Anak akan belajar sambil bermain dan bermain sambil belajar. Model permainan ini juga mendorong siswa untuk berlomba berbuat yang terbaik di dalam kelas, memotivasi mereka untuk aktif dan kreatif dalam rangka meningkatkan kompetensinya karena pembelajaran dilakukan dengan menyenangkan, yaitu menggunakan permainan yang sesuai dengan kebutuhan dan tingkat perkembangan psikologis mereka. Siswa akan melakukan proses learning by doing dan lebih aktif dalam menemukan pengalaman dan ketrampilan, bukan hanya sekedar penerima informasi dari guru sebagaimana yang selama ini terjadi. Para siswa akan termotivasi untuk belajar karena mereka juga tertuntut untuk bertanggung jawab terhadap suksesnya pembelajaran.
Bagi pihak-pihak terkait, misalnya lembaga madrasah, penelitian ini penting dilakukan karena dapat meningkatkan kualitas pembelajaran Al Qur’an Hadits di MTsN Watulimo. Penelitian ini juga dapat memotivasi guru mata pelajaran lain untuk memperlakukan siswa dengan kegiatan serupa sehingga kualitas pembelajaran akan meningkat pula.
Bagi Kementerian Agama, hasil penelitian ini juga dapat meningkatkan mutu madrasah yang berada di bawah naungannya sehingga madrasah yang bersangkutan dapat dijadikan contoh bagi madrasah lain dalam pembuatan dan penerapan media kartu permainan dalam pembelajaran Al Qur’an Hadits.
Dengan demikian, secara umum, penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia, khususnya guru dan siswa. Dengan meningkatnya kualitas pembelajaran berarti ikut membantu mensukseskan tujuan pembangunan nasional, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

Dalam kajian pustaka ini dipaparkan kajian teoretis dan empiris yang digunakan sebagai dasar penyusunan kerangka berpikir yang akan digunakan dalam penelitian. Kajian pustaka ini meliputi (a) media pembelajaran, (b) permainan dalam pembelajaran, (c) bentuk-bentuk kartu permainan untuk pembelajaran menerjemah.

A. MEDIA PEMBELAJARAN
Media pembelajaran merupakan bagian integral dalam proses pembelajaran di kelas yang keberadaannya tidak dapat dikesampingkan dalam rangka peningkatan mutu pembelajaran. Association of Education and Communication Technology (AECT) memberi batasan tentang media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan untuk menyampaikan pesan atau informasi (Arsyad, 2004: 3). Media pembelajaran adalah alat yang mengantarkan pesan yang mengandung maksud-maksud pengajaran atau mengandung tujuan instruksional (Arsyad, 2004: 4). Pemanfaatan media dapat meningkatkan kualitas pembelajaran (Suharto, 2004). Media adalah alat yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat. Dalam dunia pendidikan media merupakan alat bantu atau alat peraga pendidikan yang disesuaikan dengan tuntutan kurikulum yang sudah dipikirkan sesuai dengan kemampuan siswa. Adapun media gambar ialah gambar yang digunakan sebagai media untuk menyampaikan pesan yang dituangkan ke dalam simbol-simbol komunikasi visual yang biasanya memuat gambar orang, tempat dan benda (Ridwan, 2004).
Penggunaan media dalam pembelajaran dapat merangsang minat dan perhatian siswa (Latuheru, 1982: 42). Selain itu, gambar yang dipilih dan diadaptasi secara tepat dapat membantu siswa dalam mengingat informasi bahan-bahan verbal yang menyertainya (Setiyasih, 2003: 2). Apabila yang akan diajarkan menyangkut konsep tentang warna, maka gambar-gambar berwarna sangat tepat digunakan dan ini akan lebih menarik perhatian siswa.
Menurut Bruner (1966: 10-11), terdapat tiga tingkatan modus belajar, yaitu pengalaman langsung (enactiv), pengalaman piktorial/ gambar (iconic), dan pengalaman abstrak (symbolic). Pengalaman langsung dilakukan dengan mengerjakan sesuatu (learning by doing), pengalaman ikonik melalui gambar, lukisan, foto, dan pengalaman simbolik dilakukan melalui bacaan atau pendengaran.
Tingkatan pengalaman pemerolehan hasil belajar tersebut menurut Edgar Dale (1969 dalam Arsyad, 2004:8) disebut proses komunikasi. Semakin banyak alat indra yang digunakan dalam menerima dan mengolah informasi, semakin besar pula kemungkinan informasi tersebut dimengerti dan dapat dipertahankan dalam ingatan. Teori Dale tentang penggunaan media dalam proses pembelajaran disebut dengan kerucut pengalaman Dale yang dapat digambarkan sebagai berikut:



Lambang kata
Abstrak Lambang visual
Gambar diam, rekaman
Gambar hidup pameran
Televisi
Karyawisata
Dramatisasi
benda tiruan, pengamatan
Kongkret Pengalaman langsung
Gambar 2.1
Kerucut Pengalaman Dale
Jadi menurut Edgar dale, tingkat keabstrakan akan semakin tinggi ketika pesan itu dituangkan ke dalam lambang-lambang. Perkembangan kognitif anak-anak usia sekolah dasar (SD dan SLTP) berada pada tahap operasi kongkrit. Oleh karena itu mereka lemah dalam berfikir abstrak. Hal ini berarti bahwa pengajaran di kelas-kelas pendidikan dasar hendaknya sekongkret mungkin dan sebanyak mungkin melibatkan pengalaman-pengalaman fisik (Nur, 2004:36).
Fungsi penggunaan media, khususnya media visual dalam pembelajaran adalah sebagai berikut:
1. Fungsi atensi; merupakan fungsi inti dari media visual, yaitu menarik perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan. Seringkali di awal pelajaran, siswa kurang tertarik pada pelajaran, tetapi ketika ditampilkan gambar visual, permainan, mereka akan tergugah emosi dan motivasinya untuk belajar.
2. Fungsi afektif; bahwa adanya media visual dalam pembelajaran dapat meningkatkan kenikmatan siswa dalam belajar. Gambar visual dapat menggugah emosi dan sikap siswa terhadap materi yang disampaikan guru.
3. Fungsi kognitif; bahwa media visual tampak dari temuan-temuan penelitian yang mengungkapkan bahwa lambang visual atau gambar dapat memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan mengingat informasi yang terkandung dalam gambar.
4. Fungsi kompensatoris; bahwa media visual memberikan konteks untuk memahami teks, membantu siswa yang lemah dalam membaca dan mengingatnya kembali. Media pembelajaran berfungsi untuk mengakomodasikan siswa yang lemah dan lambat menerima dan memahami isi pelajaran yang disajikan dengan teks atau disajikan secara verbal (Arsyad, 2004: 17)
Dengan demikian, penggunaan media pembelajaran dalam proses belajar mengajar bermanfaat untuk memperjelas penyajian pesan, meningkatkan dan mengarahkan perhatian siswa pada materi pelajaran, mengatasi keterbatasan indra, ruang dan waktu, memberikan kesamaan pengalaman pada siswa tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi dan memungkinkan adanya interaksi langsung dengan guru dan masyarakat seperti kunjungan ke musium, kebun binatang, dan lain-lain.
Salah satu bentuk media pengajaran yang sesuai dengan perkembangan jiwa siswa setingkat Madrasah Tsanawiyah adalah kartu permainan. Media pengajaran yang sesuai dengan situasi dan kondisi siswa ini akan berguna untuk meningkatkan motivasi belajar siswa, menimbulkan semangat kerjasama dan kreativitas, serta merangsang guru untuk berkreasi dalam mengajar.

B. PERMAINAN DALAM PEMBELAJARAN
Permainan adalah salah satu kegiatan yang tidak bisa terlepas dari kehidupan anak-anak. Siswa setingkat SMP/MTS berada pada kisaran usia 13-15 tahun yang tentunya masih sangat menyukai bentuk-bentuk permainan. Karena itu segala aktivitas yang ditujukan untuk mereka selalu diikuti dengan permainan, baik ketika mereka berada dalam lingkungan sekolah maupun ketika berada dalam lingkungan keluarga dan masyarakat.
Badan Assosiasi Pendidikan untuk Anak-anak, Assosiation for Educational of Young Children (NAEYC) berpendapat bahwa permainan merupakan salah satu wahana utama bagi pertumbuhan dan perkembangan anak (Tri Priyatni, 1996). Melalui permainan akan berkembang kognisi, emosi, sosial dan fisiknya.
Permainan yang dilakukan dalam proses pembelajaran untuk anak bukanlah tujuan, akan tetapi merupakan alat atau media untuk mencapai suatu tujuan pendidikan, yaitu pencapaian kompetensi hasil belajara seoptimal mungkin. Permainan mempunyai banyak manfaat dalam proses pembelajaran, seperti menghilangkan kebosanan, memberikan tantangan untuk memecahkan masalah dalam suasana gembira, menimbulkan semangat kerjasama, membantu siswa yang lamban dan kurang motivasi serta mendorong guru untuk selalu kreatif (Asrori, 1995).
Belajar dengan bermain akan memberikan kesempatan kepada anak untuk memanipulasi, mengulang-ulang, menemukan sendiri, bereksplorasi, mempraktekkan dan mendapatkan bermacam-macam konsep serta pengertian yang tidak terhitung banyaknya (Tedjasaputra, 2001). Dengan bermain anak tidak merasa terpaksa atau dipaksa. Bermain merupakan cara bagi anak untuk mengungkapkan pemikiran, perasaan dan cara mereka menjelajahi dunia lingkungannnya di samping juga menjalin hubungan sosial antar anak (Patmonodewo, 2000:112).
Menurut Mc Callum ada sejumlah alasan perlunya penggunaan permainan dalam pembelajaran bahasa, yaitu permainan dapat memusatkan perhatian siswa pada satu aspek kebahasaan, pola kalimat, atau kelompok kata tertentu, dapat menjadi penguatan dan pemantapan, dapat disesuaikan dengan keadaan individu siswa, mendorong terjadinya persaingan yang sehat, dan memberi kesempatan untuk menggunakan bahasa sasaran secara alami dalam situasi yang santai. Di samping itu, permainan dapat digunakan untuk melatih menyimak, membaca, berbicara, dan menulis, dapat memberikan umpan balik sesegera mungkin kepada guru dan dapat meningkatkan partisipasi siswa secara lebih maksimal ((Mc Callum dalam Asrori, 2002).
Permainan bermanfaat bagi perkembangan aspek fisik, motorik, sosial, emosi atau kepribadian, dan kognisi. Menurut teori kognitif Pieget, bermain bermanfaat untuk mempraktekkan dan melakukan konsolidasi konsep-konsep serta ketrampilan yang telah dipelajari sebelumnya. Sedangkan menurut teori psikoanalitik Freud, bermain bermanfaat untuk mengatasi pengalaman traumatik dan coping terhadap frustasi. Bermain merupakan cara yang digunakan anak untuk mengatasi masalahnya (Tedjasaputra, 2001).
Hughes (dalam Sudono, 2000) menegaskan bahwa bermain merupakan pengalaman belajar yang sangat berguna bagi anak karena dapat meningkatkan daya kreativitas dan citra diri anak yang positif. Unsur-unsur yang merupakan daya kreativitas adalah kelancaran, fleksibel, pilihan, orisinil, elaborasi dengan latihan menjawab, luwes dalam menerima beragam jawaban, mampu memilih jawaban yang paling tepat, jawaban yang tidak menyontek. Untuk itu perlu adanya kerja keras. Hal itu juga akan menimbulkan motivasi dan keinginan untuk bekerja dengan baik sehingga akan terjadi proses belajar sampai menghasilkan produk. Proses ini menurut Utami Munandar disebut dengan 4P, yaitu pribadi, pendorong, proses dan produk (Utami Munandar, dalam Sudono, 2000).
Belajar akan lebih efektif jika dilakukan dalam suasana menyenangkan (Peter Kline dalam Suharto, 2004). Permainan yang menyenangkan akan meningkatkan aktivitas sel otak mereka. Lebih lanjut, keaktifan sel otak akan membantu memperlancar proses pembelajaran anak. Pengalaman-pengalaman itulah yang merupakan dasar dari berbagai tingkat perkembangan dan sangat membantu menigkatkan kemampuan anak. Anak akan merasa gembira dan semakin percaya diri jika dalam sebuah permainannya dapat menemukan penyeleseian dengan tuntas. Unsur mampu menemukan sendiri “aku bisa” ini sangat penting bagi anak, dan rasa percaya diri ini akan dapat membentuk citra diri yang positif. Permainan yang menyenangkan juga akan meningkatkan aktivitas sel otak mereka. Lebih lanjut, keaktifan sel otak akan membantu memperlancar proses pembelajaran anak. Pengalaman-pengalaman itulah yang merupakan dasar dari berbagai tingkat perkembangan dan sangat membantu meningkatkan kemampuan anak.

