Google+ Followers

Monday, 15 October 2012

Pahlawan bukan sekedar sebuah sebutan


Pahlawan; Bukan Sekedar Sebuah Sebutan

 

Tanggal 10 Nopember sudah sangat popular di kalangan bangsa Indonesia yang cinta tanah air sebagai hari Pahlawan. Pada tiap tahun pula, kita bangsa Indonesia selalu memperingatinya. Namun sejauh manakah peringatan tersebut mampu menggunggah kita untuk mewarisi jiwa patriotisme para pahlawan bangsa tersebut? Lalu apakah makna peringatan itu bagi kita? Sekedar acara seremonialkah atau sudah mampu membawa kita pada pemaknaan hakiki tentang arti kepahlawanan.
65 tahun silam Brigadir Jendral Mallaby tewas di Surabaya dalam sebuah bentrokan antara tentara Sekutu dengan arek-arek Surabaya. Atas peristiwa tewasnya Mallaby tersebut kemudian pada tanggal 9 Nopember 1945 pimpinan Sekutu mengeluarkan ultimatum yang memerintahkan semua pimpinan dan orang-orang Indonesia yang bersenjata harus melapor dan meletakkan senjatanya di tempat-tempat yang telah di tentukan dan selanjutnya menyerahkan diri dengan mengangkat tangan diatas kepala. Ultimatum itu tidak dihiraukan rakyat Surabaya walaupun deadline yang diberikan hanya sampai pukul 06.00 tanggal 10 Nopember. Arek-arek Suroboyo dengan jiwa patriotisme yang pantang menyerah dengan senjata seadanya bertempur habis-habisan dengan semboyan "Merdeka ataoe Mati!!" melawan tentara Sekutu. Bung Tomo  dengan suara menggeledek bak halilintar mengalunkan gema takbir "Allahu Akbar!!!" membangunkan arek-arek Suroboyo. Mereka akhirnya bangkit, bersatu padu, menyatukan tekad mengusir Sekutu yang ingin merampas kemerdekaan bangsa Indonesaia yang baru saja diproklamirkan oleh dwi-tungal Soekarno – Hatta. Sekutu ingin kembali menjajah dan menjarah  kekayaan negeri kita ini dengan congkaknya. Pertempuran yang tidak seimbang itu akhirnya dimenangkan oleh arek-arek Suroboyo. Ketika itu tidak terhitung lagi berapa korban nyawa yang syahid di medan laga. Dan pemerintah kemudian menetapkan bahwa tanggal 10 Nopember sebagai “Hari Pahlawan“.
Itulah sekelumit kisah sejarah tentang ditetapkannya 10 Nopember sebagai hari pahlawan.
Jika kita baca betapa para pejuang kemerdekaan dulu telah rela sepenuh hati meninggalkan keluarga dan orang-orang tercinta demi menggapai sekelumit kemerdekaan yang sangat didambakan bangsa Indonesia. Mereka tidak lagi mengharap imbalan dan tidak perlu lagi perhitungan untung rugi maju ke medan laga, menghadapi desing peluru dan tembakan meriam tentara musuh  biar pun maut datang menjemput. Mereka berjuang sebagai panggilan jiwa dan pengabdian diri terhadap bangsa dan negara Indonesia. Mereka telah menghayati arti kewajiban bela Negara.  Jiwa patriotis dan nasionalis telah terpatri dan tertanam dalam diri sehingga tidak lagi takut menghadapi ancaman dan teror senjata,  apalagi iming-iming materi dan imbalan jasa serta pertimbangan untung rugi.
Setiap tahun kita mengenang jasa para pahlawan. Namun terasa, mutu peringatan itu menurun dari tahun ke tahun. Kita sudah makin tidak menghayati makna hari pahlawan. Peringatan yang kita lakukan sekarang cenderung bersifat seremonial. Atau bahkan kita tidak lagi merasa perlu lagi memperingati hari pahlawan tersebut dan tidak perlu lagi mengenang jasa-jasa para pahlawan karena menganggap sudah bukan jamannya lagi?! Betapa naifnya kita jika punya anggapan seperti itu.
