Popular Posts

Saturday, 15 September 2012

Makna Peringatan Kemerdekaan


Meretas Makna Peringatan Kemerdekaan

(Inspirasi bagi Kaum Muda)

67 tahun sudah Indonesia merdeka. Itu berarti 67 tahun sudah kita bisa merasakan kehidupan bebas, terlepas dari kungkungan dan penindasan kaum penjajah. Kita yang hidup di jaman sekarang (pasti) hanya bisa mendengarkan “kisah tragis” tentang penderitaan dan kesengsaraan akibat dari penindasan dan kekejaman para imperialis dan kolonialis tersebut dari kakek dan nenek kita yang barangkali sekarang sudah sangat renta. Namun beliau itu masih begitu semangatnya ketika kita minta untuk bercerita tentang kisah hidupnya tempoe doloe. Seakan usia mereka masih muda belia dan seakan pula mereka masih berada di medan laga, menenteng senjata seadanya.
Kini, setelah enam puluh tuju tahun berlalu, kita seringkali melupakan perjuangan dan pengorbanan para pahlawan bangsa tersebut. Bahkan seringkali pula kita tertawa sinis ketika diajak mengenang jasa para pahlawan bangsa. Mungkin hal itu karena kita memang tidak merasakan penderitaan seperti yang mereka rasakan.
Seringkali pula ketika kita diajak untuk sekedar memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) kemerdekaan, kita sudah buru-buru apatis dan menganggap itu tidak penting. Coba saja kita lihat jalannya pelaksanaan upacara mengenang detik-detik proklamasi (seperti yang kita laksanakan pada tanggal 17 Agustus yang lalu), banyak dari peserta upacara yang hanya bergurau dan bersikap seenaknya. Bukan hanya pada peserta remaja (para siswa), bahkan virus ini juga banyak menjangkiti orang-orang dewasa (baca: para PNS/Guru) yang mestinya bisa dijadikan contoh dalam bersikap dan bertindak. Namun toch kenyataannya masih ada yang bersikap indisipliner dan semau-maunya. Itu tercermin dari sikap siap yang jauh dari sikap sempurna, sikap menghormat bendera yang tidak sepenuh hati. Bahkan ada pula yang dengan alasan kepanasan lalu buru-buru mencari tempat berteduh di pinggir lapangan, padahal mestinya hanya dalam kurun waktu tidak lebih satu jam, kita mampu bertahan jika diniatkan dengan sungguh-sungguh. Bukankah ini merupakan salah satu cerminan ketidakdisiplinan itu? Saya jadi berandai-andai jika saja orang-orang seperti ini hidup pada masa revolusi, apa jadinya negeri ini, barangkali saja para penjajah yang rakus itu masih bercokol di negeri kita yang gemah ripah loh jinawi ini dan kita tidak akan pernah merasakan segarnya alam kemerdekaan.
Apa sich makna dari peringatan kemerdekaan itu?
Barangkali pertanyaan inilah yang sering menggelayuti benak kita. Padahal jika saja kita mau merenungkan tentang makna peringatan itu, kita akan mendapatkan inspirasi yang dapat membuat kita sukses, setidaknya akan dapat merubah hidup kita menjadi lebih baik dan kita bisa menatap masa depan dengan penuh optimis.
Ada 5 insipirasi setidaknya yang bisa kita ambil dari makna peringatan kemerdekaan itu, yakni: 
Pertama;dengan kita mengadakan peringatan itu, kita akan bisa meneladani sikap ikhlas dari para pahlawan. Para pahlawan bangsa telah berjuang dengan taruhan jiwa dan raganya. Bukan karena mengincar posisi jabatan atau pangkat tertentu. Bukan pula karena dijanjikan harta dan kekayaan. Mereka benar-benar ikhlas mempertaruhkan segala yang dimiliki demi terbebasnya negeri ini dari kungkungan kaum penjajah dan penjarah. Bukan untuk yang lain.
Kedua; dengan mengadakan peringatan kemerdekaan itu, kita akan bisa meneladani sikap patriotisme dan pantang menyerah. Seorang patriot sejati pastilah punya keberanian untuk memperjuangkan apa yang diyakininya benar biarpun dengan fasilitas terbatas. Coba baca kembali sejarah perjuangan revolusi betapa hanya dengan senjata seadanya (keris, bambu runcing, pedang dan semacamnya), mereka begitu bersemangat, ulet dan pantang menyerah kepada pihak musuh, sehingga pada masa itu muncul motto perjuangan yang sangat populer “Merdeka ataoe Mati!”. Padahal di pihak musuh telah siap moncong senapan dan tank yang siap menyalak, meluluhlantakkan jiwa dan raga mereka. Allahu Akbar!
Ketiga; dengan mengadakan peringatan itu kita bisa memiliki arah cita-cita yang jelas. Para pahlawan bangsa telah memiliki satu tekad dan cita-cita mulia yakni Merdeka! Mereka fokus dalam setiap waktu untuk meraih cita-cita mulia tersebut. Apapun yang mereka lakukan hanya demi raihan cita-cita luhur pembebasan ibu pertiwi (Indonesia) dari penjajahan bangsa asing. Ini adalah sebuah cita-cita besar. Dan hanya orang-orang yang memiliki cita-cita besarlah yang akhirnya bisa meraih keberhasilan. Sebab dengan cita-cita besar itulah kita bisa belajar dan bekerja dengan tekun, tidak mudah terpengaruh keadaan, teguh pendirian, tidak mudah putus asa ketika menghadapi derita dan cobaan. Ingat! Kesuksesan bukanlah milik orang-orang cemen yang gampang putus asa dan tidak percaya diri (minder).
Keempat; dengan mengadakan peringatan itu kita bisa memetik pelajaran bahwa dalam sebuah perjuangan pastilah dibutuhkan pengorbanan. Perjuangan untuk meraih cita-cita tidak akan mungkin dapat terwujud bila kita tidak mau berkorban. Pengorbanan materi, waktu, tenaga, pikiran, perasaan bahkan jiwa dan raga kita. Pada saatnya kita juga tidak hanya berkorban untuk diri kita sendiri namun juga harus rela berkorban untuk kepentingan orang banyak sebab pada prinsipnya kita tidak akan pernah bisa hidup tanpa keberadaan orang lain.
Kelima; dengan mengadakan peringatan itu kita akan bisa memiliki rasa bangga terhadap bangsa dan negara kita Indonesia. Para pahlawan bangsa adalah orang-orang besar yang sangat diperhitungkan di belahan bumi. Baca biografi Soekarno, Bung Hatta, Bung Tomo, Hamka, Wahid Hasyim dan deretan nama-nama pahlawan kita. Mereka begitu disanjung dan dihormati oleh bangsa-bangsa dunia. Jadi, mengapa kita sendiri justru tidak bangga menjadi warga Indonesia?
Itulah sekelumit refleksi makna peringatan HUT Republik Indonesia ke 67. Walhasil, setiap jaman sebenarnya selalu menyediakan tantangan dan kesempatan bagi setiap orang untuk melakukan tindakan-tindakan besar dan tindakan-tindakan bermakna. Namun hanya orang-orang yang memiliki cita-cita besarlah tantangan dan kesempatan itu ada, yaitu bagi orang-orang yang  bekerja dan berkarya tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga bagi kebaikan orang lain. Bukankah “khairun naas anfa’uhum lin naas” sebaik-baik manusia adalah manusia yang bermanfaat bagi sesamanya?
Post a Comment

Entri Populer