C. FUNGSI PERMAINAN DALAM PEMBELAJARAN
Kartu permainan merupakan media interaktif antara guru dan siswa. Banyak ahli berpendapat bahwa permainan memiliki peran yang sangat penting dalam membantu pertumbuhan dan perkembangan anak. Dalam proses belajar-mengajar, diperlukan penggunaan teknik bermain. Ada beberapa pikiran yang mendasari hal ini, antara lain: (1) permainan mampu menghilangkan kebosanan, (2) permainan memberikan tantangan untuk memecahkan masalah dalam suasana gembira, (3) permainan dapat menimbulkan semangat kerja sama sekaligus persaingan yang sehat, (4) permainan dapat membantu siswayang lamban dan kurang mampu, dan (5) permainan mendorong guru untuk selalu berkreasi (Hidayat dan Tatang, 1980).
Bermain juga bermanfaat bagi perkembangan anak, yaitu:
1. Perkembangan aspek fisik. Bila anak mendapat kesempatan untuk melakukan kegiatan yang banyak melibatkan gerakan-gerakan tubuh, akan membuat anak menjadi sehat.
2. Perkembangan aspek motorik. Gerakan-gerakan yang dilakukan anak ketika corat-coret atau ketika bermain kejar-kejaran dapat meningkatkan berkembangnya aspek motorik anak.
3. Perkembangan aspek sosial. Aspek ini dapat dilihat dari proses permainan yang dilakukan anak. Dengan teman sepermainan, anak belajar berbagi hak milik, menggunakan mainan secara bergilir, melakukan kegiatan bersama, mempertahankan hubungan yang sudah terbina, mencari penyeleseian masalah secara bersama, saling berkomunikasi, bermain peran. Interaksi anak dengan teman sebayanya ini merupakan interaksi sosial yang positif bagi perkembngan anak.
4. Perkembangan aspek emosi atau kepribadian. Melalui bermain, anak dapat melepaskan ketegangan dan tekanan yang dialaminya karena banyaknya larangan teguraan dan berbagai persoalan lain yang dialami anak dalam hidupnya sehari-hari. Anak dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan dorongan-dorongan yang tidak dapat terpuaskan dalam kehidupan nyata. Dengan bermain anak akan lega dan rileks. Menurut teori psikoanalitik, bermain bermanfaat untuk mengatasi pengalaman traumatik dan coping terhadap frustasi. Bermain merupakan cara yang digunakan anak untuk mengatasi masalahnya (Freud dalam Tedjasaputra, 2001).
5. Perkembangan aspek kognisi. Kognisi adalah pengetahuan yang luas, daya nalar, kreativitas (daya cipta), kemampuan berbahasa serta daya ingat. Melalui kegiatan bermain anak akan lebih mudah mengenal konsep warna, ukuran, bentuk, bilangan dan lain sebagainya. Kreativitas dapat dikembangkan melalui percobaan serta pengalaman yang diperoleh selama bermain. Anak akan merasa puas dengan kemampuannya untuk menciptakan sesuatu yang baru yang belum diciptakan oleh temannya. Kepuasan ini akan menambah rasa percaya diri yang kuat. Menurut teori kognitif pieget, bermain bermanfaat untuk mempraktekkan dan melakukan konsolidasi konsep-konsep serta ketrampilan yang telah dipelajari sebelumnya
6. Mengasah ketajaman pengindraan. Lima aspek pengindraan perlu diasah agar anak menjadi lebih tanggap terhadap apa yang terjadi di sekitarnya. Membacakan cerita, mengajak berbicara, mendengarkan lagu akan membuat anak memperhatikan dan mengingat cerita da lagu tersebut.
7. Pengembangan ketrampilan olah raga dan menari. Perkembangan fisik dan motorik yang telah dimiliki anak merupakan dasar untuk untuk mengembangkan ketrampilan olah raga dan menari.

C. RAMBU-RAMBU PENGGUNAAN PERMAINAN DALAM PEMBELAJARAN
Ada rambu-rambu yang perlu diperhatikan dalam permainan.
1. Waktu Penggunaan Permainan
 Tidak digunakan di awal pelajaran, karena siswa masih segar (Hidayat dan Tatang, 1980).
 Sebaiknya digunakan menjelang berakhirnya pelajaran (Hidayat dan Tatang, 1980).
 Tidak harus digunakan di akhir pelajaran, tetapi bisa kapan saja jika guru merasa bahwa siswa memerlukan kegiatan relaksasi (Mc Callum, 1980).
 Permainan bisa digunakan di awal pelajaran untuk pemanasan, menarik perhatian, atau menurunkan ketegangan siswa setelah sekian jam belajar (Risakotta, 1990).
 Permainan bisa digunakan (a) di awal pelajaran sebagai pemanasan, (b) sebelum pindah ke teks baru, (c) di akhir pelajaran untuk menutup pelajaran (Ur & Wright, 1992).

2. Cara Bermain
 Permainan apapun yang dilaksanakan diarahkan untuk mencapai tujuan pembelajaran
 Setiap permainan sebaiknya diberi peraturan yang jelas dan tegas
 Dalam permainan beregu, perlu dibentuk kelompok yang seimbang
 Melibatkan siswa sebanyak mungkin (penonton pun diberi tugas tertentu)
 Disesuaikan dengan tingkat kemampuan siswa
 Guru bertindak sebagai pengelola dan pembangkit motivasi bermain
 Sebaiknya permainan dihentikan ketika siswa masih tenggelam dalam keasyikan (Hidayat dan Tatang, 1980).
Dalam kegiatan bermain, guru memiliki peran yang sangat penting. Guru harus mengetahui kapan dia harus melakukan intervensi dalam suatu permainn dan kapan ia membebaskan siswa untuk bermain. Guru hendaknya berperan sebagai pengamat, sebagai model, melakukan evaluasi dan melakukan perencanaan yang matang (Bjorkland, 1978 dalam Patmonodewo, 2000).

D. BENTUK-BENTUK KARTU PERMAINAN UNTUK PEMBELAJARAN MENERJEMAH
Penerapan kartu permainan dalam pembelajaran memiliki dampak positif dalam meningkatkan motivasi dan minat siswa terhadap pelajaran. Penelitian membuktikan bahwa kartu permainan efektif digunakan untuk pembelajaran. Misalnya, pengajaran bahasa Arab berbasis kosa kata dengan menggunakan kartu, efektif untuk meningkatkan ketrampilan berbahasa Arab (Murtadho, 2003: iii). Pembelajaran bahasa Arab dengan menggunakan kartu kosa kata dan gambar berdampak positif dalam meningkatkan proses dan hasil belajar (Ridwan, dkk., 2004). Permainan puzzle, misalnya, mampu memotivasi siswa untuk belajar bahasa Arab (Ridwan, dkk., 2002). Penggunaan media gambar dan kartu kata di dalam kelas dapat dilakukan dengan berbagai macam cara sesuai dengan tujuan pembelajaran. Tujuan-tujuan itu harus sudah direncanakan sebelum menentukan model gambar dan kartu yang akan dipakai dalam PBM di kelas (Shinny, 1991:111).
Pelajaran Al Qur’an Hadits juga berbasis pada bahasa Arab karena pokok-pokok materi yang dipelajari di dalamnya bersumber pada ayat-ayat Al Qur’an dan hadits Nabi Muhammad SAW yang berbahasa Arab. Maka sebagaimana pada materi bahasa Arab, tentu dapat diasumsikan bahwa media kartu permainan juga akan sangat efektif digunakan sebagai media pada penguasaan aspek menerjemah. Adapun bentuk kartu permainan untuk pembelajaran menerjemah adalah berupa kartu mufradat dan kartu arti mufradat.


