Google+ Followers

Saturday, 18 May 2013

Lepas Menggapai Cita (Refleksi Hari Perpisahan)


Lepas Menggapai Cita

(Refleksi Hari Perpisahan)


Kata pelepasan sebenarnya sinonim dengan kata perpisahan. Namun setelah dicermati lebih dalam, makna tersirat dari kedua kata tersebut justru mengandung makna antonim. Kata perpisahan lebih berkonotasi kesedihan dan kedukaan karena setelah perpisahan itu akan ada jarak yang memisahkan, baik secara fisik material maupun secara batiniah. Ketika kata pisah itu diucapkan maka sudah pasti akan memunculkan rasa kehilangan.
Sedangkan kata pelepasan, menyiratkan sebuah harapan akan adanya ruang lapang baru yang bisa membuat seseorang bisa memulai cerita baru, menebar harapan baru, atau juga melanjutkan langkah meraih cita-cita pada tahap yang lebih nyata dan semakin mendekati wujud dari mimpi-mimpi yang telah terbangun pada tahap sebelumnya.
Semua orang pasti punya angan dan impian untuk bisa hidup lebih baik dari hari ke hari. Orang bijak bilang, “orang beruntung adalah orang yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan besok lebih baik dari hari ini”.
Pelepasan bagi segenap siswa-siswi kelas 9 (SMP/MTs) dan kelas 12 (SMU/SMK/MA), tentu akan bermakna positif selaras dengan kalimat bijak tersebut jika saja kita bisa memaknainya dengan positif pula. Perjalanan yang telah dilalui sudah cukup jauh, namun perjalanan yang akan ditempuh selanjutnya masih teramat jauh untuk bisa membuka pintu sukses di masa depan.
Memang, sekolah formal bukan satu-satunya majelis ilmu. Namun siapapun pasti mafhum bahwa sekolah/madrasah menjadi satu-satunya lembaga ilmu yang paling nyata dan terkelola dengan baik. Dari membaca bisa didapat ilmu, dari mendengar bisa didapat ilmu, dari merasa bisa didapat ilmu, bahkan dari “diam” pun bisa didapat ilmu. Ada orang sukses yang tidak berangkat dari lembaga pendidikan formal yang tinggi. Namun kelompok mereka ini dapat dihitung dengan jari. Dan yang pasti hanya orang-orang ulet dan tak kenal menyerahlah yang bisa masuk kelompok ini. Sedangkan jumlah mereka yang sukses lantaran pendidikan formal yang memadai prosentasenya jauh lebih banyak dan merata di berbagai sektor kehidupan dan profesi; politik, ekonomi, sosial, budaya, kesenian, pendidikan, kesehatan, dan teknologi informasi komunikasi.
Kunci dari kesuksesan adalah ILMU. Tidak ada yang lain. Maklumat ini jauh hari sudah disampaikan baginda Rasulullah SAW, “Jika kita ingin meraih sukses di dunia, maka raihlah dengan ilmu. Jika kita ingin meraih sukses di akherat, raihlah dengan ilmu. Dan jika kita ingin meraih sukses kedua-duanya (dunia dan akherat) maka raihlah dengan ilmu”.  
Allah SWT  juga telah berjanji dengan sangat tegas dalam Al Qur’an surat al Mujadalah ayat 11: “Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman dan berilmu di antara kita beberapa derajat”.
Allah tidak pernah mendikotomikan tentang ilmu agama dan ilmu umum. Artinya bahwa semua ilmu itu sumber asalnya hanya satu yaitu Allah semata. Maka tingkat kesuksesan itupun tidak pernah diukur dari seberapa besar ilmu agamanya, atau sebaliknya seberapa banyak ilmu umumnya. Semua sudah punya maqamnya sendiri-sendiri sesuai fitrah keberadaannya, itulah yang disebut profesional. Profesional mensyaratkan pada penguasaan kompetensi atau keahlian tertentu, dan itu hanya bisa dikuasai oleh orang-orang yang berilmu.
Maka bukan saatnya lagi acara pelepasan dijadikan ajang bertangisan dan tukar kedukaan. Justru moment ini mestinya dapat dijadikan ajang untuk saling memotivasi dan saling mendo’akan kesuksesan. Dan selanjutnya moment pelepasan ini bisa kita jadikan start ajang pembuktian terhadap canda tawa dan celoteh kita ketika masih berbagde almamater sekolah/madrasah tercinta. Baca di album yang tengah kalian genggam, bukankah di antara kalian ada yang ingin jadi dokter, insinyur, pilot, teknisi handal, anstronot, presiden, birokrat, penulis tenar, rektor, guru, petani sukses, nelayan ulung, dan seterusnya. Jadi segera MULAI DARI SEKARANG untuk berlari menggapai cita-cita itu.
Silaturrahmi tetap bisa saling terjaga baik lewat komunikasi darat (langsung) maupun lewat dunia maya (internet). Bukankah kalian punya Ikatan Alumni? Bukankah kalian punya group facebook atau twiter? Jadi kenapa mesti sedih?!





Post a Comment

Entri Populer