Google+ Followers

Friday, 4 December 2015

Sambut Tahun Baru 2016 dengan Rasa Optimis



Sambut Datangnya Tahun Baru 2016

dengan Rasa Optimis


Gerbang 2016 hampir kita masuki. Seperti tahun-tahun yang sudah, gempita menyambut hadirnya tahun baru tersebut sudah hampir pasti penuh nuansa. Sebagian orang bahkan telah memplaning acara menyambut datangnya tahun baru. Toko-toko swalayan, supermarket, hotel dan tempat-tempat wisata tak lupa menawarkan berbagai suguhan acara dengan berbagai kehebohannya. Sekedar tiup terompet, pesta kembang api, goyang dangdut, karnaval dan arak-arakan di jalan raya, semuanya mengatasnamakan perwujudan happy menyambut datangnya tahun baru. Sepertinya budaya Barat telah merasuk di hampir semua sendi masyarakat Indonesia. Budaya tersebut diadopsi begitu saja tanpa filter secara getok tular dari generasi ke generasi. Tak ada salahnya memang memanifestasikan rasa gembira dan bahagia dengan bersuka cita. Namun demikian tak sepenuhnya benar juga ketika manifestasi tersebut sampai melampaui batas, hingga bisa melupakan makna penting dibalik pergantian tahun tersebut.
Menyambut datangnya pergantian tahun dengan rasa optimis adalah gambaran nyata tentang karakter seseorang yang ingin menggapai sukses. Dan sebaliknya orang pesimis dan skeptis pasti memandang pergantian tahun tak lebih hanyalah perubahan angka yang tidak bermakna apa-apa. Tidak ada harapan lebih terhadap pergantian tahun. Ciri orang yang merugi adalah jika hari ini sama dengan hari kemarin, dengan kata lain tidak ada perubahan berarti dari hari ke hari, semuanya hanya stagnan alias jalan di tempat.
Sebagai generasi muslim yang tetap harus eksis di tengah arus kehidupan global sekarang ini, tentu kita tidak lantas hanya ikut arus. Kita harus tetap punya prinsip sendiri dalam menyikapi kehidupan, termasuk dalam menyambut datangnya pergantian tahun. Ikut menyambut datangnya pergantian tahun pada hakekatnya tidak ada larangan tegas baik menyangkut tahun baru Muharram maupun tahun baru Masehi yang dalam sejarahnya memang dicetuskan oleh tokoh non muslim. Kebolehan itu didasarkan pada kemafhuman bahwa tahun baru Masehi sudah berlaku umum dan tidak lagi diidentikkan dengan satu agama tertentu. Dalam kemasan ini tentu acara penyambutan tersebut tidak boleh mengandung unsur ritual keagamaan atau pengkultusan dan pemujaan.
Hal lain yang harus diperhitungkan pada penyambutan tahun baru adalah unsur kemanfaatan dan kemadharatan. Menyulut mercon atau petasan untuk meramaikan tahun baru adalah salah satu contoh perbuatan yang bisa menjadi kesia-siaan, karena tidak ada manfaat yang bisa kita ambil atas perayaan berlebihan seperti itu. Arak-arakan di jalan protokol dengan iring-iringan sepeda motor yang memekakkan telinga, juga bukan perbuatan yang mencerminkan jiwa-jiwa islami. Selain sudah pasti melanggar  aturan lalu lintas dan mengganggu ketertiban umum, juga bisa membahayakan diri sendiri dan orang lain.
Daripada membahayakan diri dan orang lain di jalanan, bukankah lebih baik kita gunakan untuk bermuhasabah atau mengevaluasi diri sendiri. Lalu hasil muhasabah itu kita jadikan bahan refleksi untuk acuan langkah di 2016 yang akan datang. Apa yang sudah kita capai sejauh ini, apa yang harus diperbaiki dari setahun ke belakang, apa pula yang ingin kita capai setahun ke depan. Dengan itu, semoga kita semakin termovitasi untuk meninggalkan apa yang buruk di tahun lalu, dan semakin memperbaiki upaya untuk pencapaian yang lebih baik di tahun 2016 mendatang.
10…9…8…7…6…5...4…3…2…1... “SELAMAT TAHUN BARU 2016”. Life must go on!” -hidup harus terus bergulir- Semoga kita terhindar dari perbuatan sia-sia yang tidak disukai Allah Ta’ala. Aamiin...

Post a Comment

Entri Populer