BAB III
PROSEDUR PENELITIAN

A. RANCANGAN PENELITIAN
Kegiatan Penelitian ini mengunakan rancangan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research). Dikatakan demikian karena adanya (1) intervensi yang dilakukan peneliti dalam kegiatan pembelajaran tajwid haram untuk mengubah situasi pembelajaran, (2) konsep yang digunakan untuk memperbaiki pembelajaran bersifat situasional dan kontekstual, (3) terlibatnya peneliti dalam pembelajaran (4) dilakukannya evaluasi sendiri (self evaluation) secara berkelanjutan.
Oja dan Sumarjan (dalam Titik Sugiarti, 1997:8) mengelompokkan penelitian tindakan menjadi empat macam yaitu (a) guru bertindak sebagai peneliti, (b) penelitian tindakan kolaboratif, (c) simultan terintegratif, dan (d) administrasi sosial ekperimental.
Dalam penelitian tindakan ini guru bertindak sebagai peneliti, penanggung jawab penuh penelitian tindakan adalah praktisi (guru). Tujuan utama dari penelitian tindakan ini adalah meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas dimana guru secara penuh terlibat dalam penelitian mulai dari perencanaan, tindakan, pengamatan dan refleksi.
Dalam penelitian ini peneliti tidak bekerjasama dengan siapapun, kehadiran peneliti sebagai guru di kelas sebagai pengajar tetap dan dilakukan seperti biasa, sehingga siswa tidak tahu kalau sedang diteliti. Dengan cara ini diharapkan didapatkan data yang seobjektif mungkin demi kevalidan data yang diperlukan.

B. SETTING PENELITIAN
Kegiatan inovasi pembelajaran ini dilaksanakan di MTsN Watulimo, di tempat penulis bertugas sebagai guru Mata Pelajaran Al Qur’an Hadits yang beralamat di Desa Prigi Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek. MTsN Watulimo berlokasi di pinggiran kota Trenggalek tepatnya berjarak 45 km ke arah selatan dari pusat pemerintahan Kabupaten Trenggalek. Pada Tahun Pelajaran 2015/2016 MTsN Watulimo memiliki 18 kelas yakni Kelas VII (6 kelas), Kelas VIII (6 kelas) dan kelas IX (6 kelas).
Materi yang dipelajari siswa adalah QS Quraisy. Media pembelajaran yang penulis gunakan adalah kartu permainan yang berupa kartu lafal/mufradat dan kartu arti lafal/mufradat. Penggunaan media kartu permainan ini dimaksudkan untuk memudahkan siswa dalam memahami isi kandungan QS Quraisy. Kartu permainan semacam ini banyak digunakan anak-anak untuk mengisi waktu luang, semisal kartu Remi dan kartu Domino.

C. SIKLUS PENELITIAN
Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam 2 siklus pada semester ganjil tahun pelajaran 2015/2016. Setiap siklus mencakup perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi dan refleksi. Hasil refleksi siklus I dijadikan pijakan untuk melaksanakan siklus II, yakni sebagai masukan untuk pembenahan terhadap kekurangan yang ditemukan pada siklus I. Siklus II dilakukan juga sebagai upaya pamantapan sehingga pelaksanaan pembelajaran menerjemah dengan menggunakan permainan kartu mufradat dan terjemahnya benar-benar dapat meningkatkan kualitas pembelajaran Al Qur’am Hadits berbasis kompetensi di MTsN Watulimo secara lebih baik.

D. METODE PENGUMPULAN DATA
Persiapan yang dilakukan dalam penelitian ini adalah melakukan pengamatan terhadap minat dan tanggapan siswa sebelum dilakukan kegiatan pembelajaran. Data minat dan tanggapan siswa tentang pembelajaran pada materi menerjemah QS Quraisy diperoleh dari angket, pengamatan dan wawancara, dan dapat disimpulkan bahwa siswa kurang berminat mempelajari tarjamah Al Qur’an secara umum. Rendahnya minat mempelajari tarjamah ini berdampak pada pemahaman isi kandungan surat dalam Al Qur’anyang menggunakan tulisan/bahasa Arab.
Kegiatan pembelajaran diamati dan tanggapan siswa digali, dan selanjutnya pada akhir kegiatan pembelajaran diadakan uji kompetensi untuk mengetahui hasil kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan.

E. METODE ANALISA DATA
Peningkatan kemampuan menerjemah dapat lebih mudah dikuasai siswa bila kita bawa dunia anak (mainan) ke dalam dunia kita dan kita antarkan (masuki materi) dunia kita ke dalam mainan tersebut. Dari kegiatan ini diharapkan siswa lebih senang, aktif dan kreatif mempelajari tarjamah sehingga dapat memahami isi kandungan surat Al Qur’andan selanjutnya mampu memahami isi kandungan Al Qur’an dan dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk mengetahui sikap dan minat siswa digunakan angket, sedangkan untuk mengetahui perilaku siswa dalam proses pembelajaran dilakukan observasi.
Pengolahan skor untuk angket minat siswa adalah sebagai berikut:
Sangat Setuju : skor 5
Setuju : skor 4
Kurang Setuju : skor 3
Tidak setuju : skor 2
Sangat Tidak Setuju : skor 1
Siswa yang memperoleh skor 5 berarti memiliki minat yang sangat tinggi, sedangkan yang memperoleh skor 1 berarti tidak memiliki minat sama sekali. Proses penelitian ini dikatakan berhasil jika 80% siswa mampu membuat kartu permainan serta dapat menerapkannya dalam pembelajaran menerjemah. Penelitian dikatakan berhasil jika 80% siswa yang diberi perlakuan mengalami peningkatan dalam hal ketuntasan belajar untuk aspek menerjemah dengan nilai minimal 75. 
BAB IV
HASIL PENELITIAN

A. GAMBARAN SELINTAS TENTANG SETTING DAN KEGIATAN PERSIKLUS
Kelas yang dipilih sebagai subyek penelitian adalah kelas VIII F yang pada tahun 2015/2016 memiliki 37 siswa, 17 laki-laki dan 20 perempuan. Pemilihan kelas VIII F didasarkan pada pertimbangan bahwa penulis adalah guru yang mengajar mata pelajaran Al Qur’an Hadits pada kelas tersebut. Selain itu bahwa siswa pada kelas tersebut cukup heterogen terutama pada sisi akdemiknya. Jadi hasil penelitian ini diharapkan akan dapat memberikan gambaran secara nyata tentang manfaat dari penggunaan kartu permainan (kartu mufradat dan kartu arti mufradat) dalam meningkatkan kemampuan menerjemah siswa.
1. KEGIATAN SIKLUS I
Kegiatan pembelajaran dilakukan selama 2x40 menit
1.1 Perencanaan
Dalam perencanaan tindakan ini lebih dahulu dikomunikasikan dengan siswa agar mereka mengetahui kegiatan yang akan dilakukan dan siswa dapat mempersiapkan hal-hal berikut:
a. Siswa dibagi menjadi 8 kelompok yang masing-masing kelompok terdiri dari 4-5 siswa dengan variasi anggota laki-laki dan perempuan dengan mempertimbangkan kemampuan akademik siswa.
b. Setiap kelompok ditugaskan membawa bahan/alat berupa kertas bufalo atau karton (lebih baik berwarna), gunting/cutter, penggaris, pensil, spidol, penghapus dan pulpen.
c. Siswa diberi tugas membaca buku Al Qur’an Hadits Kelas VIII dan buku sumber lain seperti Al Qur’an tarjamah/Juz Amma dan buku penunjang lain.
Pada siklus I rencana tindakan yang akan dilakukan sebagai berikut:
1) Pendahuluan untuk penanaman konsep dan pengisian angket pra kegiatan pembelajaran (5 menit).
2) Memainkan kartu (45 menit)
3) Uji kompetensi (20 menit)
4) Mengisi angket setelah kegiatan pembelajaran dan refleksi (10 menit)
1.2 Tindakan
a. Guru meminta siswa mengeluarkan kartu mufradat dan kartu arti mufradat yang telah dibuat di rumah dan duduk mengelompok.
b. Kartu-kartu tersebut dikumpulkan menurut jenisnya (kartu mufradat jadi satu, kartu arti mufradat jadi satu), kartu kemudian diacak (diucut) oleh ketua kelompok.
c. Dengan mengucap “kun ‘aliman wala takun jahilan”, salah seorang anggota kelompok mulai menjodohkan kartu. Bila dalam menjodohkan kartu betul maka serempak bilang “Alhamdulillah” dan bila salah menjodohkan kartu maka mengucap “Astaqfirulloh”. Demikian seterusnya hingga masing-masing anggota kelompok mendapat giliran menjodohkan kartu.
d. Selanjutnya permainan dilanjutkan dengan mengurutkan kartu. Masing-masing anggota kelompok mendapat giliran untuk mengurutkan kartu mufradat menjadi susunan ayat QS Quraisy secara sempurna, dan mengurutkan kartu arti mufradat menjadi tarjamah sempurna. Demikian seterusnya hingga masing-masing siswa dalam kelompok mendapatkan giliran untuk mengurutkan.
e. Ketika kelompok 1-4 bermain, kelompok 5-8 mengamati dan mencatat hasilnya dengan kartu kendali yang telah disiapkan guru, begitu juga sebaliknya. Ketika giliran kelompok 5-8 bermain, kelompok 1-4 mengamati dan mencatat hasilnya dalam kartu kendali.
f. Guru berkeliling sambil mengamati dan mengevaluasi kerja siswa dengan kartu kendali.
1.3 Observasi
Selama kegiatan pembelajaran berlangsung siswa kelihatan sangat senang dan antusias, dan ketika ditanya/diwawancarai hampir semua menyatakan senang dengan pembelajaran seperti ini.
1.4 Refleksi
Mengingat siswa masih pertama kali melakukan kegiatan pembelajaran seperti ini, ada beberapa hambatan, kesulitan dan masalah sebagai berikut:
a. Siswa kurang teratur dan cenderung sangat ramai sehingga bisa mengganggu kelas lain.
b. Cukup banyak menyita waktu.
c. Siswa kurang lancar dalam memainkan kartu.
d. Beberapa siswa terlalu mendominasi permainan dalam kelompok.
Maka untuk memaksimalkan hasil pembelajaran, siswa diberi kesempatan menyampaikan kendala dan kesulitan yang dihadapi/ditemui untuk dijadikan masukan bagi perbaikan pelaksanaan pembelajaran pada siklus berikutnya (siklus II).
Dari pengamatan dan evaluasi pada siklus I, tentang minat siswa dapat dirumuskan sebagai berikut: 14 siswa (37,8 %) bisa mencapai skor 10 yang berarti sangat berminat, 13 siswa (35,1 %) berminat, 7 siswa (18,9 %) cukup berminat, dan 3 siswa (8,1 %) kurang berminat. Tidak ada yang menyatakan tidak berminat.
Sedangkan untuk hasil pembelajaran, dapat dipaparkan sebagai berikut: sebanyak 30 siswa (81,1 %) dapat mencapai KKM (75), dan ada 7 siswa (18,9 %) belum mencapai nilai KKM. Bahkan dari 30 siswa yang tuntas tersebut, ada 13 siswa (35,1 %) dapat mencapai nilai sangat baik (90-100).