Memang, sekarang bukan jamannya lagi maju ke medan laga dengan membawa bambu runcing, keris, pedang, tombak dan sejenisnya. Namun tugas kita saat ini adalah memberi makna baru kepahlawanan dan mengisi kemerdekaan sesuai dengan perkembangan zaman. Saat memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan, para pahlawan telah mengorbankan jiwa dan raganya untuk mewujudkan cita-cita kemerdekaan. Dan sekarang, di saat kemerdekaan itu telah dapat mereka persembahkan, maka menjadi tanggung jawab kitalah sebagai generasi penerus perjuangan bangsa untuk mengisi kemerdekaan itu.
Di alam kemerdekaan ini pun kita sangat butuh pahlawan. Bukankah arti pahlawan itu adalah orang yang mampu menjadi pelopor dan memiliki keberanian untuk berkorban tanpa pamrih dalam membela kebenaran? Bukankah makna pahlawan itu adalah pejuang gagah berani yang tidak sekedar mengharap imbalan? Dan ternyata jika kita cermati pada situasi sekarang, berapa banyak orang yang bisa kita temukan di lingkungan sekitar kita yang pantas disebut sebagai pahlawan, padahal begitu banyak orang yang berkoar-koar sebagai seorang yang pahlawan. Mereka itu barangkali lebih pantas disebut sebagai pahlawan kesiangan  yaitu pahlawan yang muncul ketika kesulitan sudah terlewati. Atau pahlwan karbitan yaitu pahlawan yang muncul karena pamrih jabatan dan kedudukan. Atau sok pahlawan yaitu orang yang menganggap diri paling hebat, paling benar dan paling pintar sehingga tidak pernah mau mendengar pendapat dan saran orang lain, egois dan suka meremehkan orang lain.
Setiap orang harus berjuang untuk menjadi pahlawan. Setiap hari kita harus berjuang paling tidak menjadi pahlawan bagi diri kita sendiri, bagi keluarga dan orang-orang di sekitar kita. Artinya, kita harus berusaha menjadi manusia yang baik dan selalu berupaya meningkatkan kualitas hidup kita masing-masing sesuai dengan bidang yang kita tekuni.
Disadari atau tidak, kemerdekaan yang kita rasakan saat ini adalah warisan para pejuang tempo dulu. Kemerdekaan kita adalah kemerdekaan “ temuan “ tanpa bersusah payah untuk mendapatkannya. Mengingat kenyataan ini, akankah kita mendustai warisan kemerdekaan para pejuang? ataukah pula kita akan melupakan momentum hari pahlawan?
Warisan adalah sebuah amanat, dan amanat senantiasa harus dijaga dan pelihara, sebab bila warisan kemerdekaan tidak lagi terpelihara bisa dipastikan apa yang terjadi di 65 tahun silam akan terulang lagi saat ini. Begitu pula momentun hari pahlawan tidak boleh kita lupakan karena kejadian bersejarah tersebut telah menghantarkan kita pada arah yang lebih maju. Karena itu demi mengisi kemerdekaan yang kita genggam saat ini, mari bersama-sama berjuang agar tidak menjadi bangsa yang terbelakang. Apalagi bagi para remaja yang nota bene adalah generasi penerus perjuangan bangsa. Seharusnya lebih tekun dalam belajar dan belajar, bukan justru melakukan hal-hal yang kontra produktif dengan membentuk kelompok dan komunitas (baca: geng) yang tak jelas arah dan tujuannya, yang hanya membuat keresahan di masyarakat dengan kebut-kebutan di jalan raya, mabuk-mabukan, pesta pora dan hura-hura serta tawuran massal. Pasti para pahlawan pewaris kemerdekaan negeri ini akan menangis pilu melihat ulah anak-anak bangsa yang mestinya diharapkan dapat meneruskan estafet perjuanganm mereka.
Lalu menjadi tanggung jawab siapakah untuk menyadarkan para anak bangsa tersebut? Tentu saja  semua elemen masyarakat harus bergerak bersama, mencari solusi bersama dan melakukan eksyen (tindakan nyata) sesuai dengan bidang dan keahliannya  masing-masing, sehingga harapan untuk mewujudkan  "baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur" yang kita idam-idamkan benar-benar bisa menjadi kenyataan.(Safa')

Post a Comment

Entri Populer