2. KEGIATAN SIKLUS II
Pada siklus II waktu yang tersedia 2x40 menit
2.1 Perencanaan
Pada akhir siklus I, guru menyampaikan kepada siswa untuk mempelajari kembali kartu mufradat dan kartu arti mufradat yang telah dibuat. Selanjutnya berlatih memainkannya berulang kali seperti yang telah dimainkan pada siklus I sambil menghafal mufradat dan arti mufradat yang benar.
Pada siklus II ini, rencana tindakan yang akan dilakukan sebagai berikut:
1) Pendahuluan untuk penanaman konsep dan pengisian angket pra kegiatan pembelajaran (5 menit).
2) Memainkan kartu (45 menit)
3) Uji kompetensi (20 menit)
4) Mengisi angket setelah kegiatan pembelajaran dan refleksi (10 menit)
1.5 Tindakan
a. Guru meminta siswa mengeluarkan kartu mufradat dan kartu arti mufradat dan duduk mengelompok.
b. Kartu-kartu tersebut dikumpulkan menurut jenisnya (kartu mufradat jadi satu, kartu arti mufradat jadi satu), kartu kemudian diacak (diucut) oleh ketua kelompok.
c. Dengan mengucap “kun ‘aliman wala takun jahilan”, salah seorang anggota kelompok mulai menjodohkan kartu. Bila dalam menjodohkan kartu betul maka serempak bilang “Alhamdulillah” dan bila salah menjodohkan kartu maka mengucap “Astaqfirulloh”. Demikian seterusnya hingga masing-masing anggota kelompok mendapat giliran menjodohkan kartu.
d. Selanjutnya permainan dilanjutkan dengan mengurutkan kartu. Masing-masing anggota kelompok mendapat giliran untuk mengurutkan kartu mufradat menjadi susunan ayat QS Quraisy secara sempurna, dan mengurutkan kartu arti mufradat menjadi tarjamah sempurna. Demikian seterusnya hingga masing-masing siswa dalam kelompok mendapatkan giliran untuk mengurutkan.
e. Ketika kelompok 1-4 bermain, kelompok 5-8 mengamati dan mencatat hasilnya dengan kartu kendali yang telah disiapkan guru, begitu juga sebaliknya. Ketika giliran kelompok 5-8 bermain, kelompok 1-4 mengamati dan mencatat hasilnya dalam kartu kendali.
f. Guru berkeliling sambil mengamati dan mengevaluasi kerja siswa dengan kartu kendali.

2.2 Observasi
Selama kegiatan pembelajaran sedang berlangsung pada siklus II ini siswa semakin senang, aktif dan antusias serta lebih cepat dalam bermain karena telah menguasai mufradat dan arti mufradat dalam kartu tersebut.

2.3 Refleksi
Pada siklus II ini siswa sudah mengalami peningkatan yang cukup signifikan, baik menyangkut minat belajar maupun hasil belajarnya.
Berkenaan dengan minat siswa, dapat dirumuskan sebagai berikut: 22 siswa (59,4 %) bisa mencapai skor 10 yang berarti sangat berminat, 11 siswa (29,7 %) berminat, 3 siswa (8,1 %) cukup berminat, dan 1 siswa (2,7 %) kurang berminat. Tidak ada yang menyatakan tidak berminat.
Sedangkan untuk hasil pembelajaran, dapat dipaparkan sebagai berikut: sebanyak 34 siswa (91,9 %) dapat mencapai KKM (75), dan hanya 3 siswa (8,1 %) yang belum mencapai nilai KKM. Bahkan dari 34 siswa yang tuntas tersebut, ada 15 siswa (40,5 %) dapat mencapai nilai sangat baik (90-100).
Data pencapaian minat dan nilai pencapaian kompetensi serta hasil pengamatan dapat dicermati pada bagian lampiran laporan ini.
Dari data diatas tampak bahwa nilai hasil belajar dan nilai proses belajar siswa terhadap materi menerjemah QS Quraisy dapat meningkat apabila menggunakan media kartu permainan (kartu mufradat dan kartu arti mufradat). Maka dapat disimpulkan bahwa dengan menggunakan media kartu permainan, siswa termotivasi untuk lebih aktif mengikuti pembelajaran, berdiskusi dengan temannya, dan bertanya kepada guru maupun anggota kelompoknya. Memang dalam kegiatan ini sering muncul aktifitas anak yang tidak kita harapkan, namun dengan bimbingan dan arahan guru siswa dapat dikendalikan bahkan dapat mengembangkan kreatifitasnya sesuai dengan harapan kurikulum.

B. PEMBAHASAN
Dari uraian persiklus di atas, penulis melakukan pembahasan sebagai berikut:
1. Minat belajar siswa
Melalui hasil peneilitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran dengan menggunakan media kartu permainan (mufradat dan arti mufradat) memiliki dampak positif dalam meningkatkan minat belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari semakin meningkatnya antusiasme, keaktifan, dan kerja sama siswa dalam pembelajaran.
2. Hasil belajar siswa
Berdasarkan analisis data, dapat dinyatakan bahwa aktifitas siswa dalam proses pembelajaran menerjemah QS Quraisy dengan menggunakan media kartu permainan (mufradat dan arti mufradat) dalam setiap siklus mengalami peningkatan. Peningkatan itu ditunjukkan dari nilai hasil uji kompetensi.
3. Aktifitas Siswa dan Guru dalam Pembelajaran
Aktifitas siswa dalam proses pembelajaran Al Qur’an Hadits pada materi menerjemah QS Quraisy dengan media pembelajaran kartu permainan (kartu mufradat dan kartu arti mufradat) yang paling dominan adalah bekerja dengan menggunakan alat/media, tanya jawab/diskusi, presentasi, menemukan jawaban, pemecahan masalah dan mencari solusi, serta memperhatikan penguatan dan petunjuk guru. Sedangkan minat siswa juga terlihat baik dan selalu mengalami peningkatan baik dari aspek partisipasi, antusiasme maupun kerjasama.
Hasil ini selaras dengan hasil penelitian sebelumnya yang membuktikan bahwa hasil belajar siswa dengan menerapkan media pembelajaran yang menarik akan lebih baik dibandingkan dengan hasil belajar siswa yang diajar dengan menggunakan metode pembelajaran konvensional (Siadari, 2001:68). Penggunaan strategi ini juga dapat meningkatkan pola berpikir kritis dan kreatif pada kelas yang berdampak positif terhadap hasil belajar yang dicapai menjadi lebih baik daripada tanpa diberi strategi pembelajaran serupa (Lestari, 2002).


BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan maka dapat disimpulkan hal-hal berikut:
1. Dengan menerapkan media kartu permainan dapat meningkatkan minat siswa pada pembelajaran menerjemah. Peningkatan minat siswa tersebut tampak pada keaktifan/partisipasi, antusiasme dan kerja sama siswa dalam membuat dan mendesain kartu, menelaah buku, diskusi kelompok, bertanya pada guru dan bermain kartu. Kartu permainan yang dapat diterapkan dalam pembelajaran menerjemah adalah kartu mufradat dan kartu arti mufradat.
2. Dengan menerapkan media kartu permainan dapat meningkatkan kemampuan menerjemah siswa. Peningkatan kemampuan menerjemah siswa tersebut tampak pada kemampuan menjawab soal, bermain secara lancar dan hasil nilai uji kompetensi.

B. Saran
Dari inovasi pembelajaran melalui media kartu permainan (mufradat dan kartu arti mufradat) dalam pembelajaran Al Qur’an Hadits diharapkan dapat menjadi alternatif untuk mempermudah pemahaman siswa dalam pembelajaran menerjemah dan membangkitkan minat siswa dalam pembelajaran yang menyenangkan.
Beberapa hal penting yang perlu mendapat perhatian adalah:
1. Perlu pengarahan dan bimbingan dari guru sehingga siswa tidak bermain-main di luar tujuan pembelajaran, selain itu juga untuk dapat mengefektifkan waktu.
2. Guru perlu terus memantau secara teliti kegiatan siswa sehingga mampu menilai secara tepat

TANGGUNG JAWAB PENDIDIKAN REMAJA

TANGGUNG JAWAB PENDIDIKAN REMAJA
Oleh : Nanang M. Safa'*

Masa remaja adalah masa peralihan dari masa kanak-kanak yang penuh ketergantungan menuju masa dewasa yang matang dan mandiri. Tidak ada kata sepakat mengenai pengertian remaja serta batas usia remaja di kalangan para ahli. Namun menurut suatu analisis yang cermat mengenai semua aspek perkembangan dalam masa remaja, secara global masa remaja berlangsung antara umur 12 sampai 21 tahun, dengan pembagian secara global usia 12-15 tahun disebut remaja awal, usia 15-18 tahun masa remaja pertengahan dan usia 18-21 tahun masa remaja akhir (F.J Monk : 1994).
Pada fase ini terjadi perubahan-perubahan besar dan esensial menyangkut kematangan fungsi psikologis dan fisiologis, terutama fungsi seksual (Tim Pengembangan MKDK IKIP Semarang : 1990). Di samping secara intern seorang remaja mengalami kegelisahan akibat perubahan fisik yang terjadi pada dirinya, secara ekstern remaja juga acapkali mengalami benturan pemahaman yang memunculkan konflik dengan lingkungan sosialnya.
Remaja belum memiliki kematangan sikap dan pendirian. Remaja cenderung melakukan imitasi (meniru) hal-hal yang dianggap sesuai dengan keinginannya serta cenderung untuk merealisasikan imajinasinya dengan mencoba-coba hal baru tanpa memperhitungkan akibatnya. Remaja juga mulai melepaskan diri dari kehidupan keluarga yang mengikatnya selama masa kanak-kanaknya untuk bergabung dengan peer group atau kelompok sebayanya. Remaja sedang berada dalam masa yang tidak stabil (labil) atau masa goncang karena ketidak jelasan statusnya ini.
Memang keadaan seperti ini bersifat alamiah, artinya tiap-tiap individu yang memasuki usia remaja pasti akan mengalaminya. Banyaknya kasus pelecehan seksual dan kriminalitas remaja setelah ditelusuri ternyata hanyalah didorong oleh rasa penasaran terhadap hal-hal baru yang baru didengar, dibaca atau ditontonnya. Tindakan inipun mayoritas dilakukan secara bersama dalam peer-groupnya, jarang sekali tindakan pelanggaran norma ini dilakukan secara perorangan sebab para remaja sangat khawatir tidak diterima dalam peer-groupnya.
Jika kita sepakat bahwa para remaja adalah para generasi penerus bangsa yang nantinya diharapkan bisa menjadi generasi berkualitas, maka mereka harus dibekali dengan berbagai pengetahuan dan ketrampilan. Landasan pokok terbentuknya pribadi yang berkualitas adalah nilai-nilai pendidikan agama. Munculnya kenakalan dan tindak kriminalitas di kalangan remaja lebih disebabkan karena merosotnya moral agama di kalangan remaja. Maka menjadi suatu yang ironis ketika pelajaran agama dianggap sebagai pelajaran lapis kedua setelah Matematika, IPA, Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia (mata pelajaran unas). Maka jangan buru-buru menyalahkan remaja ketika mereka tidak lagi santun kepada guru atau tidak lagi hormat kepada orang tua atau tidak lagi sungkan mengobral maksiat di tempat umum, dan sebagainya.
Ketika sikap dan tindakan negatif remaja sudah semakin meresahkan, lalu banyak orang mengusulkan agar pendidikan sex, kesadaran berlalu lintas, korupsi, bahkan kejujuran dimasukkan tersendiri ke dalam kurikulum pendidikan nasional, padahal kesemuanya itu pada hakekatnya bermuara pada pendidikan moral. Maka menarik apa yang dinyatakan oleh Prof. Dr. Zainuddin Maliki, M.Si, Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya bahwa seharusnya semua materi yang ada pada kurikulum nasional diintegrasikan. Pelajaran agama bisa diajarkan bersamaan dengan materi pelajaran sosiologi, matematika, ekonomi dan yang lainnya. Pendidikan seperti inilah yang akan dapat membikin anak cerdas dan dapat membentuk karakter anak. Prof. Zainuddin lantas membandingkan para peserta didik di Australia yang hanya belajar 3 materi pelajaran pada satu semester sementara para peserta didik di Indonesia sedikitnya harus melahap 14 materi pelajaran pada satu semester. Lalu harus ditambah berapa materi lagi?!
Kebanyakan orang tua sekarang sepertinya sedang dilanda penyakit “takut memilki anak bodoh”. Artinya mereka sangat takut jika anak-anaknya dikatakan bodoh ketika nilai-nilai hasil ulangan dalam simbol angka-angka dalam buku rapor jelek. Sebaliknya mereka akan sangat bangga dan mengagung-agungkan anaknya (di depan anaknya tersebut atau menggunjingkannya di antara teman-temannya) ketika angka-angka di buku rapor anaknya bagus-bagus dengan tiada keinginan untuk tahu bagimana cara anaknya tersebut mendapatkan nilai sebagus itu. Masih segar dalam ingatan kita kasus yang menimpa seorang siswa dari SD Gadel yang harus jadi bulan-bulanan ketika dia mengadu kepada ibunya berkenaan dengan perlakuan guru dan teman-temannya lantaran dia tidak bersedia (baca: menolak) dijadikan “joki” di kalangan teman-temannya. Benar-benar sebuah gambaran ironi tentang betapa mahalnya harga sebuah kejujuran.
Memang, pendidikan formal di sekolah merupakan satu jalur pendidikan yang paling sistematis dan memiliki program terarah. Namun toch pendidikan bukan semata hanya menjadi tanggung jawab pihak sekolah. Orang tua (keluarga), masyarakat dan pemerintah secara bersama-sama memiliki tanggung jawab yang sama dan saling ketergantungan terhadap pendidikan putra-putri bangsa.
Banyak orang tua yang buru-buru lepas tangan dan merasa bebas dari tanggung jawab mendidik putra putrinya ketika mereka telah menyekolahkan anak-anaknya di lembaga pendidikan formal (baca: sekolah). Padahal tanggung jawab mendidik anak bagi orang tua biar bagaimanapun tetap tidak bisa digantikan oleh siapapun. Pendidikan keluarga merupakan pendidikan yang pertama bagi anak. Segala hal yang terjadi dalam keluarga akan berpengaruh terhadap kehidupan anak pada masa-masa selanjutnya, disamping juga merupakan dasar (pondasi) bagi perkembangan jiwa anak. Penanggung jawab pendidikan keluarga ini adalah kedua orang tua, didukung oleh anggota keluarga yang lain. Relasi dan interaksi dalam keluarga yang harmonis dan komunikatif akan sangat membantu tercapainya tujuan pendidikan seperti yang diharapkan.
Selanjutnya, masyarakat merupakan lingkungan kedua tempat anak melakukan berbagai aktifitas dan menghabiskan banyak waktu. Pendidikan dalam masyarakat telah dimulai ketika anak mulai mengenal lingkungan di luar keluarga. Masyarakat yang permisif terhadap keberadaan remaja dengan memberikan ruang berkreasi dan berekspresi bagi remaja adalah masyarakat yang menjadi dambaan remaja. Sebaliknya masyarakat yang cuek dan cenderung hanya menghakimi akan membuat remaja semakin apatis terhadap lingkungannya dan akhirnya mereka akan menciptakan dunia lain bersama kelompok sebayanya dengan kegiatan-kegiatan yang cenderung negative sebagai perwujudan dari dunia yang mereka impikan.
Dengan adanya kerja sama dari ketiga lembaga pendidikan tersebut, diharapkan pendidikan dapat berjalan secara kontinyu dan dapat mencapai tujuan yang diharapkan, seperti yang telah dirumuskan dalam tujuan pendidikan nasional yakni mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan ketrampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.


Dimuat di majalah MPA Kemenag Jawa Timur, edisi 352/Januari 2016

Friday, 4 December 2015

Sambut Tahun Baru 2016 dengan Rasa Optimis



Sambut Datangnya Tahun Baru 2016

dengan Rasa Optimis


Gerbang 2016 hampir kita masuki. Seperti tahun-tahun yang sudah, gempita menyambut hadirnya tahun baru tersebut sudah hampir pasti penuh nuansa. Sebagian orang bahkan telah memplaning acara menyambut datangnya tahun baru. Toko-toko swalayan, supermarket, hotel dan tempat-tempat wisata tak lupa menawarkan berbagai suguhan acara dengan berbagai kehebohannya. Sekedar tiup terompet, pesta kembang api, goyang dangdut, karnaval dan arak-arakan di jalan raya, semuanya mengatasnamakan perwujudan happy menyambut datangnya tahun baru. Sepertinya budaya Barat telah merasuk di hampir semua sendi masyarakat Indonesia. Budaya tersebut diadopsi begitu saja tanpa filter secara getok tular dari generasi ke generasi. Tak ada salahnya memang memanifestasikan rasa gembira dan bahagia dengan bersuka cita. Namun demikian tak sepenuhnya benar juga ketika manifestasi tersebut sampai melampaui batas, hingga bisa melupakan makna penting dibalik pergantian tahun tersebut.
Menyambut datangnya pergantian tahun dengan rasa optimis adalah gambaran nyata tentang karakter seseorang yang ingin menggapai sukses. Dan sebaliknya orang pesimis dan skeptis pasti memandang pergantian tahun tak lebih hanyalah perubahan angka yang tidak bermakna apa-apa. Tidak ada harapan lebih terhadap pergantian tahun. Ciri orang yang merugi adalah jika hari ini sama dengan hari kemarin, dengan kata lain tidak ada perubahan berarti dari hari ke hari, semuanya hanya stagnan alias jalan di tempat.
Sebagai generasi muslim yang tetap harus eksis di tengah arus kehidupan global sekarang ini, tentu kita tidak lantas hanya ikut arus. Kita harus tetap punya prinsip sendiri dalam menyikapi kehidupan, termasuk dalam menyambut datangnya pergantian tahun. Ikut menyambut datangnya pergantian tahun pada hakekatnya tidak ada larangan tegas baik menyangkut tahun baru Muharram maupun tahun baru Masehi yang dalam sejarahnya memang dicetuskan oleh tokoh non muslim. Kebolehan itu didasarkan pada kemafhuman bahwa tahun baru Masehi sudah berlaku umum dan tidak lagi diidentikkan dengan satu agama tertentu. Dalam kemasan ini tentu acara penyambutan tersebut tidak boleh mengandung unsur ritual keagamaan atau pengkultusan dan pemujaan.
Hal lain yang harus diperhitungkan pada penyambutan tahun baru adalah unsur kemanfaatan dan kemadharatan. Menyulut mercon atau petasan untuk meramaikan tahun baru adalah salah satu contoh perbuatan yang bisa menjadi kesia-siaan, karena tidak ada manfaat yang bisa kita ambil atas perayaan berlebihan seperti itu. Arak-arakan di jalan protokol dengan iring-iringan sepeda motor yang memekakkan telinga, juga bukan perbuatan yang mencerminkan jiwa-jiwa islami. Selain sudah pasti melanggar  aturan lalu lintas dan mengganggu ketertiban umum, juga bisa membahayakan diri sendiri dan orang lain.
Daripada membahayakan diri dan orang lain di jalanan, bukankah lebih baik kita gunakan untuk bermuhasabah atau mengevaluasi diri sendiri. Lalu hasil muhasabah itu kita jadikan bahan refleksi untuk acuan langkah di 2016 yang akan datang. Apa yang sudah kita capai sejauh ini, apa yang harus diperbaiki dari setahun ke belakang, apa pula yang ingin kita capai setahun ke depan. Dengan itu, semoga kita semakin termovitasi untuk meninggalkan apa yang buruk di tahun lalu, dan semakin memperbaiki upaya untuk pencapaian yang lebih baik di tahun 2016 mendatang.
10…9…8…7…6…5...4…3…2…1... “SELAMAT TAHUN BARU 2016”. Life must go on!” -hidup harus terus bergulir- Semoga kita terhindar dari perbuatan sia-sia yang tidak disukai Allah Ta’ala. Aamiin...

Saturday, 26 September 2015

Pancasila Sakti (Kau Akan Tetap Menginspirasi)

“Pancasila Sakti”
(Kau Akan Tetap Menginspirasi)


Pada era Orde Baru, kata “Pancasila Sakti” terasa sangat akrab di telinga. Namun seiring perubahan dan pergeseran era kepemimpinan nasional, kata “Pancasila Sakti” juga mulai hilang dari ingatan. Bahkan ada kalangan yang terang-terangan “menggunggat” term Pancasila Sakti tersebut. Akhir-akhir ini bangsa Indonesia mulai sadar diri betapa penting arti Pancasila untuk mendukung eksistensi negara-bangsa, sehingga Pancasila mulai diusung lagi ke permukaan, menjadi wacana di berbagai forum seminar dan diskusi. Oleh karena itu dipandang perlu untuk mendudukkan pengertian “Pancasila Sakti” secara proporsional, supaya tidak menimbulkan kesalah pahaman.
Makna kata “sakti” sebenarnya lebih berkaitan dengan peristiwa sejarah nasional. Puncaknya adalah terjadinya peristiwa G-30S/PKI pada tahun 1965. Aksi PKI ini terkenal sangat brutal dan kejam. Selain ulama, ustadz dan tokoh agama, beberapa jendral juga menjadi korban kebiadaban mereka, yakni Letjen Ahmad Yani (Menteri/Panglima Angkatan Darat/Kepala Staf Komando Operasi Tertinggi), Mayjen Raden Suprapto (Deputi II Menteri/Panglima AD Bidang Administrasi), Mayjen Mas Tirtodarmo Haryono (Deputi III Menteri/Panglima AD bidang Perencanaan dan Pembinaan), Mayjen Siswondo Parman (Asisten I Menteri/Panglima AD Bidang Intelijen), Brigjen Donald Isaac Panjaitan (Asisten IV Menteri/Panglima AD Bidang Logistik), Brigjen Sutoyo Siswomiharjo (Inspektur Kehakiman/Oditur Jenderal Angkatan Darat), Putri Jendral Nasution yaitu Ade Irma Suryani Nasution dan ajudan beliau Lettu CZI Pierre Andreas Tendean, Bripka Karel Satsuit Tubun (pengawal kediaman resmi Wakil Perdana Menteri II dr.J. Leimena), Kolonel Katamso Darmokusumo (Komandan Korem 072 Pamungkas, Yogyakarta), dan Letkol Sugiyono Mangunwiyoto (Kepala Staf Korem 072 Pamungkas, Yogyakarta). Sementara Jenderal Abdul Haris Nasution yang menjadi target utama, selamat dari upaya pembunuhan tersebut. Para korban tersebut kemudian dibuang ke suatu lokasi di Pondok Gede, Jakarta yang dikenal sebagai Lubang Buaya.
Sebelum meletusnya peristiwa G30S/PKI tahun 1965, PKI juga telah melakukan aksi serupa pada tahun 1948 di Madiun di bawah komando Musso. Pada saat rakyat Indonesia harus berkonsentrasi mempertahankan kemerdekaan dari agresi militer Belanda dan Sekutu yang ingin menjajah kembali Indonesia, pada tanggal 18 September 1948, Musso memproklamasikan berdirinya pemerintahan Soviet di Indonesia. Tujuannya adalah untuk meruntuhkan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila dan menggantinya dengan negara komunis. Pada waktu bersamaan, gerakan PKI dapat merebut tempat-tempat penting di Madiun. Untuk menumpas pemberontakan PKI Madiun ini, pemerintah melancarkan operasi militer. Dalam hal ini peran Divisi Siliwangi cukup besar. Di samping itu, Panglima Besar Jenderal Soedirman memerintahkan Kolonel Gatot Subroto di Jawa Tengah dan Kolonel Sungkono di Jawa Timur untuk mengerahkan pasukannya menumpas pemberontakan PKI di Madiun. Bersama-sama rakyat akhirnya mereka bisa menumpas gerakan PKI Madiun di bawah pimpinan Musso.
Tujuan utama dari aksi-aksi PKI ini sebenarnya muaranya tetap satu yakni ingin mengganti Ideologi Pancasila menjadi ideologi komunis. Namun usaha PKI ini selalu gagal berkat Pancasila yang dapat MENGINSPIRASI bangsa Indonesia sehingga bisa bersatu-padu melawan gerakan makar PKI yang ingin menghapus Pancasila dan mengantinya dengan ideologi komunis. Jadi “Pancasila Sakti” bukanlah dimaknai Pancasila memiliki kekuatan gaib, super, kuat atau seperti padanan kata sakti lainnya, namun kata “sakti” dalam term ini lebih bermakna inspiratif yakni bahwa berkat Pancasila inilah bangsa Indonesia bisa bersatu-padu; menyatukan tekad dan kekuatan untuk melawan dan menghancurkan pihak-pihak yang ingin mengganti dasar negara Pancasila dengan komunisme atau yang lainnya. Ingat lo ya, jangan salah makna! Bukan Burung Garudanya yang sakti, tapi Panca Sila yakni LIMA DASAR yang terangkai dalam Pancasila itu sendiri.
Semenjak bergulirnya Orde Reformasi, penyebutan term “Pancasila Sakti” sepertinya memang semakin asing terdengar di telinga generasi muda. Dan barangkali mulai muncul pula anggapan bahwa term Pancasila Sakti tabu untuk diucapkan. Hal ini tentu sangat berbeda jauh nuansanya dengan era Orde Baru. Pada masa Orde Baru dulu, setiap siswa baru maupun mahasiswa baru harus siap mengikuti Penataran P-4 (Pedoman Penghayatan & Pengamalan Pancasila). Dalam penataran tersebut dikupas tuntas tentang sejarah, arti lambang burung Garuda dan lima gambar yang ada pada perisai yang disandang di dada sang Garuda, hingga butir-butir Pancasila yang ada di lima sila dalam Pancasila tersebut.
Bahkan Bimas Islam dan Urusan Haji Departemen Agama RI, juga pernah menerbitkan buku Pedoman P-4, dan ajaran Islam. Di dalam buku itu selain dijelaskan tentang Pancasila secara nasional juga disertai penjelasan P-4 dalam pandangan Islam, yang tentu saja diserta ayat-ayat Al Qur’an yang mendasarinya. Buku kecil yang dalam kata pengantarnya ditulis oleh Menteri Agama ketika itu H. Alamsyah Ratu Perwiranegara dan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), Prof. Dr. HAMKA ini tentu sangat membantu pemahaman para generasi muda muslim khususnya dalam memahami butir-butir yang terkandung dalam Pancasila yang tentunya memang sangat selaras dengan ajaran Islam. Memang, tiap orde pemerintahan tentu ada kekurangsempurnaan dan ketidakcocokan dengan orde berikutnya, namun bukan berarti hal itu lantas membuat orde pemerintah bersangkutan tidak memberikan perubahan berarti bagi bangsa besar ini. Bukankah sudah seharusnya kita mengambil hal yang baik untuk terus kita budayakan sambil membenahi kekurangan yang ada untuk menuju masa depan yang lebih baik?! Salah satu hal baik yang patut kita pertahankan tersebut tentu saja adalah nilai-nilai luhur Pancasila.
Memang, ada yang bilang bahwa sejarah adalah milik pemerintah yang berkuasa. Tiap rezim bisa menciptakan sejarahnya sendiri. Namun setidaknya sejarah kelam tentang kekejaman dan kebiadaban PKI dapat menyadarkan para generasi bangsa untuk selalu waspada dan tidak mudah disusupi oleh paham laten komunis yang secara terang-terangan tidak mengakui adanya Tuhan.
Selanjutnya, marilah sedikit kita diskusikan tentang pertanyaan; mampukah Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi bangsa dijadikan dasar untuk mengantisipasi gerakan globalisasi dunia?
Perlu kita cermati bahwa esensi globalisasi adalah keterbukaan dan kebebasan; yang merupakan pencerminan hak asasi individu. Dalam bidang ekonomi globalisasi akan menampakkan wajahnya dalam bentuk perdagangan bebas atau liberalisasi perdagangan. Dalam bidang politik, globalisasi akan nampak dalam gerakan demokrasi dan hak asasi manusia. Dalam bidang informasi, globalisasi terwujud dalam internet, cybernatic society dan web society, suatu jaringan antar manusia yang bebas tidak dihambat oleh batas-batas antar negara dalam mengadakan tukar menukar informasi. Manusia dan negara-bangsa memiliki kebebasan untuk mengakses informasi dari mana saja sesuai dengan keinginan dan kemampuan teknologi yang dikuasainya. Dalam kehidupan sosial berkembang suatu masyarakat yang disebut masyarakat madani sebagai terjemahan civil siciety. Masyarakat madani adalah suatu masyarakat yang menjamin kebebasan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dalam bidang keamanan dikembangkan konsep keamanan dunia. Diciptakan musuh yang harus dilawan yang dianggap mengganggu ketenteraman dunia. Konsep terorisme dikembangkan dan dijadikan musuh dunia. Suatu negara yang dituduh sebagai sarang teror dipandang sah untuk diserang beramai-ramai. Suatu organisasi yang dipandang menimbulkan ketidak tenteraman divonis sebagai organisasi teror.
Pancasila memiliki konsep tentang kebebasan, tentang hak asasi, tentang demokrasi, serta tentang cara menghadapi dan memecahkan permasalahan yang dihadapi. Dengan demikian Pancasila tidak anti terhadap globalisasi. Tetapi Pancasila tentu saja memiliki kebijaksanaan tersendiri terhadap berlangsungnya globalisasi tanpa kehilangan jati diri. Pancasila akan menjadi kekuatan bangsa yang tangguh dalam mengantisipasi masa depan.
Maka agenda besar kita adalah bagaimana agar PANCASILA (baca: butir-butir Pancasila) selalu dapat menginspirasi para generasi bangsa untuk melanjutkan perjuangan dan mengisi kemerdekaan ini dalam segala bidang kehidupan, agar bangsa besar ini tidak lagi kembali terjajah oleh orang-orang serakah yang terus mencari celah untuk bisa kembali menggagahi Indonesia tercinta ini. Itulah kunci untuk membuktikan bahwa PANCASILA itu memang benar-benar SAKTI.@

Saturday, 30 May 2015

Remaja Smart = Remaja Taat Aturan

Remaja Smart = Remaja Taat Aturan

Kita tentu sudah tidak asing lagi mendengar kata aturan, peraturan, norma, tata tertib, dan undang-undang. Secara umum semua kata itu memiliki inti makna yang sama yakni sesuatu yang menuntut untuk ditaati, dan bagi pelanggarnya akan mendapatkan sanksi. Undang-undang lalu lintas, norma sosial, hukum agama, hingga tata tertib di sekolah, semua bersifat mengikat dan bersanksi. Aturan atau hukum tersebut dibuat dimaksudkan untuk membentuk kondisi agar bisa tertib dan kondusif sehingga tujuan yang diinginkan bisa tercapai sesuai target “maksimal”. Namun seringkali fakta di lapangan bertolak belakang dengan konsep yang “indah” di atas kertas. Dengan berbagai dalih untuk melegitimasi tindakan yang dilakukan, warga yang terikat peraturan melakukan pelanggaran.
Kesadaran untuk menaati tata tertib atau aturan hukum bermula dari suatu keyakinan yang ditimbul dalam diri individu maupun masyarakat bahwa aturan yang dibuat bertujuan menciptakan kondisi yang baik. Dengan munculnya kesadaran seperti ini maka dengan sendirinya akan tercipta moral individu dan masyarakat yang taat hukum.
Contoh paling sederhana adalah ketika di sekolah ditetapkan larangan bagi siswa membawa sepeda motor ke sekolah. Ketika ada siswa yang melanggar maka dengan enteng mereka beralasan bahwa mereka telah direstui orang tuanya untuk membawa sepeda motor ke sekolah karena orang tua mereka sibuk dengan pekerjaannnya. Dan ternyata ini seringkali juga klop dengan alasan yang dikemukakan orang tua mereka; tidak punya waktu, tidak sempat, dan alasan-alasan senada. Kemudian ketika secara tidak sengaja terjadi “musibah” (baca: kecelakaan) dan harus melibatkan orang tua, barulah mereka mengungkapkan penyesalannya atas apa yang dilakukan.
Padahal peraturan tidak boleh membawa sepeda motor ke sekolah bagi siswa SLTP ini selaras dengan undang-undang lalu lintas. Prasyarat untuk mendapatkan Surat Ijin Mengemudi (SIM) adalah usia 17 tahun. Sedangkan para siswa SLTP paling banter baru 14 atau 15 tahun. Fakta lain yang sering ditemui adalah para siswa yang membawa sepeda motor ke sekolah tidak lantas masuk sekolah pada awal waktu bel pelajaran pertama, namun justru mereka terlambat. Ini adalah gejala negatif yang membahayakan. Maka bagi sekolah-sekolah (tingkat SLTP) yang membolehkan siswanya membawa sepeda motor ke sekolah kiranya perlu juga meninjau ulang aturan yang telah terlanjur digulirkan. Demikian juga pihak berwajib (dalam hal ini pihak kepolisian) perlu juga memberikan tindakan tegas terhadap para siswa yang nekad membawa sepeda motor ke sekolah. Minimal sebagai schock terapy terhadap siswa lain agar tidak ikut-ikutan. Orang tua semestinya juga bisa mengerti bahwa aturan ini diberikan dengan satu tujuan demi anak-anak mereka, dan pada akhirnya demi mereka juga. Jika aturan ini ditegakkan sudah pasti angka kecelakaan lalu lintas di jalan raya akibat pelanggaran lalu lintas yang ditengarahi lebih dari 6o% dilakukan oleh para remaja bisa ditekan seminimal mungkin.
Remaja adalah kata yang mengandung beragam konotasi tergantung dari mana dan siapa yang memandangnya. Para remaja adalah harapan orang tua. Bahkan dalam lingkup yang lebih luas para remaja adalah harapan bangsa dan negara. Hal ini bisa dipahami sebab pada tangan merekalah nasib sebuah negara ditentukan. Remaja yang nota bene generasi akan datang adalah harapan sekaligus kenyataan yang tak bisa dipungkiri. Maka salah satu hal yang harus dilakukan adalah mempersiapkan diri mereka dengan karakter yang baik agar mereka pada saatnya benar-benar siap mengemban amanat yang dipikulkan di pundaknya.
Kritik dan kekhawatiran bukan jalan pemecahan yang baik, justru itu akan membentuk persepsi pada diri remaja sehingga mereka akan menjelma menjadi remaja-remaja apatis dan serba salah. Apalagi dengan munculnya berbagai anggapan miring dari sebagian kelompok masyarakat yang selalu dijejalkan ke telinga remaja tiap hari, bahwa remaja adalah biangnya sikap pemberontakan, tidak punya sopan santun, semau-maunya, tidak taat peraturan dan sejenisnya yang bermuara pada kesimpulan bahwa mereka adalah “anak-anak nakal”. Orang-orang dalam kelompok ini akan menjaga jarak dengan remaja-remaja karena berhubungan dengan mereka hanya akan menimbulkan masalah. Anggapan dan tindakan semacam ini justru akan membuat remaja semakin asyik dengan peer-group (kelompok sebayanya), dan semakin jauh dengan lingkungan sosialnya. Dan pada akhirnya mereka akan menciptakan dunia mereka sendiri dengan melakukan “aksi-aksi tidak lazim” untuk menunjukkan eksistensi diri dan kelompoknya, seperti pelanggaran tata tertib, bahkan tidak jarang pula melakukan tindakan kriminalitas.
Beda dengan kelompok masyarakat yang memiliki pandangan positif terhadap keberadaan remaja. Justru mereka berupaya keras untuk memaksimalkan peran remaja yang memang merupakan masa produktif karena mereka memiliki semangat dan energi luar biasa untuk berkreasi dan menghasilkan karya luar biasa pula, sesuai bakat dan minat mereka masing-masing. Pada prinsipnya mereka menganggap remaja adalah batu permata yang hanya memerlukan polesan agar kelihatan berkilau dan memiliki nilai jual yang tinggi pula. Memang butuh pengetahuan, pengalaman, ketrampilan, ketekunan, kepiawaian, keahlian dan kesabaran yang tinggi untuk dapat memolesnya menjadi permata yang jadi incaran setiap orang.
Memang, ada remaja yang mengabaikan aturan untuk melihat sampai sejauh mana mereka bisa lolos. Misalnya, jika orang tua mengatakan bahwa akan ada sanksi untuk suatu perbuatan salah, seorang remaja mungkin mencoba-coba melanggar batas itu untuk melihat apakah orang tuanya akan benar-benar melaksanakan apa yang dikatakan. Apakah remaja seperti itu adalah pemberontak yang keras kepala? Belum tentu. Faktanya, remaja lebih besar kemungkinannya melanggar aturan jika orang tua tidak konsisten dalam menegakkannya atau sewaktu batas tidak dibuat jelas. Remaja adalah masa berpetualang yang suka tantangan. Petualangan itu tidak jarang pula dirupakan dalam bentuk ‘mencoba-coba’ melanggar tata tertib. Siswa di sekolah misalnya, suka melakukan aksi pelanggaran untuk menunjukkan “inilah aku! berani mendobrak aturan!”. Remaja akan sangat takut dikatakan pengecut atau cemen oleh teman sebayanya ketika menjadi remaja baik-baik. Maka sering ditemui seorang remaja yang dulunya merupakan anak baik dan penurut, setelah mulai berkumpul dengan teman-teman dalam peer-groupnya, akhirnya menjelma menjadi remaja bandel, suka menentang, sulit diatur, berani terhadap guru, dan seabrek status negatif lainnya. Dan remaja seperti ini akan jauh lebih sulit dikendalikan dibanding remaja yang memang dari awalnya sudah memiliki ‘bakat’ sok pemberani.
Namun demikian, kita harus tetap positif thinking terhadap keberadaan remaja. Masih lebih banyak remaja smart yang memiliki kepedulian terhadap diri dan lingkungannya. Salah satu indikasi remaja smart adalah ketaatan mereka terhadap peraturan. Mereka tahu dan paham betul bahwa peraturan itu dibuat untuk menciptakan keteraturan, ketertiban, kedisiplinan, dan kebaikan. Dengan kondisi yang serba teratur, tertib, disiplin, dan baik inilah mereka bisa menikmati hidup dalam damai. Dan dalam kondisi damai inilah mereka bisa belajar dengan tenang, bisa kompetisi secara sehat untuk meraih prestasi, serta bisa bereksplorasi, berkreasi dan berinovasi. SUKSES REMAJA SMART!@

Thursday, 16 April 2015

Ibu; Satu Kata dengan Sejuta Makna

Ibu;Satu Kata Sejuta Makna

Ribuan kilo, jarak yang kau tempuh
Lewati rintangan demi aku anakmu
Ibuku sayang, masih terus berjalan
Walau tapak kaki, penuh darah penuh nanah
Seperti udara, kasih yang engkau berikan
Tak mampu ku membalas…
Ibu…ibu…

Cuplikan syair lagu yang pernah ditulis dan dipopulerkan oleh Iwan Fals, seorang penyanyi lagu-lagu balada di era 80-an tersebut benar-benar sangat menyentuh perasaan. Syair tersebut cukup mampu menggambarkan betapa besarnya arti seorang ibu bagi kita. Iwan sendiri ketika menciptakan lagu itu tentu sadar betul betapa berjuta sanjunganpun tak kan pernah mampu menggambarkan besarnya jasa seorang ibu.
Betapa tidak?!
Ibu kitalah yang telah bersusah payah selama sembilan bulan lebih mengandung kita dalam rahimnya. Semakin hari kandungan itu semakin besar hingga tidurpun tak bisa nyaman lantaran harus menanggung beban berat yang terus menggelayutinya. Seringkali juga selera makan pun jadi hilang gara-gara rasa mual yang sering mendera, namun betapapun lantaran kasih sayangnya kepada janin di kandungannya, sang ibu rela memaksa diri untuk tetap makan. Lalu tibalah detik-detik perjuangan bertaruh nyawa di ‘medan persalinan’ yang melelahkan. Tetesan keringat, darah dan air mata berbaur dengan jeritan dan nafas memburu, harap-harap cemas antara hidup dan mati.
Sudah cukupkah perjuangan ibu sampai di situ?
Ternyata belum!
Dari balita hingga remaja pun, kehadiran seorang ibu tidak bisa tergantikan. Menyusui, menyuapi, merawat, membimbing, menina-bobokkan, dan hampir semua pekerjaan berkenaan dengan si kecil, ibulah yang mengambil porsi paling besar. Ibu pulalah yang dengan telaten dan tekun mengajari si kecil mulai belajar ketawa, menyapa, berjalan hingga bisa berlari. Ibu tak pernah mengeluh ketika si kecil ngompol di tengah malam, ibu juga tak pernah marah ketika si kecil rewel padahal mestinya tubuhnya juga sangat penat karena harus mencuci, memasak dan seabrek urusan rumah yang melelahkan.
Maka sangat tepat kiranya penghargaan yang diberikan kepada seorang ibu. Rasululloh Muhammad SAW juga sangat menghargai keberadaan seorang ibu. “Sorga di bawah telapak kaki Ibu”, adalah sebuah ungkapan nan indah yang menggambarkan betapa sangat beruntungnya si anak jika saja ia bisa menghargai dan berbakti pada ibunya. Bahkan ketika Rasululloh SAW ditanya seorang sahabat tentang kepada siapa kita pertama kali harus berbakti? Rasululloh SAW dengan tegas menjawab “Ibumu!” dan jawaban itu diulang hingga tiga kali, kemudian baru Rasululloh SAW mengatakan “Bapakmu”. Subhanalloh! Betapa tingginya penghargaan Rasululloh SAW atas keberadaan seorang ibu. Pada sisi lain, jika seorang anak membuat sang ibu tidak ridlo (baca: marah), tentu laknat Allah akan mengancamnya. Ingat kisah nyata Al Qamah, seorang sahabat Nabi SAW yang cukup taat dalam beribadah kepada Allah. Ketika saat-saat menghadapi sakaratul maut, Al Qamah begitu tersiksanya dan seakan nyawa itu enggan meninggalkan raganya gara-gara Al Qamah masih memiliki ‘hutang’ kesalahan di masa lalu yang belum terbayarkan kepada ibunya akibat bujuk rayu istrinya. Baru setelah melalui nego yang alot, restu itu diperolehnya jua, dan akhirnya Al Qamah bias meninggal dengan mudah.

Selintas Sejarah Hari Ibu
Gema Sumpah Pemuda dan lantunan lagu Indonesia Raya yang digelorakan dalam Kongres Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928, menggugah semangat para pimpinan perkumpulan kaum perempuan untuk mempersatukan diri dalam satu kesatuan wadah mandiri. Maka pada tanggal 22-25 Desember 1928 diselenggarakan Kongres Perempuan Indonesia I di Yogyakarta,yang salah satu keputusannya adalah dibentuknya satu organisasi federasi yang mandiri dengan nama Perikatan Perkoempoelan Perempoean Indonesia (PPPI). Melalui PPPI tersebut terjalin kesatuan semangat juang kaum perempuan untuk secara bersama-sama kaum laki-laki berjuang meningkatkan harkat dan martabat bangsa Indonesia menjadi bangsa yang merdeka, dan berjuang bersama-sama kaum perempuan untuk meningkatkan harkat dan martabat perempuan Indonesia menjadi perempuan yang dinamis. Selanjutnya pada pada tahun 1929 Perikatan Perkoempoelan Perempuan Indonesia (PPPI) berganti nama menjadi Perikatan Perkoempoelan Istri Indonesia (PPII), yang pada tahun 1935 mengadakan Kongres Perempuan Indonesia II di Jakarta. Kongres tersebut disamping berhasil membentuk Badan Kongres Perempuan Indonesia, juga menetapkan fungsi utama Perempuan Indonesia sebagai Ibu Bangsa, yang berkewajiban menumbuhkan dan mendidik generasi baru yang lebih menyadari dan lebih tebal rasa kebangsaannya.
Pada tahun 1938 Kongres Perempuan Indonesia III di Bandung menyatakan bahwa tanggal 22 Desember ditetapkansebagai Hari Ibu. Selanjutnya, dikukuhkan oleh pemerintah dengan Keputusan Presiden Nomor 316 Tahun 1959 tentang Hari-Hari Nasional yang Bukan Hari Libur tertanggal 16 Desember 1959, yang menetapkan bahwa Hari Ibu tanggal 22 Desember merupakan salah satu hari nasional dan bukan hari libur. Tahun 1946 Badan ini menjadi Kongres Wanita Indonesia di singkat KOWANI, yang sampai saat ini terus berkiprah sesuai aspirasi dan tuntutan zaman.
Semangat perjuangan kaum perempuan Indonesia tersebut sebagaimana tercermin dalam lambang Hari Ibu berupa setangkai bunga melati dengan kuntumnya, yang menggambarkan: Kasih sayang kodrati antara ibu dan anak; Kekuatan, kesucian antara ibu dan pengorbanan anak; Kesadaran wanita untuk menggalang kesatuan dan persatuan, keikhlasan bakti dalam pembangunan bangsadan negara.
Jadi jelaslah bahwa menilik latar sejarahnya, peringatan hari ibu di Indonesia tidak mengacu pada Mother’s Day yang digemakan negara-negara Barat, biarpun ada kesamaan dalam kemasan penghargaan kepada wanita (ibu).

Wednesday, 18 March 2015

Go Green! Hijau Bumiku, Damai Jiwaku

Go Green!
Hijau Bumiku, Damai Jiwaku



ZAMRUD KHATULISTIWA; inilah julukan membanggakan yang disematkan pada negeri kita Indonesia tercinta. Penyematan ini bukan tanpa alasan. Konon ketika dilihat dari angkasa, gugusan kepulauan Indonesia terlihat nan hijau menyejukan mata bak batu Zamrud. Hal inilah yang kemudian membuat Indonesia dikenal sebagai Zamrud Khatulistiwa. Faktanya juga selaras, tanaman apa saja yang ditanam di tanah Indonesia bisa tumbuh. Bahkan tongkat kayupun bisa tumbuh di tanah Indonesia –demikian kata Koes Plus- Maka tak heran bila banyak negara tetangga yang iri akan kekayaan alam Indonesia, banyak dari mereka ingin menjajah Indonesia untuk mengambil hasil kekayaan alam Indonesia. Namun akankah sebutan membanggakan ini akan terus kita sandang?! Tentu jawabannya bisa iya bisa tidak! Tergantung kita, manusia Indonesia semua.
Jika hutan yang melingkupi Indonesia dari Sabang sampai Merauke sudah banyak yang gundul dan bopeng-bopeng, maka sudah pasti sebutan itu tak kan lagi pernah didengar anak cucu kita. Kepentingan segelintir orang yang suka mengeksploitasi alam Indonesia, dampak paling besar justru akan ditanggung warga sekitar yang tak tahu apa-apa. Hidup ini memang sangat bergantung pada alam, jika kondisi alamnya baik, maka kehidupan yang ada di dalamnya juga akan baik. Jika kondisi lingkungan alam sekitarnya asri, maka akan terasa nyaman dalam melakukan berbagai aktivitas. Sebaliknya, kondisi alam yang rusak selalu memberikan dampak negatif terhadap semua makhluk hidup di muka bumi ini. Telah banyak kita dengar dan kita baca tentang betapa mengerikannya musibah yang harus ditanggung manusia sebagai akibat dari rusaknya alam tempat bernaung. Maka tidak bisa ditunda lagi, semuanya harus menggelorakan semangat menjaga dan melestarikan alam. Para guru dan siswa harus punya itikad baik untuk menjaga lingkungan sekolahnya. Warga masyarakat juga harus perduli terhadap kelestarian lingkungan sekitarnya.
Menjaga dan memelihara keasrian dan keindahan alam memang bukanlah hal yang mudah. Namun ikhtiar nyata tetap harus dilakukan oleh siapapun. Menggunggah kesadaran diri sendiri, lalu menularkannya kepada orang-orang terdekat dan orang-orang sekitar, tanpa boleh merasa bosan. Ini juga merupakan bentuk nyata dakwah amar ma’ruf (mengajak kepada kebaikan). Upaya dalam menciptakan kondisi lingkungan yang asri nan hijau, merupakan suatu dukungan untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik. Biar pun hanya hal kecil yang dapat dilakukan, tetapi bisa memberikan andil besar untuk sebuah perubahan. Alam ini membutuhkan tangan-tangan yang bertanggung jawab yang dapat menjaga dan memanfaatkannya dengan baik, bukan mengeksploitasinya demi materi. Dengan adanya pohon di lingkungan sekitar kita memang rasanya bisa menyejukkan jiwa. Mata juga terasa sejuk, nafas serasa segar. Beda ketika kita berada di lingkungan yang gersang dan kotor. Jiwa rasanya ikut meradang, tinggalpun rasanya seperti terpenjara, membuat tidak nyaman.
Pencemaran tanah, air dan udara akibat teknologi ciptaan manusia faktanya memang sudah tidak bisa lagi dihindari. Maka dampak negatif dari itu semua akan ditanggung manusia sendiri. Al Qur’an juga telah menegaskan bahwa kerusakan alam adalah akibat perbuatan manusia sendiri, sebagaimana dinyatakan dalam surat Ar Rum ayat 41 yang artinya: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar).”
Maka tak ada lagi dalih untuk menghindar dari kesalahan itu. Manusia jualah yang juga harus berupaya maksimal meminimalisir atau kalau bisa menghambat cepatnya kerusakan alam. Bukankah Allah SWT juga telah memaklumatkan bahwa Allah telah memberikan mandat sepenuhnya kepada manusia atas pengolahan dan pengelolaan alam ini. Gelar “Khalifah” yang disematkan langsung oleh Allah SWT kepada manusia adalah sebagai bukti dari tugas dan tanggung jawab untuk mengolah dan mengelola alam ini. Dan tentunya tugas dan tanggung jawab tersebut kelak akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah.
Go green! Mari hijaukan bumi kita!
Slogan ini bukanlah slogan kosong yang hanya untuk diteriakkan atau ditulis di banner, lalu ditayang di mana-mana. Yang lebih penting dari itu adalah action (aksi nyata). Tidak perlu menunggu program menanam sejuta pohon dari pejabat atau Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Mari kita mulai saja dari lingkungan sekitar kita. Lingkungan rumah kita, lingkungan sekolah kita, lingkungan masyarakat kita, adalah lingkungan yang paling butuh perhatian. Banyak bunga yang bisa ditanam, atau pohon-pohon buah yang jika dikelola justru bisa memberikan hasil ganda; kesejukan dan nilai jual. Bukankah ini juga berarti menabung untuk generasi mendatang?!
Tak perlu tempat mahal. Kaleng bekas atau plastik bekas juga bisa dijadikan media tanam. Pemupukan juga bisa menggunakan kompos bikinan sendiri, kotoran ayam atau kotoran kambing, semuanya bisa jadi pupuk yang bagus untuk tanaman.
Nabi Muhammad SAW telah menyatakan dalam salah satu haditsnya: “Barang siapa menghidupkan bumi yang mati, maka bumi itu menjadi miliknya (HR. Tirmidzi)”. Makna mendalam dari hadits ini tentunya tidak harus diartikan secara tekstual namun yang lebih penting dari itu adalah bahwa Islam sangat menghargai orang-orang yang perduli terhadap kelestarian alam (lingkungan hidup). Maka apa lagi yang kita tunggu. GO GREEN! MARI HIJAUKAN BUMI KITA! Dan ayo kita senandungkan syair lagunya Crisye berikut:

Aku bahagia hidup sejahtera di khatulistiwa
Alam berseri-seri bunga beraneka
Mahligai rama-rama, bertajuk cahya jingga
Surya di cakrawala

S'lalu berseri alam indah permai di khatulistiwa
Persada senyum tawa, hawa sejuk nyaman
Wajah pagi rupawan burung berkicau ria
Bermandi embun surga

Reff:
Syukur ke hadirat yang maha pencipta
Atas anugerah-nya tanah nirmala
Bersuka cita, insan di persada yang aman sentosa
Damai makmur merdeka di setiap masa
Bersyukurlah kita semua
( bersatulah kita semua)

S'lalu berseri, alam indah permai di indonesia
Negeri tali jiwa hawa sejuk nyaman
Wajah pagi rupawan burung berkicau ria
Bermandi embun surga

Syukur ke hadirat yang maha kuasa
Atas anugerah-nya tanah bijana

Entri Populer